Telkomsel bangun Kampung Bebek di Bantul

Kamis, 19 Maret 2009 | 15:40 WIB ET

YOGYAKARTA: Telkomsel memberikan bantuan bergulir senilai Rp450 juta bagi pembangunan Kampung Bebek di Bantul, Yogyakarta, sebagai corporate social responsibility (CSR). Dana sebesar itu digunakan untuk membangun 48 kandang dan pemberian 2.640 ekor bebek.

Program tersebut merupakan kerjasama dengan PT Kampoeng Kearifan Indonesia (KKI) yang didukung Pemerintah Kabupaten Bantul, Joglo Tani dalam pelatihan dan pendampingan petani.

Direktur Keuangan Telkomsel Triwahyusari mengatakan, lembaganya mengembangkan program itu untuk mendukung masyarakat dalam memaksimalkan potensi daerahnya, baik dari sisi pertanian, perikanan, dan peternakan.

"Program ini merupakan pemberdayaan bagi masyarakat dari 24 keluarga, dengan kegiatan yang kemahiran pokoknya telah dimiliki, yaitu pemeliharaan unggas bebek," katanya di sela peresmian Kampung Bebek di Bantul, Kamis (19/3/09).

Kelompok usaha tani yang mendapatkan bantuan adalah kelompok Tani Wanita Bangi Mandiri, Bantul. Program tersebut dijalankan oleh ibu rumah tangga dengan usia produktif 17 tahun - 40 tahun. Program itu juga mampu mendongkrak pendapatan petani hingga Rp1 juta per bulan.

Program itu sekaligus untuk menjawab tantangan sektor pertanian di Indonesia yang sedang menghadapi pelbagai permasalahan, seperti makin terbatasnya lahan pertanian, praktik monokultur tanaman pangan, melambungnya biaya sarana produksi pertanian, seperti bibit dan pupuk, dan kurangnya akses terhadap pasar yang memberikan harga jual yang baik dan stabil.

"Bantuan ini diharapkan mampu menggairahkan perekonomian setempat, dimana pemberdayaan masyarakat yang bersifat mandiri akan memberikan efek domino kepada lingkungan sekitarnya, sehingga kualitas hidup masyarakat bisa lebih baik," ungkapnya.

Usaha bebek dipilih karena produktivitas telur per harinya tinggi, sehingga memiliki arus kas yang baik.

Selain itu, usaha tersebut juga tidak banyak memerlukan tenaga dan waktu, bisa dijadikan usaha sampingan, mudah dipasarkan dan harganya stabil, serta bisa dikembangkan menjadi usaha bernilai tambah, seperti telur asin, penetasan, indukan bebek, bebek pedaging, dan wisata bebek.

Sejak beroperasi mulai Januari lalu, Kampung Bebek Bantul mampu menghasilkan rata-rata 1.500 butir per hari. Selain itu, kelompok usaha itu juga mampu meproduksi 2.000 telur asin dan 1.500 bebek usia 40 hari yang siap dipasarkan.

Inovasi pemberdayaan masyarakat itu diharapkan mampu memberikan diverdifikasi pendapatan bagi petani, memiliki efisiensi dan produktivitas hasil pertanian dengan laba usaha yang layak, memberi nilai tambah dan kemandirian, dan kecukupan usaha yang dapat meningkatkan daya saing dan posisi tawar petani. (kb3)

Bagikan artikel ini: