loading...
Kategori
Aneka BisnisIndustri
Mode Baca

Bahan baku impor bebani laba Suparma

Online: Rabu, 30 Mei 2012 | 16:25 wib ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Terus melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS membuat PT Suparma Tbk sedikit galau. Pasalnya, hingga kini produsen kertas ini masih harus mengimpor sebagian bahan baku, selain juga masih adanya tanggungan utang dalam bentuk dolar AS.

Direktur PT Suparma Tbk, Hendro Luhur mengatakan, kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sudah menembus angka Rp 9.600 per dolar AS cukup mengganggu kinerja perseroan dan bahkan industri manufaktur yang menggantungkan bahan baku impor.

"Di tempat kami, sekitar 35 persen bahan baku yakni pulp dengan serat panjang masih harus diimpor. Untuk mengalihkan bahan baku ke lokal tidak semudah itu, mengingat beberapa produk kita memerlukan bahan baku dengan serat panjang," kata Hendro usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Surabaya, Rabu (30/5/2012).

Dengan kenyataan itu, pihaknya tak bisa memprediksi laba bersih perseroan dalam tahun ini. Pasalnya, dengan kenyataan bahwa kurs dolar AS masih bergerak liar, yang menyebabkan harga bahan baku mengikuti kurs dolar AS, sementara harga jual produk disesuaikan dengan harga kertas dunia.

"Oleh karena itu kami tak berani menargetkan laba tahun ini. Yang ada hanya target penjualan bersih 2012 sebesar Rp 1,3 triliun," ungkapnya.

Menurutnya, kinerja laba bersih masih tergantung pada kondisi makro Indonesia. Terutama menyangkut fluktuasi yang terjadi pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Selain terkait bahan baku, fluktuasi dolar AS juga sedikit banyak memengaruhi kinerja perseroan, mengingat masih adanya pinjaman yang hingga akhir Desember 2011 posisinya sebesar 34 juta dolar AS.

Otomatis, lanjut dia, kenaikan nilai tukar tersebut akan menyebabkan kenaikan beban bunga. Bahkan jika nilai tukar tersebut tembus Rp 10.000 per dolar AS akan ada kenaikan beban bunga sebesar 5,5 persen.

Dipaparkan Hendro, sektor manufaktur sebenarnya cukup berkepentingan dengan kondisi nilai tukar yang stabil atau fluktuasinya tidak cepat. Namun posisi yang nyaman untuk industri adalah di kisaran Rp 9.200 per dolar AS.

Untuk itu, ia berharap pemerintah segera melakukan sesuatu untuk dapat menahan laju nilai tukar tersebut. Dengan begitu pelaku industri bisa segera melakukan kalkulasi margin. kbc7

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda
Kurs USD-IDR
11/28/2014
12.249
IHSG
11/28/2014
5.149,89
4,57 (0,09%)