Ini dia strategi Ciputra garap pasar properti

Sutoto Yakobus
SURABAYA, kabarbisnis.com: Prospek industri properti di Jawa Timur masih cukup menggiurkan tahun ini. Pertumbuhan hingga 20% diyakini akan mudah dicapai.
Direktur PT Ciputra Surya Tbk (CTRS) Sutoto Yakobus menuturkan, Ciputra masih akan terus melakukan ekspansi, baik di properti residensial maupun komersial. "Salah satu yang bakal terus digenjot adalah apartemen," ujarnya.
Pada kuartal I/2011, emiten berkode CTRS itu membukukan kenaikan pendapatan bersih dari Rp143,12 miliar menjadi Rp151,02 miliar. Namun, laba bersih perseroan turun menjadi Rp35,42 miliar dibanding periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp42,41 miliar.
Ciputra Surya sendiri adalah salah satu anak kelompok perusahaan properti papan atas Grup Ciputra. Berikut petikan wawancara khsusu kabarbisnis.com dengan Sutoto di kantornya, Selasa (3/5/2011).
Seperti apa kinerja industri properti di Jatim pada awal tahun 2011?
Kemarin kalau kita lihat beberapa indikator industri seperti konsumsi semen di kuartal I/2011 di Jawa Timur ini tumbuh tapi tidak banyak. Tumbuhnya hanya sekitar 5%. Secara umum tumbuh, tapi belum terlalu kencang.
Kenapa hanya tumbuh tipis?
Tidak tahu, somehow kok tumbuhnya tidak hebat sekali. Tapi kalau secara umum, developer di Surabaya tidak komplain. Capaian mereka biasa saja, tidak happy sekali tetapi juga tidak booming. Kalau kami monitor harga, seperti harga-harga real estate yang ada di Surabaya ini mengalami kenaikan.
Pada kisaran berapa kenaikannya?
Untuk harga tanah dalam kuartal pertama ini naik sekitar 5%-10%.
Untuk proyeksi hingga akhir tahun?
Kalau sampai akhir tahun, kita sendiri memproyeksikan, di mana proyeksi ini juga dipakai untuk seluruh proyek kita, kita mengharapkan ada kenaikan sekitar 20% dari omset. Volume tumbuh 5%. Harga naik dari 10-15% jadi total pertumbuhan sekitar 20%.
Apa pemicunya?
Pemicunya karena setiap tahun harga tanah tumbuh cepat. Setiap tahun memang komponen harga tanah tumbuh. Karena tanah juga saat ini semakin langka.
Faktor yang menghambat?
Proyek-proyek baru juga semakin lama semakin jauh lokasinya, jadi infrastrukturnya semakin mahal. Karena pemerintah juga biasanya tidak menyediakan infrastruktur, jadi developernya yang harus menyediakan sendiri infrastrukturnya cukup banyak. Jadi developer swasta kalau ingin membuat proyek , infrastrukturnya harus membangun sendiri.
Untuk Grup Ciputra, road map-nya seperti apa, apakah tetap fokus ke sektor perumahan?
Memang kalau kita masuk ke daerah, investasi utama kita di perumahan. Kalau ada potensi lain baru kita membangun misalnya kawasan industri seperti pergudangan, atau mall, atau hotel. Tapi itu step kedua, biasanya kita memasuki pasar lewat proyek perumahan. Dengan perumahan kita bisa mengenal suatu wilayah. Ibaratnya kalau tentara perang, Zeni-nya itu ya perumahan. Baru kemudian kita mikir ke sektor lain seperti pendidikan, kesehatan.
Untuk Ciputra sendiri proyek yang tahun ini sedang dikerjakan?
Tahun ini kita mulai di Bali, Kendari, dan Yogyakarta; semuanya perumahan.
Bagaimana dengan pasar apartemen? Bagaimana Ciputra memandangnya?
Memang untuk kondisi di indonesia, bagaimanapun juga memang pilihan orang tetap landed house. Apartemen memang menawaran lifestyle baru dan itu biasanya hanya bisa bertahan di kota besar. Kalau kota kecil jangan mimpi dulu bangun apartemen. Misalnya di Banjarmasin mau bangun apartemen ya jangan lah. Karena bagaimana pun juga ongkos untuk membangun apartemen itu mahal.
Kecuali kalau landed house harga tanahnya sudah mahal, sekitar Rp5 juta-Rp6 juta per meter baru bisa bersaing dengan apartemen. Kalau tanahnya harganya masih Rp1 juta sampai Rp3 juta, pasti lebih murah landed house daripada apartemen.
Bagaimana pasar apartemen sendiri?
Umunya masyarakat Indonesia masih suka landed house. Tapi bagaimanapun apartemen juga memberikan keuntungan sendiri, pertama apartemen orang selalu convinient. Apartemen biasanya dekat dengan fasilitas tertentu seperti apartemen mahasiswa, ya pasti dekat dengan kampus. Kalau apartemen untuk pekerja pabrik, pasti dekat dengan pabrik. Kalau apartemen di tengah kota pasti dekat dengan mal.
Kemudian ada faktor kepraktisan. Kalau tinggal di apartemen tidak usah mikir taman, mikir keamanan dan lain sebagainya karena pengelolanya pasti sudah menyediakan itu. Array
- Nilai tukar rupiah terhadap USD hari ini Rp 9775.00
- Indeks Harga Saham Gabungan hari ini +33.69 menjadi 5155.093
- Pilihan Editor: Terdesak impor, Kadin-KPPI gencar sosialisasi safeguards di Jatim
- Praktik kartel bikin bunga bank di RI tertinggi se-Asean?
- Jabat Gubernur BI, Agus Marto bersumpah tak akan terima suap
- Unesa ambisi jadi pusat litbang industri batik Nusantara
- Pensiunan ini rutin beli Jaguar lima kali dalam setahun
- Pensiun, Beckham gandeng bos Manchester City beli tim MLS?
- Rambah bisnis ponsel, Jennifer Lopez gaet Verizon
- Awas informasi pribadi Anda disalahgunakan situs belanja online
- Bos Bulog berbagi kisah sukses dengan siswa SMA di Jatim
- Bos Monsanto beber strategi kuasai pasar Indonesia
- Sri Mulyani: Kelompok tertentu ganjal kemajuan RI
- Saatnya melirik profesi penilai
- Ini dia strategi Ciputra garap pasar properti
- Resep Flexi kuasai Jatim, Bali, dan Nusra
- Pendekatan kesejahteraan untuk kasus tanah
- Metamorfosis operator menuju layanan personal
- Musda REI Jatim, Henry mengaku tak siap
- Konsep korporatisasi koperasi lewat Badan Usaha Milik Rakyat
- Gubernur BI Harus Dorong Bank agar Lebih Pro-Sektor Riil
- Kalau Dalam Negeri Tak Cukup, Jangan Takut Impor
- Gairah Mari Pangestu pacu bisnis kuliner dan fesyen
- Tugas berat pengganti BP Migas
- Dirut Telkomsel: Kami memang tidak mau bayar
- Tujuh faktor kunci bangun kelautan dan perikanan
- Kemandirian pangan dilumpuhkan akses lahan
