Premium baru bisa dihapus pada 2016

Senin, 29 Desember 2014 | 19:01 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas (TRTKM) berkenaan penghapusan premium belum dapat segera direalisasikan. Pemerintah memperkirakan, gagasan tersebut baru dapat dilaksanakan pada tahun 2016 mendatang.

Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro mengatakan, pemerintah belum dapat menjalankan salah satu rekomendasi TRTKM berkenaan penghapusan bahan bakar minyak (BBM) RON 88 atau premium. Menurutnya, penghapusan BBM premium palingng cepat baru dapat dijalankan pada 2016.

"Belum pada 2015 (penghapusan premium). Harus siap dulu penggantinya," ujar Bambang di Jakarta, Senin (29/12/2014).

Bambang belum dapat menjelaskan lebih detail alasan pemerintah enggan menghapus premium pada tahun depan. Namun sebelumnya, Bambang khawatir bahwa penghapusan premium akan menambah kuota impor pertamax mengingat kilang minyak milik PT Pertamina (Persero) belum siap memproduksi pertamax dalam jumlah besar.

TRTKM merekomendasikan penghapusan RON 88 atau premium karena BBM jenis ini sudah langka di pasaran. Untuk mendapatkannya, Pertamina harus membeli BBM RON 92 atau pertamax dan dicampur dengan bahan tertentu untuk menjadi RON 88. Biaya pencampuran ini diprediksi lebih mahal ketimbang langsung membeli BBM RON 92.

Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil menambahkan, pemerintah sebenarnya setuju dengan rekomendasi penghapusan premium. Akan tetapi, rekomendasi tersebut belum bisa dijalankan dalam waktu dekat atau dalam waktu enam bulan sesuai rekomendasi.

"Pertimbangannya adalah kesiapan kilang Pertamina. Harus diperbaiki supaya bisa memproduksi BBM dengan RON yang lebih tinggi. RON 88 masih kita butuhkan," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: