loading...
Kategori
PerspektifOpini
Mode Baca

Uang, Perdagangan Valas US$ dan Krisis

Online: Jum'at, 05 Juni 2009 | 19:09 wib ET

Ekspor uang US$ ke berbagai belahan dunia, telah memicu perdagangan US$ dan mata uang lainnya. Volume transaksi yang terjadi di pasar uang (currency speculation dan derivative market) dunia berjumlah US$ 1.5 trillion hanya dalam sehari, sedangkan volume transaksi yang terjadi pada perdagangan dunia di sektor real hanya US$ 6 trillion setiap tahun (Rasio 500:6). Bahkan catatan terbaru menyatakan bahwa perdagangan valas pada tahun 1989 sebesar US$ 500 milyar per hari, namun pada tahun 2007 menjadi US$ 3,2 trilion atau 6 kali lipat dalam tempo 8 tahun. Hal tersebut dikarenakan return dari saham, obligasi dan mortgage dianggap rendah, maka pilihan spekulan adalah perdagangan valas ini.

Perdagangan mata uang kalau tidak dikendalikan bisa berbahaya. Sepanjang abad 20, Roy Davies dan Glyn Davies (1996) dalam buku mereka A History of Money from Ancient Times to The Present Day), telah terjadi lebih dari 20 krisis (kesemuanya merupakan krisis sektor keuangan).

Sejarah Krisis Ekonomi, Uang dan Bankan, Standar Emas

Terlalu banyaknya bank, uang dibuat tanpa jaminan dan adanya konsep bunga-berbunga, mengakibatkan jumlah uang terus bertambah tidak hanya M1, M2 tetapi juga M3. Kondisi itu juga mengakibatkan inflasi permanen. Sejarah telah menceritakan hal tersebut.

Antara tahun 1860 hingga 1921, jumlah bank di USA meningkat 19 kali lipat. Peningkatan jumlah bank mengakibatkan peningkatan jumlah uang, sehingga terjadi krisis di perbankan New York pada 1907. Standar emas digunakan oleh negara superpower antara tahun 1880 hingga 1914, hingga didirikannya FED tahun 1913. Ketika terjadi perang Dunia I, rezim uang emas runtuh pada tahun 1915. Depresi ekonomi merembet ke Jepang tahun 1920 dan Jerman mengalami hyper inflation pada tahun 1922-1923. Tahun 1924 , Jerman kembali menggunakan standar Emas dan disusul Inggris tahun 1925 .

Akibat banyaknya bank yang berdiri dan terkena hantaman krisis, maka terjadi krisis keuangan di Jepang dan Taiwan tahun 1927. Di jepang terdapat 37 bank ditutup. Pada tahun 1928 Prancis menggunakan standar emas kembali. Tahun 1929 terjadi The Great Crash di pasar modal NYSE dan terjadi The Great Depression di Usa, hingga Net national produknya terpangkas hinga separuh.

Tahun 1931 Austria mengalami krisis perbankan akibat kejatuhan perbankan Jerman, keadaan tersebut mengakibatkan berfluktuasinya mata uang internasional dan Inggris akhirnya meninggalkan standar emas, disusul Jepang. Pada tahun 1931 tersebut 75 % cadangan emas dunia dikuasai USA dan Prancis.

Pada tahun 1934 USA meninggalkan standar emas. Namun pada tahun 1944 IMF berdiri dan menerapkan Fixed rate Exchange system dengan kesepakatan Bretton Woods dimana 1 ons emas senilai US$ 35.

Antara tahun 1950 sampai 1972 boleh dikata adalah tahun tidak kritis, sebagai penerapan kesepakatan Bretton Woods, yang mengeluarkan regulasi di sektor moneter relatif lebih ketat (Fixed Exchange Rate Regime). Disamping itu IMF memainkan perannya dalam mengatasi anomali-anomali keuangan di dunia. Jadi regulasi, khususnya di perbankan dan umumnya di sektor keuangan, serta penerapan rezim nilai tukar yang stabil, membuat sektor keuangan dunia (untuk sementara) “tenang”.

Namun pada tahun 1971, Kesepakatan Breton Woods runtuh (collapsed). Pada hakikatnya perjanjian ini runtuh akibat sistem dengan mekanisme bunganya tak dapat dibendung untuk tetap mempertahankan rezim nilai tukar yang fixed exchange rate. Antara tahun 1971 hingga 1973 diadakan Kesepakatan Smithsonian (1 Ons emas = 38 USD). Dicoba untuk menenangkan kembali sektor keuangan dengan perjanjian baru. Namun hanya bertahan 2-3 tahun saja. Tahun 1973 Amerika benar-benar meninggalkan standar emas. Akibat terjadi hukum “uang buruk (foreign exchange) menggantikan uang bagus (dollar yang di-back-up dengan emas)-(Gresham Law)”. Dan sejak 1973 dimulainya spekulasi mata uang sebagai dinamika baru di pasar moneter konvensional akibat penerapan floating exchange rate system. Spekulasi itu di pasar modal, uang, obligasi dan derivative. Akibatnya berantainya, pada tahun 1973 hingga 1974 terjadi kembali krisis perbankan di Inggris; akibat Bank of England meningkatkan kompetisi pada supply of credit.

Perang Timur Tengah di tahun 1970an hingga 1980an juga mengakibatkan Deep recession di negara-negara industri akibat boikot minyak oleh OPEC, yang kemudian membuat melambung tingginya interest rate negara-negara industri.

Dapat diingat juga bahwa pada tahun kisaran 1987, 1992 , 1997, 2002 dan terakhir 2007 relatif juga terjadi akibat krisis keuangan. Contoh yang cukup dahsyat krisis keuangan misalnya serangan George Soros 1992 atas UK Pound, dengan menjual senilai $ 10 Milyar atas British Pound, dan akhirnya poundsterling terdevaluasi, ini dikenal “Black Wednesday”. Soros untung US$ 1 milyar. Bank Sentral Inggris pun KO oleh spekulasi Soros. Krisis Asia 1997, menurut Mahathir juga disebabkan permainan Soros. Mahathir sempat menyatakan,” too much power & not accountable enough to the public,”.

Uang yang telah menjadi komoditi perdagangan dan nilainya yang cenderung membesar juga mengakibatkan penumpukan harta pada sekelompok orang/negara (money concentration & creation), dimana hal tersebut berpotensi terjadinya misalokasi produksi (menghambat perkembangan sektor riil dan eksploitasi perekonomian (eksploitasi pelaku ekonomi atas pelaku yang lain dan eksploitasi sistem atas pelaku ekonomi).

Krisis keuangan menimbulkan gangguan-gangguan dalam sektor riil, seperti inflasi dan penurunan produktifitas ekonomi makro. Sistem moneter saat ini tidak menciptakan aktifitas ekonomi yang adil, stabil dan sustainable.

Hutang negara berkembang lebih dari tiga trillion US dollars dan masih terus tumbuh. Hasilnya adalah setiap laki-laki, wanita, anak-anak di negara berkembang (80% dari populasi dunia) memiliki hutang USD 600, dimana pendapatan rata-rata pada negara yang paling miskin kurang dari satu dollar perhari (untuk Indonesia utang perkepala USD 900.

Lebih lanjut seperti dikutip dari paper BI disebutkan, Barberton dan Lane bahkan memprediksikan sebuah krisis yang akan memukul system keuangan barat hingga keakarnya. Mereka berpendapat bahwa sistem finansial barat sejak awal 1970-an sudah sangat tergantung dengan hutang (debt addiction). Negara maju lebih suka menghutangkan uangnya kepada negara-negara miskin dan berkembang daripada membangun industri dalam negerinya.

Sementara itu mantan direktur Bank of England, Lord Josiah Stamp, dalam pernyataannya menggambarkan bagaimana kekuasaan sebuah bank menggunakan bunga sebagai senjatanya.

Roy Culpeper (1999) dalam artikelnya mengatakan dengan tegas dan jelas bahwa kesalahan bukanlah terletak pada manusia-manusia dibalik pembuatan kebijakan dalam sebuah sistem perekonomian, tapi adalah sistem itu sendiri yang menjadi sumber dari semua kekacauan ekonomi.

Dari sejarah diatas dapat diketahui kapan masa yang stabil, yakni periode tahun ‘50an hingga awal ‘70an. Sewaktu IMF menganut gold standard, sistem moneter dapat dikelola secara interdependen antara sistem currency, ia menjadi anchor untuk kurs nilai tukar dan stabilitas inflasi. Setelah sistem ini dihapuskan maka fungsi yang sangat baik ini tidak jalan dan dunia memasuki era inflasi permanent. Kurs ditentukan oleh equlibrium yang dihasilkan melalui otomatisasi dan superpower harus diperhatikan dan dalam hal ini teman bertransaksi selalu diperlakukan sebagai musuh. IMF menjadi tidak berfungsi menjadi alat stabilitas keuangan setelah 1974. IMF dianggap menjadi konsultan debt monitor, yang seharusnya dilakukan swasta.

Robert Mundell (1997), seorang pemenang Nobel menyatakan bahwa emas akan menjadi bagian dari struktur sistem moneter internasional pada abad ke 21 tetapi tidak diterapkan dengan cara yang diterapkan masa lalu. Bisa disaksikan periode dimana gold standard sebagai periode yang sangat unik dalam sejarah manakala terjadi keseimbangan kekuasaan dan tidak seorang pun pemilik kekuasaan yang mendominasi.

Apakah Indonesia Mampu Menghadapi Resesi ?

Mampu atau tidak tergantung keadaan. Seperti halnya sebuah keluarga besar yang memiliki anak banyak, ketika terjadi resesi maka kemampuan bertahan dihitung dari berapa jumlah pendapatan dan pengeluaran keluarga ke depan yang akan diterima, termasuk cadangannya. Selama masih mampu, maka resesi tetap berdampak tetapi tidak akan parah bila disiapkan secara matang, karena resesi bukan untuk dihindari tetapi dihadapi.

Bila dilihat dari sudut pandang pendapatan dan pengeluaran ekpor Indonesia, dapat dilihat dari data berikut, sebenarnya Indonesia mampu, karena memiliki surplus. Problem utamanya adalah apakah hasil ekspor tersebut semuanya masuk ke perbankan Indonesia? Nampaknya belum, disinyalir hasil ekspor sebagian mampir dulu ke perbankan luar negeri. Apabila cadangan devisa saat ini sudah mencapai US$60 milyar ditambah hasil surplus ekpor-impor masuk ke Indonesia dan kemudian misal sebagian dikonversi ke emas, semestinya Indonesia mampu menghadapi. Tentu ini asumsinya bila saran Mundell diterima. Dari beberapa sumber menyebutkan China pun saat ini diduga kuat, hasil ekspornya sebagian dibentuk dalam emas. Strategi ini mirip cerita negara-negera eropa menukar cadangan US$ ke emas, seperti tahun ‘70an. Tentunya Indonesia juga bisa.

Kesimpulan dan Saran

Menghadapi ancaman krisis, tentu Indonesia harus memiliki strategi yang lebih mendasar. Kalau Indonesia tidak ingin dihisap oleh sistem moneter dunia, maka harus menciptakan sistem moneter alternative yang mampu melindungi sendi-sendi ekonomi bangsa. Cadangan devisa dapat tidak murni dalam bentuk US$, namun bisa dibentuk emas atau asset lain yang produktif. Membenahi sistem perbankan dan keuangan nasional. Misal, setiap hasil ekspor harus masuk dulu ke perbankan Indonesia.

Karena inflasi adalah sesuatu yang laten di sistem moneter saat ini, maka Bank Indonesia sebagai bank sentral, tidak mungkin tugasnya hanya mengendalikan inflasi dengan mengatur tingkat suku bunga saja, karena faktanya saat ini sudah sering terjadi anomali-anomali dalam perekonomian. Kebiasaan suku bunga mengikuti inflasi, terkadang sudah sulit untuk diaplikasikan, seperti halnya saat ini, dimana inflasi lebih tinggi dari suku bunga. Bank Indonesia mungkin dapat berinvestasi ke sarana investasi yang lebih riil tapi masih dalam kerangka yang marketable securities.. Kalaupun aturan semisal melarang perlu diterbitkan aturan baru. Supaya tidak menjadi beban negara, karena operasi menjaga rupiah, maka kedepan semestinya Bank Indonesia misalnya lebih sebagai custodian bank dan clearing bank bagi negara dan masyarakat, disamping tugas-tugas lainnya. Cukup riskan bagi BI untuk menghadapi spekulan global.

Indonesia harus berpikir, seperti halnya Uni Eropa dengan Euro. Mungkin harus berkoalisi dengan Thailand, Malaysia, China, Korea Selatan dengan membentuk mata uang baru. Karena kalau hanya menerima dominasi US$ dalam sistem perekonomian dan moneter saat ini, maka Indonesia tidak akan kuat, kalau sendirian. Adalah berbahaya kalau hanya bisa merasa kuat. Paper ini bukan dimaksud untuk anti US$ atau anti Amerika, karena rakyat Amerika pun saat ini juga sedang merasakan krisis keuangan. Untuk itu, paper ini tentu memerlukan pemikiran lebih lanjut dalam konteks melindungi Negara dan Rakyat Indonesia dari resesi global dan serangan spekulan.

*Diambil dari: IslamicEconomics.Wordpress.com

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda
Kurs USD-IDR
11/22/2014
12.155
IHSG
11/21/2014
5.112,05
18,48 (0,36%)