loading...
Kategori
Rubrik SpesialGo UKM
Mode Baca

Bisnis UKM cokelat raup miliaran rupiah

Online: Selasa, 31 Mei 2011 | 11:26 wib ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Anda barangkali adalah penikmat cokelat merek Vanssa Chocolate yang kini sudah banyak ditemui di berbagai toko dan gerai ritel modern. Tapi Anda barangkali tak tahu kalau bisnis cokelat yang kini meraksasa itu berawal dari sudut rumah di dekat Pasar Karangpoh, Gresik, Jawa Timur. Dari rumah yang terletak di perkampungan Jalan KH Abdul Karim itulah kisah sukses bisnis Vanssa Chocolate yang dirintis Farida Ariyani berawal.

"Saya merintis bisnis ini benar-benar dari nol dan saya bersyukur bisa terus tumbuh dan berkembang," ujar Farida.

Farida memang lahir di lingkungan keluarga pencinta wirausaha. Keluarga sang suami, Rudy Rachmansyah, adalah keluarga pengusaha. "Itu semua mendidik saya untuk terus berjuang pantang putus asa," ujarnya.

Semula, Farida hanya melayani katering makanan kecil-kecilan sejak akhir 1990-an. Omsetnya pun kecil karena order datang tak pasti. Untuk cokelat, perempuan berjilbab ini hanya memproduksinya saat momen-momen tertentu, seperti Lebaran, Natal, dan Valentine. "Biasanya dipakai untuk suguhan saat Lebaran dan Natal. Kalau Valentine untuk kado anak-anak remaja. Modal awalnya tak banyak, hanya Rp1 juta," ujarnya.

Karena musiman, penghasilan pun tak pasti. Farida lantas serius menekuni bisnis ini pada 2004 dengan memakai merek Vanssa Chocolate. Farida memulai usaha dengan modal awal Rp40 juta hasil menjual perhiasan dan sejumlah asetnya. Dia mengemas cokelat secara unik dengan bungkus dan pernik yang menarik. "Harganya bervariasi, mulai Rp10.000," jelas perempuan asli Malang, Jawa Timur, ini.

Untuk belajar membuat cokelat, Farida berguru ke Pusat Penelitian Kakao di Jember. Jember memang dikenal sebagai sentra cokelat di Indonesia. Di sana dia belajar dari para peneliti cokelat yang rata-rata dosen tentang cara pembuatan cokelat, termasuk pengemasannya.

Di Pusat Penelitian Kakao itulah, Farida belajar menentukan biji cokelat terbaik. Dia berburu langsung ke kebun kakao yang banyak berada di Jember.

"Saya jadi tahu ciri-ciri cokelat. Bagaimana membuat cokelat biar tidak saja enak, tapi juga manfaatnya terasa bagi tubuh. Saya ingin menepis stigma bahwa cokelat itu menimbulkan jerawat atau membikin gemuk. Yang penting pengolahannya," ujar Farida.

Dari sudut kampung di Gresik, cokelat produksi Vanssa terus berkembang dan kini tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Vanssa sudah berhasil menembus berbagai jaringan gerai ritel modern, seperti Carrefour. Vanssa juga sudah punya agen di sejumlah daerah, yaitu Bali, Yogyakarta, Surabaya, dan Kalimantan.

Farida juga membidik pasar ekspor, terutama ke Timur Tengah. Untuk semakin memperbesar penjualan, dia menjalin kerja sama dengan biro perjalanan haji.

Saat ini Farida juga membangun rumah produksi baru di Sidoarjo, Jawa Timur. Produk Vanssa rata-rata terjual 2-3 ton per bulan. Bahan baku ia peroleh dari kebun-kebun kakao lokal, baik di Jember maupun dari Sulawesi Selatan.

Omset Vanssa Chocolate sudah menembus Rp150 juta dalam sebulan yang berarti mencapai Rp1,8 miliar per tahun. "Marginnya lumayan," ujarnya merendah.

Farida menuturkan, dirinya membuka kesempatan bekerja sama dengan banyak pihak untuk mengembangkan bisnis cokelat ini secara bersama-sama. Berikut rumah sekaligus pusat produksi Vanssa Chocolate:

Delta Sari Indah AX 17 Waru, Sidoarjo, Jawa Timur.

Email: farida_ariyani12@yahoo.co.id. kbc5

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda
Kurs USD-IDR
10/30/2014
12.125
IHSG
10/30/2014
5.058,85
-15,21 (-0,30%)