loading...
Kategori
Aneka BisnisTop Figure
Mode Baca

Karen Agustiawan, Srikandi pertama pemimpin Pertamina

Online: Jum'at, 06 Februari 2009 | 00:27 wib ET

Sejumlah kalangan, akhir pekan ini terkejut dengan keputusan pemerintah yang memilih Karen Agustiawan memimpin perusahaan besar seperti PT Pertamina. Tak heran, sejumlah keraguan mengiringi langkah Karen saat dilantik Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil menjadi Direktur Utama PT Pertamina, Kamis (5/2).

Lahir di Bandung, 19 Oktober 1958, Karen menamatkan sarjana S-1 di Fakultas Teknik Fisika ITB Bandung dan langsung memulai karir sebagai sistem analis dan programer di Mobil Oil Indonesia (MOI) pada 1984.

Tak perlu waktu lama, tepatnya tiga tahun kemudian, Karen menduduki posisi sebagai seismic processor dan quality controller MOI. Cahaya karir Karen nampak ketika pada periode 1989-1992, ditarik ke kantor pusat Mobil Oil di Dallas, Amerika Serikat.

Kembali ke tanah air, Karen menduduki posisi project leader exploration computing department MOI hingga 1999. Pada 2000, perempuan berusia 50 tahun ini bergabung di Landmark Indonesia sebagai business development manager.

Tak puas dengan jabatan manajer pengembangan bisnis Landmark Indonesia, Karen pindah ke Halliburton Indonesia. Di perusahaan global yang memproduksi peralatan eksplorasi dan servis di bidang minyak dan gas bumi itu, Karen menjabat sebagai commercial manager for consulting and project management.

Pengalaman di bidang migas ini membuat Karen dilirik Menneg Sofyan Djalil untuk menduduki posisi staf ahli Pertamina bidang hulu selama periode 2006-2008. Bintang Karen makin bersinar di Pertamina ketika pada 5 Maret 2008 diangkat sebagai Direktur Hulu dan akhirnya menggapai posisi tertinggi sebagai perempuan pertama yang memimpin Pertamina.

Usia Karen yang sebaya dengan Pertamina memang cukup fenomenal. Ia harus memimpin BUMN migas nasional yang memiliki fungsi strategis bagi kelangsungan pemerintahan. Segudang persoalan yang selalu dihadapi Pertamina telah menghadang Karen.

Bahkan seorang Ari H. Soemarno yang cukup berpengalaman pun tidak sanggup menyelesaikan masalah-masalah di Pertamina. Mulai sebagai public service obligation (PSO) dalam penyediaan bahan bakar minyak bersubsidi, konversi minyak tanah ke elpiji, hingga masalah pengelolaan migas untuk mengisi pundi-pundi anggaran pemerintah.

Dari track record karir Karen di sektor migas, banyak kalangan meragukan kapasitas alumni ITB angkatan 1978 ini. Karen dinilai hanya matang di sektor hulu migas, sementara untuk urusan Dirut Pertamina, justru sektor hilir migas yang paling sering menjadi batu sandungan kinerja.

Menurut sumber itu di lingkungan Pertamina, nama Karen telah diajukan ke Menteri BUMN Sofyan Djalil. Karen bersaing dengan sejumlah nama antara lain Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ahmad Faisal, mantan Senior Country Officer JP Morgan Indonesia Gita Wirjawan, dan mantan Kepala BP Migas Kardaya Warnika.

Mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Erry Riyana Hardjapamekas serta mantan Menteri Pertambangan dan Energi Kuntoro Mangkusubroto.

Seusai dilantik, Karen mengaku sudah menyiapkan enam langkah prioritas. Keenam langkah itu adalah melaksanakan Rencana Pengembangan Jangka Panjang (RPJP) Perusahaan, program utama setiap direktorat, aspek distribusi dan keamanan pasokan, prioritas penguasaan sektor hulu, percepatan transformasi dan menjaga integritas, jujur serta terbuka melakukan inovasi di tubuh Pertamina.

“Saya siap menjalankan amanah ini sebaik mungkin,” kata Karen singkat.

Selain itu, dia juga berjanji untuk memprioritas faktor security of supply dan masalah peningkatan sektor hulu yang selama ini memberi kontribusi cukup besar kepada Pertamina. (dumas/kb2)

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda
Kurs USD-IDR
11/22/2014
12.155
IHSG
11/21/2014
5.112,05
18,48 (0,36%)