Tata kelola ekonomi Surabaya dinilai menurun
SURABAYA, kabarbisnis.com: Kinerja ekonomi Surabaya pada tahun ini relatif menurun akibat rendahnya tata kelola ekonomi yang dilakukan. Hal ini terekam dalam evaluasi otonomi daerah yang telah dilakukan.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Surabaya, Jamhadi, mengungkapkan, iklim ekonomi Surabaya saat ini memang tidak kondusif akibat turunnya tata kelola ekonomi. Pemerintah Kota Surabaya dinilai tidak responsif.
"Parameternya banyak, belum terlaksananya pelayanan perizinan diberikan, tentang insentif untuk investor juga belum ada, serta hubungan Pemkot Surabaya dengan DPRD yang dinilai belum sinergis. Sehingga semua itu membuat ekonomi tidak lancar," katanya di Surabaya, Selasa (30/8/2011).
Akibatnya, lanjut Jamhadi, pertumbuhan ekonomi Surabaya sepanjang semester I/2011 hanya mampu mencapai level 2,7%, padahal kalau melihat potensinya bisa mmeningkat lebih dari pencapaian tersebut. Sementara produk domestik regional bruto (PDRB) semester I/2011 mencapai Rp170 triliun. Dari total nilai tersebut, belanja pemerintah hanya sebesar Rp5 triliun.
Untuk itu, harus ada perbaikan dalam sikap dan kebijakan Pemkot Surabaya agar pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi bisa dikejar. Misalnya terkait penyerapan anggaran pemerintah, sudah seharusnya digenjot.
Pemkot Surabaya juga diminta memperbaiki hubungan dengan kalangan dunia usaha. "Selama ini, jika Kadin punya konsep, selalu tidak ada tanggapan dari Pemkot Surabaya. Kita jarang bertemu di tataran ide. Tidak seperti hubungan Kadin Jatim dengan Pemprov Jatim yang selalu sinergi dan sekata," tegasnya.
Untuk itu, harusnya hubungan Pemkot Surabaya dengan Kadin dan juga dengan DPRD harus sinergis dan terintegrasi.
"Perda tentang pemberian insentif segera diselesaikan, perizinan satu pintu harus direalisasikan, agar Surabaya menjadi rumah yang enak untuk berinvestasi, enak untuk tinggal, murah dan pengurusan izin cepat agar pertumbuhan ekonomi bisa dikejar di semester II/2011. Jika masih belum ada perubahan, saya ragu pertumbuhan ekonomi kita akan mencapai 6%, mungkin hanya 4% saja sampai akhir tahun," katanya. kbc6
- Nilai tukar rupiah terhadap USD hari ini Rp 9799.00
- Indeks Harga Saham Gabungan hari ini +29.309 menjadi 5150.712
- Pilihan Editor: Terdesak impor, Kadin-KPPI gencar sosialisasi safeguards di Jatim
- Pensiun, Beckham gandeng bos Manchester City beli tim MLS?
- Rambah bisnis ponsel, Jennifer Lopez gaet Verizon
- Awas informasi pribadi Anda disalahgunakan situs belanja online
- Bos Bulog berbagi kisah sukses dengan siswa SMA di Jatim
- Freeport beri beasiswa anak korban terowongan runtuh
- Berniaga.com: Investasi kami cukup untuk 5 tahun ke depan
- Pelanggan Indovision kini bisa tonton TV di tablet
- Gelar Pasar Meriah, berniaga.com temukan penjual-pembeli
- Aturan Menkeu yang baru rugikan perusahaan rokok berskala kecil
- Tak lagi berdasar golongan, gaji PNS ditentukan kinerja
- Jumlah wirausaha menyusut, buruh meningkat
- Menilik perkembangan pasar China saat ini
- Di kota inilah para orang tajir dunia tinggal
- Melambat, ekonomi Malaysia cuma tumbuh 5%
- Pembangunan ekonomi daerah jangan cuma jiplak Jakarta
- Kisah Bill Gates, makin rajin berderma makin kaya raya
- Ambil dana kompensasi, rakyat miskin akan diberi kartu berchip
- Nih, prediksi BI soal inflasi Jatim 2013
- Belanja 500 robot polisi, Brasil rogoh US$7,2 juta
- Sri Mulyani masuk 100 wanita berpengaruh versi Forbes
- Kadin serukan kepala daerah agar peduli UKM
- Tren perusahaan raksasa dunia yang mengemplang pajak
- Perkuat pasar, Merck agresif beli kembali saham
- Amazon hanya bayar 4,5% pajaknya
