Jalanan di Jatim belum mampu tambung mobil murah

Rabu, 02 Oktober 2013 | 10:33 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Belum adanya penambahan jalan baru maupun pelebaran jalan di sejumlah wilayah di Jawa Timur tampaknya berpotensi menjadi kendala penjualan mobil murah ramah lingkungan (low cost green car/LCGC) di provinsi ini.

Meski Gubernur Jatim Soekarwo sempat menyatakan tidak menolak adanya mobil murah, namun bakal berdampak pada daya tampung jalan raya di Jatim yang masih belum ideal.

"Kami belum siap untuk pelebaran jalan atau pengeprasan sempadan jalan di beberapa ruas jalan provinsi guna mengantispasi lonjakan jumlah mobil karena mobil murah," kata Kepala Bidang Pemeliharaan Jalan Dinas PU Bina Marga Jatim, I Made Sukartha, Selasa (1/10/2013).

Menurut dia, pihaknya memang sudah mendengar soal rencana gubernur melakukan pengeprasan sempadan jalan untuk pelebaran. Tentu saja, kata dia, pihaknya akan melaksanakannya, hanya saja sampai sekarang belum ada petunjuk.

"Jika rencana tersebut sudah menjadi kebijakan, tentu akan dibahas dengan instansi terkait. Hanya saja, sampai saat ini belum ada yang mengarah ke sana. Dengan demikian kami belum bisa berani melaksanakan rencana tersebut," tandas Sukartha seperti dikutip dari kominfo.jatimprov.go.id.

Terlebih, lanjut dia, untuk pengeprasan sempadan yang tentu disertai dengan pengaspalan membutuhkan biaya tak sedikit. Di sisi lain, ujar dia, dalam RAPBD 2014 sendiri tidak tercantum anggaran untuk pelebaran jalan dengan cara mengepras sempadan.

"Anggaran untuk infrastruktur memang terbatas sehingga kami memakai skala prioritas. Tentunya anggaran yang ada tak seimbang dengan panjang jalan provinsi mencapai 1.760 kilometer," katanya.

Sebelumnya, Gubernur Jatim Soekarwo menjelaskan, mobil impor yang harganya murah tidak menjadi persoalan, asalkan tidak ada jalan lubang. Ini karena ratio infrastruktur jalan saat ini 0,78 tapi jika ada lubang maka orang akan menghindari.

Hal ini membuat rasio naik menjadi 1 dan pastinya kendaraan berjalan lambat dan bisa sebabkan macet. “Saat ini yang perlu didorong bukanlah mobil impor tapi produksi mobil nasional. Namun jika itu masih sulit dilakukan, setidaknya mobil impor bahannya lebih banyak diproduksi dalam negeri,” kata Soekarwo. kbc10

Bagikan artikel ini: