loading...
Kategori
Rubrik SpesialGo UKM
Mode Baca

Penguatan UMKM harus berbasis lokalitas

Kadin pacu penguatan UMKM di seluruh Jawa Timur

Online: Jum'at, 03 Juni 2011 | 10:54 wib ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) diharapkan berbasis pendekatan lokalitas, baik untuk bahan baku, kelembagaan, maupun sumberdaya manusianya. Dengan demikian, upaya mendongkrak kinerja UMKM akan lebih efektif dan efisien. Sumber daya lokal juga bisa dioptimalkan dengan baik.

Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bidang UMKM, M. Rizal, menuturkan, pengembangan UMKM mesti berbasis pada kebijakan pemberdayaan masyarakat lokal. Lokal yang dimaksud di sini berarti memanfaatkan potensi sumberdaya manusia lokal, sumberdaya kelembagaan lokal, sumberdaya fisik lokal, dan sumberdaya alam yang dimiliki daerah. "Pendekatan ini memberi titik tekan pada pemberian prakarsa lokal untuk mendorong gerak ekonomi di tingkat lokal, sehingga lapangan pekerjaan baru terbuka. Daya saing ekonomi lokal juga terangkat," ujar Rizal di kantornya, Jumat (3/6/2011).

Karena itulah, sambung dia, Kadin Jatim kini telah memulai aktivitas penguatan UMKM secara terpadu dengan menggandeng pemerintah dan swasta. "Mulai akhir Mei kita keliling Jawa Timur memperkuat kapasitas UMKM dengan pendekatan berbasis lokalitas tersebut," ujarnya.

Dia menuturkan, ada 20 aktivitas pelatihan dan penguatan UMKM yang dilakukan Kadin Jatim untuk semua kabupaten/kota di Jatim. Aktivitas pelatihan dan penguatan didasarkan pada keunggulan komparatif di masing-masing daerah.

"Kita berangkat dari keunggulan komparatif di masing-masing daerah. Keunggulan kompetitifnya nanti kita bangun lewat pelatihan, asistensi, dan supervisi secara berkelanjutan," jelasnya.

Rizal mencontohkan, untuk daerah Trenggalek, Pacitan, dan Tulungagung, dipilih aktivitas pelatihan pengembangan pengolahan hasil laut. Adapun di Bojonegoro, Nganjuk, dan Jombang digiatkan penguatan usaha kecil daur ulang sampah konveksi. Sementara di Sidoarjo dan Gresik difokuskan pada kegiatan pengolahan sari air laut untuk membuat tahu. Untuk kota/kabupaten lain, pelatihan serupa dengan tema berbeda juga dilakukan.

"Kami memilih model atau tema pelatihan bukan tanpa sebab, tapi berdasarkan kajian lapangan dan focus group discussion. Sehingga, apa yang kita pilih benar-benar berbasis lokalitas. Kita start akhir Mei sampai enam bulan ke depan," papar Rizal.

Secara terpisah, ekonom dari Universitas Airlangga, M. Nafik, mengatakan, pembangunan industri, baik skala besar maupun kecil, memang harus berbasis pada lokalitas. Kebijakan penguatan industri berbasis lokalitas akan memudahkan peta jalan untuk mewujudkan klusterisasi industri secara terfokus. Sehingga, pelaku usaha di satu daerah dan daerah lain tidak saling "membunuh", melainkan saling mendukung.

"Nantinya kita bisa sampai pada tahap spesialisasi. Dari kluster yang terbentuk, kita bisa memetakan industri prioritas yang bisa dikembangkan di masing-masing kabupaten/kota atau bahkan menyinergikan dua atau tiga kabupaten/kota untuk fokus pada satu industri prioritas," ujarnya.

Setelah dipetakan industri prioritas tersebut, kata dia, akan ditemukan kompetensi inti (core competence) dunia industri di sebuah kota/kabupaten yang akan membuat pengembangan UMKM bisa lebih fokus, efektif, dan efisien. kbc5

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda
Kurs USD-IDR
9/19/2014
11.989
IHSG
9/19/2014
5.227,58
19,44 (0,37%)