Widjojo Nitisastro dan cerita Mafia Berkeley

Widjojo Nitisastro
PROF WIDJOJO NITISASTRO meninggal dunia pada Jumat (9/3/2012) pukul 02.20 WIB. Guru Besar FE Universitas Indonesia tak hanya dikenal sebagai ekonom andal, tapi dia juga mampu menjadi aktor di balik hampir semua kebijakan ekonomi Orde Baru.
Widjojo menjadi Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional periode 1971-1973 dan Menko Ekuin sekaligus merangkap sebagai Ketua Bappenas pada periode 1973-1978 dan 1978-1983. Peran Widjojo setelah itu masih sangat kental. Dia seolah bermain di balik layar atas kebijakan ekonomi pemerintah.
Widjojo disebut sebagai teknokrat generasi pertama di era Orde Baru. Teknokrat adalah sebutan bagi para akademisi yang terjung ke gelanggang kebijakan pemerintah secara langsung. Sejumlah buku menyebut, kelompok Widjojo di dekade 1990-an "berebut" pengaruh dengan teknokrat di kubu BJ Habibie. Begitu Habibie naik menjadi Presiden menggantikan Soeharto pada 1998, Widjojo tak lagi punya banyak pengaruh.
Namun, selepas Habibie lengser, Presiden Abdurrahman Wahid meminta Widjojo untuk memimpin Tim Ekonomi Indonesia dalam perundingan dengan para kreditor luar negeri.
Satu julukan yang kental dengan Widjojo adalah Mafia Berkeley. Dia disebut menjadi pemimpin informal dari sekelompok intelektual lulusan University of California, Berkeley, yang mendesain pembangunan ekonomi Indonesia. Anggota Mafia Berkeley, antara lain, Emil Salim, Ali Wardhana, dan J.B. Soemarlin, Dorodjatun Koentjoro-Jakti. Tapi, dalam sejumlah kebijakan, sebenarnya para tokoh itu tak selalu satu kata.
Sebutan Mafia Berkeley pertama kali disampaikan oleh seorang aktivis-penulis "kiri" AS, David Ransom, dalam sebuah majalah bernama Ramparts, edisi 4 tahun 1970. Ketika itu adalah awal-awal Widjojo mulai berpengaruh di Indonesia. Widjojo disebut sebagai antek asing, liberal, dan mengobral murah ekonomi Indonesia.
Widjojo ketika menyusun model perencanaan pembangunan dalam Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Model ini, sebagaimana banyak dibahas dalam studi ekonomi, merujuk pada konsep modernisasi ala WW Rostow. Widjojo menekankan pada aspek pertumbuhan ekonomi. Asumsinya, ketika kue ekonomi membesar, akan ada tetesan ke bawah (trickle down effect).
Di awal era Orde Baru, Widjojo sukses melakukan perbaikan ekonomi. Inflasi yang saat itu menembus 600% berhasil dikendalikan. Tapi kemudian Widjojo mendapat kritikan tajam terkait pertumbuhan semu di era Orde Baru, yang puncaknya adalah krisis 1997/1998.
Tapi, bagaimana pun, seperti kata mantan Wapres Jusuf Kalla hari ini, Widjojo berperan meletakkan dasar ekonomi republik ini. Selamat jalan, begawan... kbc2
- Nilai tukar rupiah terhadap USD hari ini Rp 9773.00
- Indeks Harga Saham Gabungan hari ini -86.596 menjadi 5121.403
- Pilihan Editor: Terdesak impor, Kadin-KPPI gencar sosialisasi safeguards di Jatim
- Pensiun, Beckham gandeng bos Manchester City beli tim MLS?
- Rambah bisnis ponsel, Jennifer Lopez gaet Verizon
- Awas informasi pribadi Anda disalahgunakan situs belanja online
- Bos Bulog berbagi kisah sukses dengan siswa SMA di Jatim
- Freeport beri beasiswa anak korban terowongan runtuh
- Berniaga.com: Investasi kami cukup untuk 5 tahun ke depan
- Pelanggan Indovision kini bisa tonton TV di tablet
- Gelar Pasar Meriah, berniaga.com temukan penjual-pembeli
- Eddy William Katuari dan kepak sayap Grup Wings
- Arum Sabil, dari tukang foto keliling hingga Anggota DGI
- Dymas, dari ayam bakar sampai ojek motor
- Mengurus BUMD kurang sukses, ditugasi jadi Dirut PLN?
- Teguh Kinarto, transformasi sang tukang kredit keliling
- Hotbonar Sinaga sang Man of the Year
- Bukik dan ide tolol perubahan
- Hikayat krisis, hikayat Maryono
- Ketut Mardjana jadi bos kantor pos se-ASEAN
- Upik, dari Perhutani ke bos BUMN benih
- Di-CT Scan Profesor Hafid, Dahlan sehat-sehat saja
- Maryono, dari Bank Mutiara jadi bos BTN
- Komitmen anti-suap bos perusahaan setrum
- Wamen ESDM yang suka "ngojek"
- Anindya: Tripartit harus dijalankan
- Pejabat grup Bakrie pimpin insinyur se-Indonesia
