Dahlan, bandar beras yang tergoda angkat pamor sapi

Senin, 06 April 2015 | 09:12 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kontes ternak sapi bukan hanya menjadi ajang pembuktian peternak menampilkan andalan hasil ternaknya. Namun, juga merangsang masyarakat kembali memelihara sehingga menghasilkan kualitas hewan ternak sapi yang terbaik.

Tidak terkecuali Dahlan (40) peternak sapi dari Kecamatan Ajangaleh, Bone, Sulawesi Selatan, ini mengaku sudah dua kali mengikuti kegiatan semacam ini. Dahlan yang kesehariannya juga merupakan pengusaha penggilingan beras ini mengakui pada kontes sebelumnya telah memenangi beberapa kategori yang dilombakan.

"Meski bukan juara pertama, tapi saya tetap terus ikut kontes," ujar Dahlan kepada kabarbisnis.com disela Kontes dan Expo Ternak Sapi Kabupaten Bone 2015, kemarin.

Pada ajang kontes, ruang transaksi sapi berpeluang terjadi.Apalagi,bagi hewan ternak yang pernah menjuarai kontes akan membuat pamor hewan ternak meningkat.

Dahlan mengakui, induk sapi  jenis Semmintel persilangan yang berumur sekitar empat tahun berbobot 600 kilogram (kg), ada yang berani menawar Rp 40 juta. Padahal, kalau dijual di pasar, sapi jenis itu dihargai Rp 30-Rp 33 juta.

Adapun, untuk sapi Bali indukan dapat dihargai Rp 15 juta,sementara harga di pasar berkisar Rp 9-10 juta per ekornya. Dalam satu tahun, Dahlan mampu menjual hewan ternaknya antara 8- 10 ekor.

Saat ini, Dahlan mempunyai 300 ekor yang terdiri sapi indukan dan potong hasil persilangan dari inseminasi buatan. "Sekitar 150 ekor diantaranya  sapi Bali," ujarnya.

Uniknya, sekitar 95% hewan ternaknya dipelihara para tetangga atau warga lain di dusun yang berbeda.Mekanisme pembagianya ,setiap kelahiran bibit ekor sapi dibagi seimbang 1:1 antara miliknya dengan petani. "Saya sendiri hanya memelihara dua ekor sapi," ujar Dahlan.

Agribisnis peternakan memang cukup menggiurkan. Dahlan mengakui,dia baru menekuni sebagai peternak sapi pada 2004 lalu.Awalnya, dia hanya memiliki 2 ekor sapi dengan modal tidak lebih dari Rp 8 juta.

Tidak seperti pada umumnya, beternak hewan sapi dan bertani merupakan profesi utama mayoritas masyarakat Bone yang sudah turun menurun. Wajar saja Kabupaten Bone berkontribusi memberikan 30% produk hasil ternak sapi di Sulawesi Selatan. Adapun 14 provinsi, kebutuhan protein hewan ternak sapi berasal dari Bone.

Sumber daya buat pakan yang sangat memadai membuat usaha budidaya peternakan jauh efisien.Semua 'limbah' di areal pertanian dimanfaatkan seperti ladang rerumputan yang sangat memadai, Dahlan juga menggunakan jerami, dedak padi hingga tetes tebu sebagai 'suplemen' dari dua pabrik gula yang beroperasi di Bone.

Sebut saja, total biaya produksi untuk sapi potong Rp 2 juta per tahun,pada umumnya biaya pakan berkisar 50-an persen. Namun,dengan optimalisasi keanakeragamaan sumber pakan sapi yang ada tadi, Dahlan mengaku dapat menekan dibawah 20% saja.

Kendati begitu, Dahlan merasa tidak ada yang instan membangun usaha peternakan.Misalnya, dalam hal pembibitan, sebelum teknologi kawin suntik diadopsi, dalam satu tahun dia mengupayakan cara kawin alam hingga puluhan kali.

Namun, proses pembuahan yang berhasil dihasilkan hanya dalam hitungan jari. Itu pun kualitas genetiknya belum tentu seperti yang diharapkan.Celakanya,karena perkawinan inbreeding membuat produktifitas sapi merosot.

Sebagai 'peternak' baru, Dahlan pun tidak pernah merasa bosan bertanya baik kepada para penyuluh maupun sesama petani yang dinilai lebih piawai menyelami agribisnis peternakan. Informasi terbaru seputar teknik budidaya dan manajemen beternak dari dinas peternakan juga dipraktekkan.

Dahlan meyakini, 'manisnya gula' agribinis sub sektor peternakan di Bone masih besar untuk dijajaki. Termasuk pada kontes dan expo ternak sapi hasil kawin suntik ini akan menaikan harga jual dan pamor hasil ternak sapi, bukan hanya miliknya tapi para peternak di kecamatannya.

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Bone Aris Handono menyatakan,populasi ternak sapi hasil kawin suntik baru dapat dipetik mulai 2011-2012 lalu bermula 500 ekor saja. Kemudian meningkat 1.000 ekor di tahu berikutnya.Hingga akhir tahun lalu, sudah tercatat 3.000 ekor dan tahun 2015 ini ditargetkan  meningkat 5.000 ekor seiring dukungan stimuli  bantuan dari Kementan dan dinas provinsi.  

Aris mengatakan, sampai akir populasi sapi di Bone tercatat 300.007 ekor. Setidaknya hampir Rp 200 miliar/tahun berasal dari perdagangan sapi  Bone. Untuk sapi potong, pembelinya pun berasal dari Kalimantan. Adapun, pembeli dari Ternate dan pulau-pulau sekitarnya lebih membeli sapi bibit.

Aris menekankan, selama ini Pemda lebih mendorong terbentuknya pola pemeliharaan petani ternak yang mandiri.Dengan begitu,petani akan memiliki kemampuan serta nalui daya saing dan kompetisi serta analisa bisnis yang baik mengingat tantangan dan kompetisi pasar ke depan semakin berat.kbc11

Bagikan artikel ini: