Transportasi perdagangan RI tertinggi di dunia

Kamis, 03 Mei 2012 | 15:18 WIB ET

YOGYAKARTA, kabarbisnis.com: Salah satu penyebab lemahnya daya saing produk dalam negeri adalah karena tingginya biaya transportasi perdagangan di negara ini.

Berdasar data yang ada, rata-rata biaya transportasi perdagangan di Indonesia mencapai 14,42 persen dari total biaya produksi, atau 27 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini merupakan yang tertinggi di dunia. Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat (AS), biaya transportasi perdagangan hanya sekitar 9 persen dari PDB.

Deputi Kemenko Perekonomian bidang Koordinasi Industri dan Perdagangan, Edy Putra Irawady mengatakan, akibat biaya logistik yang mahal, berbagai komoditas atau produk dalam negeri tidak mampu bersaing dengan produk-produk dari luar.

"Salah satu efek nyata adalah membanjirnya jeruk Shanghai di Indonesia," kata Edy pada sosialisasi Perpres Nomor 26 Tahun 2012 tentang Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional di kampus UGM, Kamis (3/5/2012).

Menurut Edy, sistem logistik yang tidak efisien juga menciptakan disparitas harga antardaerah, kelangkaan komoditi di suatu daerah, keterpencilan suatu daerah, dan sebagainya.

Oleh karena itu, jika Indonesia tidak segera membenahi sistem logistik berbasis maritim, selayaknya Indonesia sebagai negara kepulauan, maka Indonesia tidak akan mampu mengambil keuntungan. Biaya transportasi perdagangan akan selalu mahal.

"Kita harus lari cepat segera membenahi sistem logistik nasional jika ingin masyarakat negeri ini menjadi lebih makmur. Terlebih kita sudah mencanangkan pendapatan per kapita 16.000 dollar AS pada tahun 2025 nanti," kata Edy.

Pakar dari Center for Logistics and Supply Chain Studies, ITB, Y Anggadinata mengajukan konsep mengenai dry port atau pelabuhan darat guna meminimalisir biaya transportasi. Terutama bagi industri menengah kecil yang berskala ekspor. Anggadinata mencontohkan Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya yang semestinya saling terhubung melalui fasilitas pusat logistik yang bisa dimanfaatkan industri menengah kecil sehingga biaya transportasi bisa ditekan lebih murah.

"Selama ini biaya yang harus dikeluarkan industri menengah kecil untuk ekspor relatif mahal dan tak efisien. Karena itu, produk mereka perlu dikumpulkan lebih dulu dalam satu kontainer di pelabuhan darat dengan biaya yang bisa ditanggung bersama, sebelum diekspor melalui pelabuhan laut," kata Anggadinata.

Di pelabuhan darat itu, lanjut Anggadinata, segala administrasi termasuk kepabeanan dan kargo harus bisa diselesaikan. "Dengan begitu, biaya industri bisa ditekan lebih murah karena produknya tinggal dimasukkan ke pelabuhan laut untuk diekspor," pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: