loading...
Kategori
Aneka BisnisOtomotif
Mode Baca

Mobil murah bakal dilarang konsumsi BBM subsidi

Online: Sabtu, 14 September 2013 | 13:47 wib ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Masyarakat atau konsumen boleh berbangga karena bisa menjangkau harga mobil murah ramah lingkungan (low cost green car/LCGC) yang saat ini sudah dipasarkan sejumlah pabrikan di Indonesia. Namun bukan berarti konsumen bisa mengeluarkan biaya konsumsi bahan bakar minyak (BBM) murah. Pasalnya, nantinya kendaraan jenis ini bakal dilarang memakai BBM bersubsidi.

Menteri Perindustrian M.S. Hidayat mengatakan pemerintah segera membuatkan peraturan khusus untuk menertibkan konsumsi BBM bagi mobil murah. Ini dilakukan agar pemilik kendaraan yang dibebaskan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) itu tidak memakai BBM subsidi yang dapat berdampak pada bengkaknya subsidi bahan bakar.

"Saya tidak bisa menjamin bahwa tidak akan ada pengguna mobil murah yang pakai BBM subsidi. Maka akan dibuat aturannya sedemikian rupa, fleksibel tetapi bisa comply," katanya di Jakarta, Jumat (13/9/2013).

Sebetulnya, mesin LCGC yang dirilis Toyota, Daihatsu, dan Honda didesain untuk memenuhi standar emisi Euro. Karena itu, bahan bakar yang digunakan sebaiknya mengandung oktan di atas 80 alias BBM nonsubsidi.

Hidayat mengingatkan agar konsumen LCGC itu nantinya tidak bertingkah nakal dengan tetap membeli BBM subsidi (premium dan solar). Pasalnya, selain bakal membebani anggaran subsidi BBM, kandungan aditif di dalam bensin subsidi bisa membuat mesin mobil lebih mudah rusak.

"Teknologi LCGC disiapkan memang untuk konsumsi bahan bakar nonsubsidi. Kalau ada yang tetap beli BBM subsidi konsekuensinya mesin mobil jadi cepat rusak," ucapnya kepada wartawan.

Kini baru ada tiga merek yang bermain di segmen LCGC, yaitu Toyota Agya, Daihatsu Ayla dan Honda Brio Satya. Dalam waktu dekat segera menyusul merek Datsun yang akan dirilis di ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2013. kbc10

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda
Kurs USD-IDR
11/22/2014
12.155
IHSG
11/21/2014
5.112,05
18,48 (0,36%)