Sosok di balik kesuksesan produk air minum Cheers

Edwin Hendriadi (Purna Budi/kabarbisnis.com)
PERENCANAAN jangka panjang menjadi salah satu poin penting dalam pengembangan perusahaan. Setidaknya itulah yang dipegang teguh Edwin Hendriadi, Managing Director PT Atlantic Biruraya, produsen air minum dalam kemasan (AMDK) merek Cheers dalam menjalankan bisnisnya.
Perusahaan air minum yang berbasis di Pandaan, Pasuruan tersebut mengalami stagnasi dalam perkembangan bisnisnya tak lama sejak didirikan pada 1997. Ratusan kompetitor dalam bisnis serupa, membuat perusahaan yang didirikan ayah Edwin, Wachid Hendriadi, ini tak banyak beranjak sejak dilahirkan.
"Jangankan memikirkan pengembangan bisnis jangka panjang, perusahaan ini awalnya hanya memikirkan bagaimana bertahan hidup di antara gempuran ratusan perusahaan lain sejenis. Rencana bisnis hanya dibuat paling jauh untuk dua tahun di depan," katanya kepada kabarbisnis.com.
Ketika dipercaya menjadi Development Manager pada 2005 dan berlanjut menjadi Managing Director pada 2007, bapak satu anak ini mulai melakukan perubahan mendasar. Pemegang gelar Master of Science dari University of California-Berkeley, Amerika Serikat ini akhirnya mengubah kebijakan dasar perusahaan dengan melakukan perencanaan jangka panjang, setidaknya untuk waktu lima tahunan.
"Saya belajar dari perusahaan multinasional tempat saya bekerja dulu. Betapa sebuah blueprint pengembangan usaha suatu perusahaan harus dibuat terperinci dan diketahui semua karyawan dalam semua level. Dari blueprint tersebut, karyawan bisa memosisikan dirinya dan mengambil peran maksimal dalam pengembangan perusahaan," tutur Edwin yang pernah bekerja sebagai Marketing Intelligence and Financial Analyst Hewlett-Packard Shanghai, China.
Bersaing dengan perusahaan sejenis yang lebih dulu mapan dan punya modal puluhan kali lipat, tak membuatnya keder. Pelan-pelan dibenahinya perusahaan milik keluarga tersebut. Pembenahan produk serta penguatan service kepada komsumen dan mitra pedagang menjadi salah satu penuntun utama menjalankan wajah baru bisnis tersebut.
Di sisi produk, berbagai riset dan penerapan teknologi terbaru menjadi suplemen penguat perusahaan. Kerjasama dengan instansi diperkuat untuk pemasaran produk. Tak ada guna produk unggulan jika tak bisa dipasarkan, pikirnya.
Kini, keponakan pengusaha nasional Murdaya Po ini mulai menuai hasilnya. Brand Cheers melejit ke jajaran tiga besar AMDK nasional, setidaknya itulah hasil polling sebuah media massa nasional beberapa waktu lalu. Produksi pun meningkat hingga mencapai 25 juta liter per bulan, kantor pemasaran bertambah menjadi 12 unit, dan karyawan meningkat signifikan menjadi 750 orang.
Pasar pun tak melulu domestik yang digarapnya. Ekspor tahunan Cheers ke Malaysia, Timor Leste dan Australia dilakukan sejak 2007 dan kini volumenya mencapai 10% dari total produksi.
Capaian ini pun tak lantas membuat Edwin Puas. Hingga tiga tahun ke depan, ia menargetkan produksi bisa meningkat dua kali lipat atau tembus di angka 50 juta liter per bulan.
Untuk itu, perusahaan pun mengalokasikan dana puluhan milyar untuk ekspansi pabrik. "Tahun lalu kami mengalokasikan sedikitnya Rp 40 miliar untuk perluasan pabrik. Ke depan, investasi masih akan kami lanjutkan untuk pengembangan pabrik seperti mendatangkan alat-alat baru seperti filling machine, penunjang packaging. Nilainya sedang kami hitung," katanya. kbc8
- Nilai tukar rupiah terhadap USD hari ini Rp 9775.00
- Indeks Harga Saham Gabungan hari ini +33.69 menjadi 5155.093
- Pilihan Editor: Terdesak impor, Kadin-KPPI gencar sosialisasi safeguards di Jatim
- Roy Suryo dukung Banyuwangi pacu wisata melalui kompetisi olahraga
- Praktik kartel bikin bunga bank di RI tertinggi se-Asean?
- Jabat Gubernur BI, Agus Marto bersumpah tak akan terima suap
- Unesa ambisi jadi pusat litbang industri batik Nusantara
- Pensiunan ini rutin beli Jaguar lima kali dalam setahun
- Pensiun, Beckham gandeng bos Manchester City beli tim MLS?
- Rambah bisnis ponsel, Jennifer Lopez gaet Verizon
- Awas informasi pribadi Anda disalahgunakan situs belanja online
- Eddy William Katuari dan kepak sayap Grup Wings
- Arum Sabil, dari tukang foto keliling hingga Anggota DGI
- Dymas, dari ayam bakar sampai ojek motor
- Mengurus BUMD kurang sukses, ditugasi jadi Dirut PLN?
- Teguh Kinarto, transformasi sang tukang kredit keliling
- Hotbonar Sinaga sang Man of the Year
- Bukik dan ide tolol perubahan
- Hikayat krisis, hikayat Maryono
- Ketut Mardjana jadi bos kantor pos se-ASEAN
- Upik, dari Perhutani ke bos BUMN benih
- Di-CT Scan Profesor Hafid, Dahlan sehat-sehat saja
- Maryono, dari Bank Mutiara jadi bos BTN
- Komitmen anti-suap bos perusahaan setrum
- Wamen ESDM yang suka "ngojek"
- Anindya: Tripartit harus dijalankan
- Pejabat grup Bakrie pimpin insinyur se-Indonesia
