loading...
Kategori
Rubrik SpesialGo UKM
Mode Baca

Bingung nganggur, kini Ririn jadi bos olahan ikan

Online: Senin, 30 Januari 2012 | 10:59 wib ET

GRESIK, kabarbisnis.com: Bingung karena menganggur setelah mundur dari sebuah perusahaan membuat Ririn menggali banyak inspirasi bisnis. Sempat menimang-nimang sejumlah rencana bisnis, akhirnya Ririn memutuskan untuk berbisnis makanan olahan ikan.

"Tahun 2007 saya mundur dari sebuah perusahaan. Saya bingung setelah menganggur, lalu akhirnya memulai bisnis olahan ikan. Modal awalnya hanya Rp2 juta," cerita Ririn kepada kabarbisnis.com, Senin (30/1/2012). Ririn berhasil menyabet gelar juara umum dalam UKM Award yang digelar PT Semen Gresik Tbk.

Dia mulai memproduksi sejumlah makanan olahan ikan, seperti siomay udang, produk olahan cumi-cumi, dan nugget kepiting. Ririn memilih nama "Family Food" untuk merek produknya. "Ini makanan yang aman dan bergizi bagi keluarga. Semuanya tanpa bahan pengawet," ujar Ririn yang memang namanya hanya terdiri atas satu kata itu.

Memulai bisnis tentu saja tak semudah membalik telapak tangan. Ririn harus bekerja keras membangun bisnisnya. Perempuan berjilbab itu memulai bisnis hanya dengan dua karyawan, yaitu dirinya sendiri dan sang suami yang membantunya selepas bekerja.

Pernah suatu ketika produknya terjual sangat minim. Ririn nyaris putus asa. Namun, masa-masa sulit itulah yang justru menjadi pelecut bagi Ririn untuk terus merawat harapan. "Yang paling penting dalam bisnis adalah menjaga semangat. Situasi sulit itu pasti terjadi, tapi selama kita bisa merawat harapan, selama itu pula kita mempunyai jalan untuk bangkit," ujar Ririn.

Pelan tapi pasti, bisnis Ririn mulai mekar. Dia pun bisa merekrut dua karyawan tambahan. Produknya mulai laris meski dikemas dengan cara sederhana. Produk olahan ikannya cuma dimasukkan ke plastik lalu diberi stiker merek dan keterangan lolos uji kesehatan. Dalam sebulan, Ririn mulai bisa membukukan omset Rp5 juta.

"Saat itu pemasaran kita hanya sebatas di Gresik dan sekitarnya. Saya terus berusaha memperluas pemasaran dengan menjalin jaringan baru," ujar perempuan berusia 33 tahun tersebut.

Kini, kerja keras Ririn pun berbuah manis. Produk Family Food sudah dipasarkan di banyak kota besar seperti Surabaya dan Jakarta, bahkan sudah merambah luar Jawa. Jumlah karyawannya yang semula dua orang kini bertambah menjadi 28 orang. Omset yang dibukukan mencapai lebih dari Rp100 juta per bulan.

Berapa marjin keuntungan yang didapat Ririn? Setengah membuka rahasia, Ririn menyebut kisaran angka 15% sampai 20%. Artinya, laba bersih Ririn mencapai Rp15 juta sampai Rp20 juta sebulan.

"Karena permintaan semakin besar, saya tidak hanya mendatangkan bahan baku dari Gresik, tapi juga dari Lamongan dan Probolinggo. Dalam sebulan, produksi saya mencapai 5-6 ton," bebernya.

Harga termurah produk Family Food sebesar Rp16.000 untuk ukuran 0,25 kilogram.

Kini, Ririn masih belum puas. Dia ingin membawa Family Food melambung lebih tinggi lain. Pendekatan pemasaran modern pun dikembangkan agar penetrasi produk Family Food semakin kuat.

"Sekarang kami sudah selesai menciptakan desain baru untuk kemasan produk. Jadi produk kami tak lagi dikemasi ke plastik biasa lalu diberi stiker. Sekarang kemasannya sudah cetakan modern," ujar Ririn bangga.

Tak hanya itu, Ririn pun membentuk tim khusus yang menangani pemasaran. Dengan tim khusus itu diharapkan pemasaran Family Food bisa lebih gencar, termasuk ke gerai ritel modern seperti hipermarket maupun minimarket.

"Sebelum ini tidak ada tim pemasaran secara khusus. Biasanya saya tangani sendiri. Sekarang sudah ada tim khusus yang terpisah dari produksi. Tim itu nanti yang kerjanya menciptakan jaringan baru. Harus ada tim khusus biar fokus," ujar Ririn. kbc5

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda
Kurs USD-IDR
11/26/2014
12.187
IHSG
11/26/2014
5.112,73
-6,22 (-0,12%)