loading...
Kategori
PerspektifOpini
Mode Baca

Memimpikan mata uang tunggal global

Online: Kamis, 21 Mei 2009 | 16:24 wib ET

Muhamad Nafik H.R
Dosen Ekonomi Islam FE Unair

Mata uang tunggal global dalam sejarah perekonomian dunia sebenarnya bukanlah hal yang baru, melainkan merupakan sistem yang telah berlaku sejak perdagangan global kuno. Uang pertama kali digunakan dalam perdagangan antarnegara pada 700-an sebelum Masehi, yaitu perdagangan antara kerajaan kuna yaitu Assyria dengan Lydia. Kedua kerajaan tersebut terletak di lembah sungai Euphrat dan Tigris. Sejak saat itu bangsa-bangsa lain di dunia mulai menggunakan uang dalam perdagangannya sehari-hari.

Mata uang pada masa sebelum Masehi terbuat dari bahan kulit binatang, kulit kerang, baru mulia, gigi dan sebagainya. Uang logam pertama diperkenalkan di Eropa tepatnya di kerajaan Romawi. Para kafilah dagang Arab pra-Islam pada waktu berdagang dengan negara-negara eropa telah menggunakan mata uang logam yaitu denarius (emas) dan drachma (perak), temasuk Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul.

Nabi Muhammad SAW setelah diangkat menjadi Nabi dan Rasul yaitu pada saat menjabat kepala pemerintahan di Madinah, Beliau mengadopsi dua mata uang Romawi tersebut dengan nama dinar dan >dirham. Kedua uang itu tetap diimpor dari Romawi dan baru sepeninggal Nabi Muhammad SAW yaitu masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan baru mulai mencetak uang sendiri.

Penggunaan mata uang emas dan perak ini masih umum dalam perdagangan antarnegara hingga masa merkantilisme. Masa Adam Smith di Inggris, mata uang emas dan perak juga masih berlaku. Namun penggunaan uang logam lama kelamaan mulai surut karena dianggap tidak praktis lagi dengan kompleknya hubungan ekonomi antarnegara.

Maka mulailah muncul pemikiran membuat mata uang yang lebih praktis yaitu uang kertas. Uang pada masa itu hanya berfungsi sebagai alat pengukur nilai dan alat tukar dalam perekonomian, sehingga perdagangan dunia berjalan lancar tanpa adanya flutuasi nilai uang yang dikarenakan perilaku spekulasi dalam valas. Karena uang yang berlaku dalam perdagangan internasional pada waktu itu hanya mata uang emas dan perak. Dan mata uang ini berlaku di setiap negara atau menjadi mata uang tunggal saat itu.

Emas dan perak pada era ekonomi moderen memang tidak lagi digunakan sebagai mata uang, tetapi pencetakan uang tetap dikaitkan dengan emas. Era emas berakhir 1971 setelah Amerika Serikat (AS) mengingkari kesepakatan Bretton Woods pada 1944. Isi kesepakatannya adalah AS berjanji mendukung Dolar-nya dengan emas. Dengan kesepakatan ini, maka siapapun yang memegang Dolar AS dapat menukarnya dengan emas.

Alasan terselubung mengapa AS membatalkan secara sepihak kesepakatan Bretton Woods adalah karena jumlah Dolar AS yang beredar di luar negeri sangat banyak dan tidak sebanding dengan cadangan emasnya, sehingga apabila terjadi penukaran Dolar AS dengan emas secara besar-besaran tidak akan cukup. Dampaknya Dolar AS akan jatuh dan perekonomian AS akan dilanda krisis. Di sisi lain AS berharap mata uangnya akan mendominasi perekonomian dunia karena memang Dolar AS saat itu telah banyak beredar di luar negeri. Siasat ini sebenarnya merupakan model imperialisme baru dengan mengunakan kekuatan rejim moneter.

Sejak bubarnya kesepakatan Bretton Woods tersebut memang Dolar AS mulai mendominasi sebagai alat tukar internasional. Strategi ini sangat berhasil mendominasi perekonomian dunia dengan memaksakan Dolar AS sebagai alat tukar internasional, khususnya kepada negara-negara berkembang. Imperialisme Dolar AS telah terbukti menghancurkan perekonomian negara-negara yang tidak tunduk pada negara adi daya itu, seperti Mexico, negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia yang mengalami krisis moneter pada 1997.

Stabilitas nilai tukar uang sekarang ini menjadi sumber permasalahan utama dalam perekonomian. Puncak masalah yang pernah terjadi adalah krisis keuangan global pada akhir 2008. Krisis ini telah memporakporandakan perekonomian dunia, khususnya Amerika Serikat, si pengkhianat kesepakatan Bretton Woods. Mungkin ini merupakan hukum karma bagi Amerika Serikat atas pengkhianatan tersebut.

Ancaman jahatnya fluktuasi nilai tukar uang tersebut sampai membuat Bank Indonesia menjadikan menjaga stabilitas rupiah sebagai tujuan utamanya. Walaupun untuk mencapai tujuan tersebut terkadang dengan menganaktirikan (baca mengorbankan) sektor ekonomi lainnya.

Krisis finansial global di akhir 2008 tersebut, kalau dicermati, lebih disebabkan pengingkaran terhadap khitah fungsi uang. Fungsi uang sebagai alat tukar dan pengukur nilai telah diingkari dengan mengubahnya menjadi komoditi dan ajang maisir dan gharar. Dampaknya adalah pelaku ekonomi kurang tertarik pada ekonomi sektor riil, dan uang lebih banyak berputar di sektor finansial sehingga terjadi ketidakseimbangan antara kedua sektor tersebut. Karena keuntungan di sektor finansial lebih tinggi walaupun dengan risiko lebih tinggi pula. Dampak selanjutnya adalah krisis sosial ekonomi yang akan sulit dipecahkan. Ancaman krisis tersebut dapat dihindari dengan cara memberlakukan mata uang tunggal global.

Mata uang tunggal global tidak harus menggunakan dinar dan dirham seperti pada masa lalu. Melainkan mata uang tunggal global yang berlaku dimana saja. Uang dapat terbuat dari dari bahan apa saja bukan merupakan permasalahan, asalkan bahan uangnya memenuhi syarat sebagai bahan mata uang yaitu memiliki nilai tertentu atau ditentukan, tidak mudah rusak, mudah dibawa dan jika didistribusikan atau dibagi tidak merusak nilainya.

Apabila mata uang tunggal global diberlakukan, maka hubungan ekonomi, perdagangan dan harga-harga akan lebih ditentukan oleh produktivitas, efisiensi dan kualitas. Perencanaan ekonomi dan bisnis tidak perlu lagi mengasumsikan berapa nilai tukar valas khususnya pada hard currency, sehinga kepastian nilai dan harga baik ekspor maupun impor lebih mudah diestimasi. Untung atau rugi karena fluktuasi kurs mata uang tidak akan terjadi lagi dan mobilitas antarnegara akan mudah dan murah. Dalam kondisi yang demikian, ekonomi dunia akan dinamis dan lebih efisien serta uang akan kembali pada kitah-nya.

Penerapan uang tunggal global tentu tidak akan mudah tetapi pasti akan mendapat tentangan dari negara pemilik hard currency seperti Dolar AS dan Poundsterling Inggris, serta para spekulan valas juga akan menolak keras. Sedangkan negara-negara yang mata uangnya tergolong soft currency sangat mungkin akan lebih mudah menerima. Mereka selama ini merasa ekonominya selalu menjadi bulan-bulanan dan dihegomoni oleh hard currency. Penyamaan persepsi inilah yang akan menjadi hambatan terberat dalam penerapan uang tunggal global. Namun, walaupun berat tetapi harus dimulai jika tidak ingin terjadi krisis demi krisis yang semakin cepat dan tanpa terduga.

Dunia mestinya belajar dari kesuksesan Euro sebagai mata uang tunggal di Uni Eropa dan keegoisan Inggris yang tidak mau ikut dalam Euro. Euro yang dalam perjalanannya mampu mengalahkan Dolar AS dan Poundsterling Inggris. Apabila negara pemilik hard currency menghambat sebaiknya ditinggal saja, seperti saat Uni Eropa memberlakukan Euro dengan meninggalkan Inggris. Biarkan saja mereka berpikir tidak memerlukan mata uang tunggal global karena merasa kuat dan takut akan kehilangan hegemoni ekonominya, paling nanti nasibnya akan sama seperti Poundsterling Inggris.

Penerapan uang tunggal global harus diawali dengan penyamaan persepsi diantara negara-negara di dunia, kemudian membentuk badan internasional yang memiliki otoritas dalam pemberlakuannya, baik menyangkut jumlah, penjatahan, distribusi, nilai nominal, bahan uang dan sebagainya. Yang jelas penerapan uang tunggal global ini bukan nerupakan permasalahan yang mudah, serta mungkin butuh waktu persiapan yang lama maupun biaya yang tidak murah.

Tetapi karena urgent, maka harus dilakukan studi dan kajian yang mendalam demi stabilitas perekonomian global di masa sekarang dan masa akan datang. Dengan demikian mata uang tunggal global merupakan impian ekonomi dunia di masa akan datang. Semoga bermanfaat!

*) Direktur Islamic Finance Development Institute (IFDI)

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda
Kurs USD-IDR
12/23/2014
12.472
IHSG
12/23/2014
5.146,23
20,46 (0,40%)