Panggung fashion show bermotif batik raih MURI

Rabu, 07 Juli 2010 | 15:43 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Batik, kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan menjadi bagian warisan budaya Indonesia, kini semakin dilestarikan dan dikembangkan dengan menghasilkan beragam produk motif batik. Mulai fashion, handicraft, sepatu atau sandal batik, Home Equipment, cashing handphone, lukisan batik juga produk lainnya.

Kini, panggung fashion bermotif batik pun dipamerkan. Sang kreator, Fajar Adi dari Rumah Kampung dekor mempertontonkan idenya pada Wedding Expo 2010 di Hotel Bidakara Jakarta.

Hasil karya kreatif dengan membuat panggung batik bermotif batik Parang dan Sidomukti, berdiameter panjang 15 meter x tinggi 8 meter, mendapat penghargaan dari Museum Record Indonesia (MURI).

Penghargaan yang diberikan langsung Ketua MURI, Jaya Suprana karena dinilai selain idenya kreatif, original, dan belum pernah dibuat di penjuru dunia. "Pembuatan panggung dengan

motif batik, berhasil memecahkan rekor dunia dan masuk museum record Indonesia (MURI)," ungkap Jaya Suprana.

Jaya menilai Indonesia ini perlu sebuah kebanggaan. Bukan hanya Kebangkitan Nasional, tapi Kebanggaan Nasional. Momen panggung bermotif batik, bisa membangkitkan kebanggaan bangsa kita. Karena, ini sangat indah dan membanggakan.

"Saya jamin di dunia ini gak ada yang seperti ini. gak ada itu di India, Cina dan Amerika memiliki kreatifitas dengan bahan batik untuk beragam produk. Jadi kita harus bangga, karena memiliki selera dan yang berbeda dan diakui oleh dunia," ungkap Jaya bangga.

Fajar Adi, dari Rumah Kampung dekor mengatakan jika pembuatan panggung batik ini, idenya sangat sederhana dari beberapa teman-teman, Mas Tomy dari manten house, dari hotel Bidakara juga saya. Batik kan sedang jadi ikon, dapat pengakuan UNESCO yang merupakan karya bangsa Indonesia, sehingga perlu ada apresiasi batik dalam bentuk lainnya," kata Fajar di Jakarta, Selasa (7/7/2010)

Diakuinya, ide awal pembuatan panggung dilakukan bukan untuk mendapatkan rekor MURI. Namun sebagai apresiasi terhadap Indonesia terhadap batik, agar warisan budaya bangsa tetap

dilestarikan, dijaga dan terus dikembangkan dengan berbagai produk.

"Karenanya, jika panggung batik ini dibilang rekor dunia, buat kita sangat membanggakan lah. Ini batik kontemporer, batik jaman dulu," kata Fajar penuh semangat.

Fajar menambahkan panggung fashion bermotif batik ini, pengerjaannya selain olehnya juga dibantu tukang kayu. Dengan mengajarkan tukang kayu bagaimana cara melukis batik yang baik dan benar, ternyata hasilnya sangat artistik, menarik dan unik.

Selain Fajar, penghargaan MURI juga diberikan pada Tomy dari Manten House dan Hotel Bidakara. Mengingat, mereka sebagai pencetus ide yang hanya digarap selama sebulan. Kbc10

Bagikan artikel ini: