Tampung mi instan, Turki rayu RI cabut safeguard terigu

Senin, 29 Oktober 2012 | 08:48 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Hubungan perdagangan Indonesia dan Turki akan terus berkembang, menyusul upaya kedua negara dalam memperbaiki kerja sama di sejumlah sektor, salah satunya pembicaraan terkait antidumping dan safeguard komoditas mereka.

Perwakilan dari Asosiasi Eksportir Turki (Central Anatolian Export Association) Hakan Esen mengatakan, antara Indonesia dan Turki perlu duduk bersama untuk membahas masalah hubungan perdagangan dan merumuskan langkah selanjutnya dalam mengembangkan perdagangan kedua negara.

"Bila diperlukan, Indonesia dan Turki dapat membuat platform kerjasama perdagangan yang lebih menguntungkan kedua negara di masa yang akan datang," ungkap Hakan melalui keterangan tertulisnya, Minggu(28/10/2012).

Berdasarkan data Central Anatolian Export Association, sesudah tepung terigu impor masuk, ekspor mi dari Indonesia tiap tahunnya terus meningkat. Tahun 2011 ekspor produk mi meningkat 21 persen dari tahun sebelumnya. Dikhawatirkan bila bea masuk safeguard dikenakan, harga produk mi akan naik dan menjadi tidak kompetitif.

Atas dasar tersebut, Hakan kembali menegaskan bahwa Turki tidak pernah bermaksud untuk mengganggu industri terigu dalam negeri.

"Ada beberapa hal yang membuat terigu Turki sangat kompetitif, pertama Turki merupakan negara penghasil gandum dan memiliki akses yang cukup mudah dengan negara penghasil gandum lainnya seperti Rusia. Kedua, harga produk sampingan (dedak) yang lebih tinggi sehingga membuat harga terigu bisa kompetitif," papar Hakan.

Selain itu Hakan menyebutkan, Turki memiliki industri pakan ternak sangat besar dan permintaan terhadap pakan ternak lebih tinggi dari negara lain. Harga produk sampingan ini dijual lebih tinggi dari pada harga yang diberikan negara lain dan yang ketiga adalah biaya angkut (freight cost) ke kawasan timur jauh yang juga lebih terjangkau. kbc10

Bagikan artikel ini: