loading...
Kategori
TeknologiTelekomunikasi
Mode Baca

Perkuat pasar, BTEL beli Sampoerna Telekomunikasi

Online: Rabu, 14 Maret 2012 | 21:27 wib ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Guna lebih memperkuat posisinya di pasar telekomunikasi dalam negeri, PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dan PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (STI) bersinergi. Langkah ini dibuktikan dengan dilakukannya penandatanganan Penjualan Bersyarat Perjanjian Jual Beli antara BTEL dan Sampoerna Strategic dan Polaris, yang bertindak sebagai pemegang saham STI di Jakarta, Rabu (14/3/2012) ini.

BTEL sendiri memperoleh 35 persen dari saham STI dengan perjanjian dalam tiga tahun ke depan akan menjadi pemegang saham mayoritas. Sebagai imbalannya Sampoerna Strategic akan menjadi pemegang saham BTEL.

Presiden Direktur BTEL Anindya Bakrie mengatakan, pihaknya dan pemegang saham STI setuju mengintegrasikan operasi bisnis di bawah satu manajemen BTEL. Langkah itu ditujukan untuk mempercepat penetrasi penawaran konvergensi mobile untuk setiap pelanggan di Indonesia.

"Kerja sama strategis ini akan menciptakan nilai tambah yang signifikan bagi entitas baru di empat bisnis utama untuk mencapai keunggulan operasional, keuangan, pelayanan dan kepuasan pelanggan," kata Anindya.

Presiden Direktur Sampoerna Strategic, Michael Sampoerna menambahkan, dengan kerjasama itu, pihaknya berharap bisa berbagi dalam model bisnis BTEL yang lebih cepat, lebih baik, dan paling terjangkau, yang terbukti sangat efektif dalam merevolusi konektivitas suara dengan mengurangi hambatan harga dan tarif. Ini juga terjadi dalam sistem komunikasi data.

"Seperti kita ketahui, pertumbuhan komunikasi data lambat, karena tingginya investasi infrastruktur berat, harga satuan yang lebih rendah, dan skala yang lebih lambat sampai adanya persaingan yang ketat. Dengan sinergi ini kami bisa meningkatkan bisnis lebih cepat dan lebih besar dalam rangka melayani dan bersaing," ujar Michael.

Secara teknis keuntungan dari BTEL jelas. Frekuensi 6,25 MHz milik STI dalam 450MHz band akan menambah kapasitas yang cukup untuk BTEL sehingga bisa menawarkan biaya konektivitas data mobile yang lebih rendah, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan eksponensial perusahaan.

Di sisi lain, BTEL memiliki frekuensi 800 MHz band sehingga tentunya akan memberi tambahan kapasitas yang besar untuk perusahaan dalam meningkatkan penetrasi konektivitas suara berbiaya rendah di Jakarta, Banten dan Jawa Barat.

Di wilayah itu, BTEL sudah mendominasi dengan pangsa pasar 40 persen untuk CDMA. Dengan berintegrasi dengan penetrasi STI di daerah pedesaan Jawa, Sumatera, Nusa Tenggara Kepulauan dan Bali, juga akan lebih mudah bagi BTEL baru untuk memperbesar pasar di luar Jawa. kbc10

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda
Kurs USD-IDR
11/24/2014
12.153
IHSG
11/24/2014
5.141,76
29,72 (0,58%)