loading...
Kategori
This Week Issue
Mode Baca

Benahi kinerja, Merpati masih dirongrong orang dalam

Online: Rabu, 13 April 2011 | 23:46 wib ET

TAK ADA ANGIN TAK ADA HUJAN tiba-tiba Indra Topan, ketua Serikat Pekerja PT Merpati Nusantara Airlines, memberikan pernyataan mengejutkan. Maskapai penerbangan pelat merah ini, tuding Topan, dalam tiga bulan ke depan bakal kolaps. Akibat buruknya manajemen yang dijalankan, terus mengalami kerugian, banyaknya tunggakan biaya yang harus dibayar. Pertamina mengembargo tak suplai avtur karena Merpati belum bayar utang. Juga, pihak leasor bakal menarik pesawat yang disewa Merpati. Intinya tak ada perbaikan kinerja di Merpati, sehingga manajemen harus dirombak.

Tak lama kemudian, muncul berita yang tak mengenakan dari Asosiasi Pilot Merpati (APM) yang mengungkapkan pilot Merpati resah dan mengancam keluar. Bahkan kini tengah mempertimbangkan menerima tawaran di maskapai lain. Presiden Asosiasi Pilot Merpati, Capt Denny Satrio, mengatakan, para pilot sudah mulai ingin keluar karena kinerja perusahaan yang terus menurun dan rencana perusahaan untuk melakukan ekspansi pesawat jet yang tidak kunjung jelas.

Berita terbaru, Wakil Direktur Utama PT Merpati Nusantara Airlines, Adhy Gunawan, mengajukan pengunduran diri kepada pemegang saham BUMN Penerbangan itu, sejak pekan lalu. Meski tidak memberikan alasan yang akurat tentang pengunduran itu, namun kondisi ini semakin memperkeruh suasana.

Tak bisa dipungkiri, berita, ungkapan dan pernyataan itu bagaikan petir di siang bolong, bagi manajemen Merpati di bawah pimpinan Capt. Sardjono Jhony Tjitrokusumo. Dampak petir itu memang sangat luar biasa. Kementerian BUMN serta Kementerian Perhubungan menjadi ribut. Agen tiket utama menjadi bimbang. Leasor asing yang akan memberikan sewa pesawat pun ragu-ragu, wait and see apakah akan diberi atau tidak.

"Kondisi itu mempengaruhi kinerja Merpati. Padahal sejak saya dilantik Juli 2010, kinerja perusahaan sudah tertata dengan baik, gaji karyawan tak ada yang telat, bahkan akhir tahun karyawan mendapat bonus 25%. Padahal dibandingkan sebelum saya memimpin, kondisinya sangat amburadul," ungkap Direktur Utama Merpati Capt. Sardjono Jhony Tjitrokusumo saat menerima rombongan Forum Serikat Pekerja (FSP) BUMN Bersatu yang dipimpin Wakil Ketuanya Sutisna di Jakarta, Rabu (13/4/2011).

Padahal sebelumnya, sambung Jhony, lima serikat pekerja yang ada di Merpati dikumpulkan untuk menyampaikan aspirasi, uneg-uneg, kritikan demi membenahi kinerja Merpati agar lebih baik lagi. Ternyata, seluruh serikat pekerja sepakat mendukung dan membantu manajemen untuk melakukan pembenahan kinerja yang lebih lagi.

Ternyata dukungan itu hanya manis di bibir, lip services malah merongrong dari dalam dengan memberikan pernyataan yang sepihak, tidak didukung fakta dan data tentang kinerja Merpati yang sebenarnya. Setelah dilakukan pengutusan internal, akhirnya diputuskan dua aktivis Serikat Pekerja Merpati (Sekar Merpati) yakni Ketua Umum Sekar Purwanto dan Ketua I Sekar Merpati, Indra Topan diberhentikan sebagai karyawan. Mengingat perbuatannya mencemarkan nama baik perusahaan melakukam fitmah, sehingga masalah itu pun dilimpahkan ke jalur hukum.

Langkah tegas manajemen ini membuat APM pun mengeluarkan penyataan sikap bahwa tak ada pilot yang mengundurkan diri. Bahkan APM mendukung upaya perbaikan kinerja perusahaan demi kelangsungan perusahaan yang lebih bagi lagi. Pernyataan itu ditandatangani langsung President APM Capt. Denny Satrio, yang dimuat di media cetak terbitan Ibukota.

Bagaimana dengan pengunduran Wadirut Adhy Gunawan? "Saya belum bertemu beliau pasca pengunduran dirinya. Memang beliau sudah

mengajukan surat yang ditujukan ke Menteri BUMN. Dan saya belum tahu alasan pengunduran itu. Saya memang kehilangan teman karena beliau lucu. Namun masalah penggantian direksi itu domain-nya Pak Menteri (BUMN)," jawab Jhony.

Johny mengungkapkan saat diangkat menjadi Dirut Merpati, dirinya sudah merasa terbebani dengan kondisi Merpati saat itu. Dan tidak mudah untuk membenahi masalah Merpati saat ini. Semua sudah tahu, sejak Tahun 2005 Merpati merugi Rp 349,607 miliar, 2006 merugi Rp 283,432 miliar, 2007 merugi Rp158,770 miliar, 2008 merugi Rp641,065 miliar dan terakhir pada 2010 Merpati juga merugi sebesar Rp24 miliar.

Namun dengan berbagai upaya yang dilakukan oleh Direksi Merpati sebelumnya, dia yakin pihaknya bisa mengatasi masalah tersebut. "Ini pekerjaan berat. Tidak mudah untuk memulihkan ini. Tapi transfer sudah dilakukan oleh direksi yang sekarang dengan cara yang mulus. Jadi, Insya Allah mudah-mudahan kami bisa," komentarnya.

Sebagai langkah pertama untuk penyehatan Merpati, terus membesarkan volume bisnis Merpati dengan mendatangkan pesawat MA-60, Jet, dan lain-lain. "Nanti kami akan mencari bentuk kerja sama yang menguntungkan kedua belah pihak (baik vendor maupun pemerintah daerah). Sekarang kan lebih banyak yang berat untuk Merpati dari sisi cost (pembiayaan)," tambahnya.

Direktur Operasi PT Merpati Nusantara Airlines, Capt. Asep membantah kondisi keuangan mereka terus memburuk. Manajemen maskapai penerbangan pelat merah itu kini terus melakukan perbaikan dan menyusun rencana bisnis dalam beberapa tahun ke depan.

Sampai kini, manajemen Merpati tetap menjalankan Perencanaan Bisnis yang sudah disetujui pemerintah, walaupun secara paralel sedang mengajukan usulan penyesuaian Business Plan 2011-2015 dengan mengantisipasi dan merancang posisi Merpati di tengah-tengah pertumbuhan airlines business di Indonesia dan regional dalam 5-10 tahun ke depan.

Kondisi perusahaan pada semester I/2010 sangat parah di mana pesawat jet yang dioperasikan saat itu hanya 6-7 pesawat dari 13 pesawat yang tersedia, selebihnya dalam keadaan rusak karena tidak ada dana untuk menghidupkan dan melakukan perawatan. Juga Kondisi keuangan perusahaan juga sangat memprihatinkan dengan kerugian selama 5 bulan pertama di tahun 2010 (Januari-Mei 2010) sudah mencapai Rp54 miliar, utang current kepada lessor dan supplier sudah sangat besar sehingga mereka selalu mengancam mau menarik pesawat dan engine sewa. Bahkan hutang avtur current ke Pertamina sudah mencapai Rp20 miliar dan gaji pegawai diangsur 2 kali.

Namun, memasuki semester II/2010, kondisi perusahaan berangsur membaik. Setelah dilakukan renegosiasi dan revitalisasi armada, jumlah pesawat jet yang dioperasikan terus bertambah dari hanya 6-7 pesawat di bulan Mei-Juni 2010 menjadi 9-10 di bulan Desember 2010 dan bertahan sampai sekarang serta ditargetkan terus bertambah kedepan. Gaji pegawai sejak bulan Juli 2010 sudah tidak lagi diangsur dan manajemen tidak pernah membeda-bedakan pembayaran gaji pegawai-pegawainya. Artinya kebohongan besar dan tidak ada rasa syukur kalau ada pegawai yang mengingkarinya.

Bahkan selain membayarkan gaji penuh tepat waktu dan memberikan THR normal, manajemen juga memberikan insentif efisiensi di akhir tahun 2010 kepada seluruh pegawai sebesar 25% dari gaji sebagai bentuk apresiasi atas penghematan yang sudah dilakukan seperti renegosiasi harga sewa engine dan sewa pesawat yang semula sangat tinggi menjadi harga yang ideal.

Meski semester I/2010 perusahaan sudah mengalami kerugian operasional RP54 miliar, dengan kerja keras pegawai dan direksi, perusahaan menutup tahun buku 2010 dengan suatu keuntungan operasional Rp230 juta. Dari sisi jumlah memang sedikit, sangat besar artinya bagi semangat baru Merpati ke depan karena tanpa bantuan apa-apa dari Pemerintah, Merpati tetap survive.

Keuntungan tersebut sebetulnya bisa bertambah apabila dana awal untuk modal kerja pengoperasian pesawat baru MA60 yang berdatangan di akhir tahun 2010 disediakan oleh dana talangan Pemerintah sesuai program sehingga tidak menggerus cash flow perusahaan.

Jadi tidak benar kalau tahun 2010 Perusahaan mengalami rugi operasi. Dan sangat berat rasanya kalau harus mengatakan bahwa laba di tahun 2009 bukanlah karena laba operasional, melainkan karena hasil dari menjual gedung senilai Rp180 miliar, dan akibatnya Merpati harus menyewa gedung di gedung yang sama yang pernah dimilikinya. Jadi hitung saja sendiri berapa kerugian operasional Merpati di tahun 2009, tambahnya.

Donny Rurut, Dewan Pertimbangan FPM Merpati menjelaskan masalah internal itu bisa terselesaikan, jika alat produksi, seperti jumlah pesawat yang terbatas bisa teratasi. Karena dengan jumlah pesawat yang mamadai, yang ideal bagi perusahan maskapai penerbangan maka tingkat pendapatan perusahaan menjadi lebih bagus.

Saat ini jumlah pesawat Merpati mengoperasikan 26 unit pesawat terdiri dari 3 unit pesawat Cassa, 4 Twin Otter, 15 unit pesawat MA-60, 9 pesawat Boeing 737 series dan Fokker satu unit. Rencananya tahun 2011, ada total penambahan 17 pesawat jet jenis Boeing 737 series. Dan pada Juni 2011, akan datang 11 pesawat baru. Ditambah 9 pesawat baru MA60 dari China.

"Dengan kondisi jumlah armada yang ada sekarang, maka tidak sebanding dengan jangkauan rute, jumlah SDM yang mencapai 1300 serta jumlah penumpang yang semakin banyak pada April 2011 load factor mencapai 80% dengan pendapatan kotor sebesar Rp11,4 miliar per hari, maka akan sulit bagi Merpati untuk untung. Jadi ini perlu perhatian pemerintah untuk mengatasi masalah ini," tandas Donny didampingi ketua Umum FPM Merpati Danu Risman.

Danu menambahkan jika melihat kondisi penumpang yang terus berkembang, load factor yang masih tinggi tidak mungkin Merpati Nusantara Airlines bakal colaps, tutup dan gulung tikar. Mengingat, kemajuan kinerja perusahaan yang semakin baik serta terlihat adanya hubungan industrial yang makini harmonis antara karyawan Merpati dengan manajemen Merpati .

Wakil Ketua Umum FSP BUMN Bersatu Sutisna mendukung segala langkah direksi Merpati dalam memperbaiki kinerja perusahaan yang pada akhirnya akan berujung pada perbaikan kesejahteraan karyawan Merpati. "JIka melihat langsung bahwa on time performance dari Merpati menunjukan angka rata-rata 98,9 % serta factor keselamatan penerbangan yang makin mendekati zero accident, maka Merpati akan semakin baik," paparnya.

FSP BUMN Bersatu juga meminta Direksi Merpati agar tidak segan segan untuk melakukan pemecatan terhadap karyawan Merpati yang

melakukan tindakan korupsi atau serta meminta direksi untuk lebih berani mengungkapkan kasus-kasus koruspi yang terjadi sebelum direksi yang saat ini memimpin .

"Kami juga meminta kepada Pemerintah dan DPR agar cepat bisa merealisasikan program tambahan modal bagi Merpati sebesar Rp600 milyar untuklebih mendukung kinerja Merpati airlines untuk bisa menjadi perusahaan yang berkelas dunia," sambungnya meyakinkan. (endy poerwanto)

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda
Kurs USD-IDR
12/23/2014
12.470
IHSG
12/23/2014
5.142,99
17,22 (0,33%)