Ramadan, omzet kafe dan restoran turun 15%

Selasa, 06 Agustus 2013 | 14:14 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Meski mengalami peningkatan jumlah omzet penjualan maupun pengunjung pada pekan kedua ketiga dan keempat di Ramadan tahun ini, namun secara umum omzet kafe dan restoran sepanjang Ramadan ini turun 10-15% jika dibanding Ramadan tahun lalu.

Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Jatim, Tjahjono Haryono mengatakan, banyak hal yang memengaruhi omzet penjualan kafe dan restoran tahun ini tidak sebagus tahun lalu. Selain Ramadan tahun ini hampir bersamaan dengan tahun ajaran baru sekolah, penerimaan tunjangan hari raya (THR) dan gaji oleh masyarakat bersamaan mendekati Lebaran.

"Banyak masyarakat yang menerima gaji akhir Juli atau aal Agustus dan itu bersamaan dengan diteerimanya THR. Jadi mereka baru bisa membelanjakan uangnya pada pekan ketiga atau keempat. Periode ini kita baru merasakan adanya peningkatan omzet. Jadi waktunya agak pendek," kata Tjahjono kepaa wartawan di Eat n Eat Surabaya, Senin (5/8/2013).

Kondisi itu, lanjut dia, berbeda dengan yang terjadi pada Ramadan tahun lalu, dimana pada pekan kedua Ramadan, masyarakat sudah menerima gaji, dan pekan berikutnya disambung dengan THR.

Sekretaris Apkrindo Jatim, Mufid Wahyudi menambahkan, selain perbedaan waktu, tidak bagusnya omzet penjualan restiran tahun ini juga dipengaruhi oleh beban masyarakat yang berlebih, menyusul adanya kenaikan sejumlah harga bahan pokok, ditambah lagi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, serta tarif listrik.

"Mesi awal tahun ini upah pekerja mengalami kenaikan hingga 40%, namun dampaknya tidak bisa dirasakan, karena kenaikan komponen-komponen itu," jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan jika secara umum pasar bisnis kuliner masih menjanjikan pada pada tahun ini, meskipun pertumbuhannya tidak sebagus tahun 2012.

"Di semester kedua ini, banyak restoran baru bermunculan di Surabaya. Apalagi, ekonomi Jatim masih tumbuh," paparnya. kbc7

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: