Penjualan Trias tergencet over supply di pasar

Rabu, 01 Mei 2013 | 18:17 WIB ET
(KB/Purna Budi Nugraha)
(KB/Purna Budi Nugraha)

SURABAYA, kabarbisnis.com: Terus meningkatnya pasokan produk plastik dan film kemasan di pasar global rupanya berdampak pada penurunan penjualan PT Trias Sentosa Tbk (TRST). Pasalnya, sepanjang tahun 2012 lalu penjualan perseroan mengalami penurunan sebesar Rp 76,7 miliar atau 3,8%, dari Rp 2,025 triliun pada 2011 menjadi Rp 1,949 triliun.

Dirut PT Trias Sentosa Tbk, Sugeng Kurniawan mengatakan, krisis ekonomi yang melanda sejumlah negara di Eropa serta masih belum bertumbuhnya perekonomian Amerika Serikat yang dibarengi dengan peningkatan suplai produk kemasan film fleksibel dari berbagai negara seperti India, China, dan Thailand membuat over supply produk tersebut di pasar.

"Ini membuat harga mengalami penurunan yang berdampak pada penurunan penjualan," kata Sugeng pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perseroan di Surabaya, Rabu (1/5/2013).

Memang, lanjut dia, penurunan penjualan yang cukup dirasakan adalah dari penjualan ekspor, dimana turun dari Rp 939,4 miliar pada 2011 menjadi Rp 831,2 miliar pada 2012. Sedang penjualan domestik justru mengalami peningkatan dari Rp 1,086 triliun pada 2011 menjadi Rp 1,117 triliun pada 2012.

Dipaparkan Sugeng, penurunan penjualan secara total tersebut ikut mempengaruhi laba bersih perseroan yang turun sebesar 57,68% per Desember 2012 menjadi Rp61,45 miliar dari tahun 2011 sebesar Rp 145,2 miliar.

"Penurunan laba perseroan juga dipicu oleh fluktuasi harga bahan baku, dimana sebagai industri kemasan film fleksibel dan plastik, harga bahan baku sangat dipengaruhi harga minyak dunia," ungkap Sugeng didampingi Jamin Tjandra selaku direktur perseroaan.

Di sisi lain, laba usaha perseroan juga turun menjadi Rp97,66 miliar dari laba usaha di tahun sebelumnya yang Rp192,53 miliar. Sedangkan laba sebelum pajak turun menjadi Rp80,75 miliar dari laba sebelum pajak tahun sebelumnya Rp181.65 miliar. Adapun total aset perseroan hingga Desember 2012 mencapai Rp2,188 triliun naik dari total aset perseroan hingga Desember 2011 yang Rp2,08 triliun.

Oleh karena itu, guna mengerek kembali kinerja perseroan, Sugeng menyebut peningkatan produk bernilai tambah serta penguatan pasar domestik akan terus dilakukan di tahun 2013 ini. "Saat ini perseroan tengah menyelesaikan proyek perluasan kapasitas BOPP sebesar 30.000 metrik ton per tahun. Selama ini kapasitas produksinya di kisaran 52.000 metik ton. Jadi nantinya menjadi 82.000 metrik ton, dan diharapkan pada kuartal empat tahun ini bisa beroperasi," ujar Sugeng yang menyebut nilai investasi BOPP lini VI itu mencapai US$30 juta. kbc7

Bagikan artikel ini: