loading...
Kategori
Rubrik SpesialGo UKM
Mode Baca

Surabaya belum prospektif untuk produk handmade

Online: Senin, 19 Desember 2011 | 10:15 wib ET

(Ilustrasi/dok. kabarbisnis.com)

SURABAYA, kabarbisnis.com: Meski pemerintah gencar melakukan promosi berbagai kerajinan buatan tangan (handmade), Kota Surabaya, Jawa Timur, ternyata masih belum menajdi pasar yang cerah. Sulit menemukan pasar untuk produk tersebut di kota pahlawan ini.

"Surabaya masih sangat sulit. Pasar Surabaya masih belum bisa menghargai produk handmade dengan harganya yang relatif tinggi. Mereka belum mengerti dan paham," ujar pemilik Sari Ronche Rumah Sulam, Baju dan Craft, Siska Sumartono, di Surabaya, Senin (19/12/2011).

Menurut dia, pasar Surabaya lebih suka produk sulam yang kasar karena harganya relatif murah. Sementara produk sulam dengan kualitas terbaik justru tidak laku.

"Produk sulam Sari Ronche ini sulam halus dengan degradasi warna, jadi harganya lebih tinggi. Yang suka banyak tapi yang membeli dengan harga handmade jarang. Saya kan harus menghargai jerih payah tenaga kerja yang saya pekerjakan," katanya.

Pemilik Milli Hand Made, Mimi Lee, menuturkan, pasar Surabaya memang masih susah digarap produk handmade. Harga masih menjadi faktor pertama dan utama dalam menentukan pilihan. Sehingga produk handmade ini kurang diminati karena harganya yang cukup mahal.

"Walaupun rumah produksi di Surabaya, pasar produk tas handmade yang saya produksi ini justru bukan di Surabaya. Surabaya sangat susah karena mereka belum faham tentang produk handmade," tambahnya.

Meski demikian, keduanya mengaku saat ini produk handmade sudah semakin berkembang. Permintaan pasar juga terus mengalami kenaikan. Tahun ini, kenaikan penjualan produk yang dihasilkan Sari Ronche umpamanya, bisa mencapai 70%.

Jika pada tahun 2010 penjualan masih sekitar Rp25 juta per bulan, tahun ini penjualan sudah mencapai kisaran Rp40 juta per bulan. Produk Sari Ronche di antaranya adalah baju sulam degradasi warna dengan harga di kisaran Rp450.000 hingga Rp1,5 juta per potong dan berbagai pernik dari sulam .

"Ini karena kami sudah menemukan pasarnya. Kalau produk seperti ini, permintaan terbesar adalah pasar Bandung, Jakarta dan Banjarmasin serta Balikpapan," kata Siska.

Terkait pasar luar negeri, ia mengatakan sebenarnya sangat bagus. Beberapa negara di Eropa Selatan, Itali dan Yunani sangat suka produk handmade. Namun untuk melakukan ekspor Siska mengaku kesulitan, sebab untuk ekspor produk harus banyak. Padahal produksinya tidak bisa banyak karena keterbatasan tenaga kerja sulam yang handal.

"Di Surabaya mencari tenaga sulam yang bisa menyulam halus dengan gradasi warna sangat sulit. Saya harus mengajari mulai nol. Dan ini memerlukan waktu yang cukup lama. Makanya produksi tidak bisa banyak," ungkapnya. kbc6

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda
Kurs USD-IDR
11/28/2014
12.249
IHSG
11/28/2014
5.149,89
4,57 (0,09%)