loading...
Kategori
PerspektifOpini
Mode Baca

Binatang Ekonomi Jalan Raya

Online: Jum'at, 30 Maret 2012 | 13:43 wib ET

JALAN RAYA merupakan infrastruktur sosial-ekonomi yang kerusakannya paling repetitif serta sangat kasat mata. Tambal sulam bentangan jalan raya lalu menjadi semacam drama yang tak berkesudahan. Hanya dalam jangka waktu singkat, jalan raya yang mulus kembali rusak dan musti dipermak ulang. Bagaimana realitas buruk ini dimengerti? Adakah suatu model regulasi yang bisa dikedepankan untuk mengelakkan kecenderungan agar tambal sulam jalan raya tak berlangsung repetitif?

Abnormalitas

Jawab terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya terkait erat dengan apa yang disebut "binatang ekonomi jalan raya". Sejalan dengan fungsinya, jalan raya merupakan tulang punggung bagi terciptanya konektivitas perekonomian masyarakat. Pemindahan produk atau komoditas dari satu titik ke titik lain di atas bentangan geografis, membutuhkan jalan raya sebagai faktor penghubungnya. Tetapi ternyata, tidaklah sederhana pelaksanaan peran konektivitas jalan raya. Semakin tinggi populasi kendaraan yang bergerak di jalan raya, maka tak terelakkan timbulnya kompetisi memperebutkan pemanfaatan jalan raya.

Ketika kompetisi memperebutkan ruang di jalan raya berada dalam derajat yang kian ketat, maka semakin terasa kedudukan jalan raya sebagai sumber daya yang diperebutkan. Perkembangan dari waktu ke waktu kian mengukuhkan posisi jalan raya sebagai sumber daya yang sangat vital. Pertarungan memperebutkan ruang di jalan raya bukan saja terkait dengan faktor laju kecepatan kendaraan bermotor mencapai titik-titik tujuan. Lebih dari itu, terjadi perlombaan untuk memperbesar tonase produk atau komoditas yang diangkut dengan kendaraan bermotor. Tonase melebihi kapasitas itulah yang kemudian dengan sangat telak merusak keberadaan jalan raya.

Sekadar catatan, sesungguhnya menarik memerhatikan komparasi berikut ini. Di Jepang, truk angkutan barang dengan panjang 12 meter, bobot maksimumnya ternyata 25 ton barang. Di Indonesia, truk yang sama ternyata bobot maksimumnya berada pada kisaran 30 ton hingga 50 ton barang. Dengan kenyataan itu sudah sangat jelas, bahwa jalan raya memikul beban transportasi barang yang melampaui kemampuan normalnya. Diakui atau tidak, terjadi penistaan terhadap jalan raya.

Aksiden atau Sistemik?

Hingga beberapa tahun ke depan, realitas buruk ini akan terus bergulir. Itu karena, hingga kini tak tersedia suatu kerangka regulasi yang bersifat fundamental. Regulasi dimaksud adalah menghentikan segenap kecenderungan buruk terciptanya “binatang ekonomi jalan raya”. Indikasi paling mudah untuk menyimak terlaksananya regulasi tersebut ialah jika setiap angkutan barang membawa produk atau komoditas dengan bobot normal. Pertanyannya, mungkinkah bobot normal itu bisa diwujudkan?

Binatang ekonomi jalan raya, tentu saja, tak lahir dari ruang vakum. Ada latar belakang yang rumit dan kompleks pada tingkat keterpengaruhan politik perekonomian nasional, hingga kemudian muncul binatang ekonomi jalan raya. Pemerintahan yang tak terkelola secara obyektif dengan sendirinya tak memandang penting normalitas. Pengaturan angkutan barang di jalan raya bergulir penuh dengan tawar-manawar berlandaskan banalitas kepentingan. Para pemilik barang dan perusahaan-perusahaan angkutan menumpahkan ambisi untuk melakukan mobilisasi dengan tonase di atas normal.

Binatang ekonomi di jalan raya kehadirannya lalu dideterminasi oleh dua faktor. Pertama, pragmatisme aktor-aktor ekonomi yang menghamba pada totalitas upaya-upaya sengit mencetak keuntungan dalam jumlah besar. Untuk itu, barang diangkut berdasarkan volume di atas normal. Bila untuk itu harus dikeluarkan biaya sogok dan pungutan liar, maka itu dipersepsi sebagai keniscayaan. Tanpa bisa dielakkan, di sini lalu muncul problema moral dan etis dari penggunaan infrastruktur jalan demi mewadahi ambisi komersialistik aktor-aktor ekonomi.

Kedua, binatang ekonomi jalan raya muncul sebagai akibat logis dari masih bercokolnya aparat pemerintahan bermental korup. Sebagai perilaku bersukma penyimpangan, perilaku korup aparat pemerintah terus-menerus membutuhkan mangsa. Jika angkutan barang dengan tonase di atas normal tiba-tiba terkonfigurasi mangsa yang menggiurkan, maka kontrol terhadap angkutan barang takkan pernah disertai oleh kejelasan akuntabilitas. Maka, repetisi kerusakan jalan raya bukan sesuatu yang bersifat aksiden. Repetisi kerusakan jalan raya bersifat sistemik, sebagai dampak langsung dari binatang ekonomi jalan raya yang tercipta berdasarkan proses perselingkuhan antara aparat-aparat korup dan aktor-aktor ekonomi super-pragmatis.

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda
Kurs USD-IDR
9/20/2014
11.989
IHSG
9/19/2014
5.227,58
19,44 (0,37%)