Sosialisasi Pancasila, DPR anggarkan Rp1 triliun

JAKARTA, kabarbisnis.com: Lunturnya nilai-nilai Pancasila di kalangan pelajar dan mahasiswa, menjadi alasan utama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk mengajukan anggaran sosialisasi pendidikan Pancasila sebesar Rp 1 triliun.
"Anggaran Rp1 triliun diajukan sejak 2010 untuk pembangunan karakter bangsa, yang akan digencarkan ke sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Langkah ini sebagai implementasi program studi Pancasila yang kini semakin luncur," ungkap Reni Marlinawati, anggota Komisi X DPR RI pada diskusi Pancasila di Jakarta, Sabtu (4/6/2011).
Anggaran sebesar itu, sambung Reni, dinilai sangat wajar karena manfaat yang dirasakan akan cukup besar. Apalagi, pendidikan nilai-nilai Pancasila menjadi sangat penting dalam kondisi sekarang ini, yang telah terkooptasi dengan liberalisme.
Juga anggaran sebesar itu, tidaj hanya untuk siswa dan mahasiswa namun juga untuk guru dan dosen. Kegiatannya bisa dalam bentuk training agar siswa hingga gurunya semakin paham apa itu Pancasila, tambah anggota Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DPR.
Ditegaskan, pelestarian ajaran Pancasila di kalangan pelajar semakin dilupakan. Buktinya, upacara bendera setiap Senin ditinggalkan, tak diwajibkannya siswa menghafal lagu kebangsaan maupun nama tokoh nasional. Padahal, kegiatan itu sangat efektif bagi penanaman nilai-nilai Pancasila di kalangan pelajar.
Begitu juga mahasiswa yang kini banyak kurang mengenal nilai-nilai Pancasila, dampaknya acapkali muncul tawuran, rasa solideritas dan sikap gotong royong berkurang. Karenanya, pemerintah harus mengembalikan sistem pendidikan yang dulu berlaku di sekolah, sarannya.
Usulan mengenai pembangunan karakter bangsa dengan anggaran Rp1 triliun, disorot dan dikritik secara keras oleh budayawan Radhar Panca Dahana. "Nilai Pancasila tidak perlu diimplementasikan dalam pendidikan secara formal. Yang terpenting, nilai Pancasila akan terlaksana dari kesadaran individu," tegasnya.
Jadi, tambah Radhar, tidak perlu ada anggaran pembangunan karakter bangsa sebesar Rp1 triliun. Karena pembangunan karakter harus didasarkan pada kesadaran individu yang tanpa biaya besar. "Seharusnya beaya itu untuk rakyat miskin yang butuh pendidikan, kesehatan, harga pangan yang makin mahal dan lainnya," katanya.
Memang, ajaran Pancasila semakin dilupakan masyarakat, hal ini akibat kesalahan pemerintah sendiri. Pemerintah berperan besar menjerumuskan masyarakat hanya memaknai Pancasila sebagai slogan semata. Apalagi, pemerintah tak memiliki definisi komprehensif tentang arti lima sila yang terkandung di dalamnya.
"Ingat ya, Pancasila ditinggalkan karena tak mampu menjawab persoalan di masyarakat. Ini tugas pemerintah menjadikan Pancasila sebagai solusi bagi setiap permasalahan bangsa, dan itu tidak perlu dana anggaran besar, kritiknya serius. Kbc10
- Nilai tukar rupiah terhadap USD hari ini Rp 9910.00
- Indeks Harga Saham Gabungan hari ini -33.796 menjadi 4806.656
- Pilihan Editor: Di tempat inilah calon penerus Bill Gates dan Mark Zuckerberg dicetak
- Di tempat inilah calon penerus Bill Gates dan Mark Zuckerberg dicetak
- Garap lima proyek, Intiland rogoh Rp 3,2 triliun
- Pangeran Arab ini berambisi bangun gedung tertinggi sejagat
- Seorang Wanita di Boston habiskan US$ 560.000 untuk membeli lahan parkir
- Alicia Keys berburu wanita jago teknologi asal RI
- Seberapa pentingkah Twitter bagi bisnis Anda?
- PlayStation 4 akan lebih murah dari Xbox One?
- Kabarbisnis.com juarai lomba karya tulis REI Jatim
- Ketua KPK baru dilantik Presiden
- Bahas koalisi, SBY dan Ical segera bertemu
- KPU sosialisasi Pemilukada 2010 kepada pelajar
- Salim Segaf laksanakan tugas pertama sebagai Mensos
- Anggota DPR asal PKS nonton porno saat sidang
- Pemerintah tuntaskan 3 RUU
- Proyek gedung baru DPR Rp1,8 triliun disomasi
- Quick count Coblos Ulang menangkan Risma-Bambang
- Presiden SBY akan miliki akun Twitter
- PTTUN loloskan PKPI jadi peserta Pemilu 2014
- Ingin jadi caleg? Ini dia syarat-syaratnya
- Bank Jabar Banten bagi-bagi uang jelang coblosan Pilgub Jabar?
- SBY minta Pancasila jangan disakralkan
- Empat bulan tak ada hari Minggu, Jokowi datangkan dokter ke rumah dinas
- Hasil Survei: Golkar tertinggi, Demokrat masih terpuruk
- Ibas Yudhoyono nilai Partai Demokrat dalam kondisi berbahaya
