Optimalisasi distribusi raskin tekan kenaikan harga beras di Jatim

Rabu, 15 Juli 2015 | 11:44 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Kepala Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Jawa Timur, Witono menyatakan bahwa harga bahan pokok khususnya beras di Jawa Timur saat ini terbilang cukup stabil. Tidak ada kenaikan yang cukup signifikan sepanjang puasa hingga menjelang lebaran.

"Selain karena adanya Operasi Pasar bantuan ongkos angkut oleh Pemrov Jatim dan bazar murah oleh berbagai instansi selama Ramadhan, percepatan distribusi beras untuk masyarakat miskin juga turut menjadi faktor yang mampu meredam kenaikan harga beras di Jawa Timur," ujar Witono saat buka puasa bersama wartawan di Surabaya, Selasa (14/7/2015).

Ia mengungkapkan, sampai tanggal 13 Juli 2015, distribusi beras untuk masyarakat miskin (Raskin) di wilayah Jawa Timur sudah mencapai 280.282 ton atau 93,4% dari pagu Januari hingga Juli sebesar 300.034 ton. Pendistribusian ini akan terus dioptimalkan sehingga masyarakat tidak perlu khawatir kekurangan pasokan beras.

Raskin diberikan kepada 2.857.469 Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTS-PM) dengan penyaluran yang mencapai 42.862 ton per bulan. Sementara distribusi disalurkan melalui 8.506 titik distribusi dengan harga tebus Rp 1.600 per kilogram.

Lebih lanjut Witono mengungkapkan bahwa pendistribusian Raskin pada tahun ini memang agak terlambat karena sosialisasi baru dilakukan pada akhir minggu Januari 2015. Akibatnya, pendistribusian mulai dilakukan pada bulan Februari 2015 karena pemerintah kota ataupun kabupaten harus membuat Petunjuk Pelaksanaan Teknis terlebih dahulu. Semua kabupaten kota sudah mulai mendistribusikan pada Februari kecuali Madura. Untuk kabupatan yang ada di Madura baru didistribusikan pada April karena ada hal-hal teknis yang bersifat khusus.

"Pada bulan Mei, harga beras menunjukkan potensi kenaikan, maka kami melakukan aksi cepat dengan melakukan optimalisasi pendistribusian raskin. Selain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, Raskin juga terbukti ikut menahan kenaikan harga beras," terangnya.

Disisi lain, Operasi Pasar bantuan ongkos angkut menurutnya juga cukup efektif menekan kenaikan harga sejumlah bahan pokok. Ada tujuh komoditas dalam OP yang dilaksanakan Bulog, yaitu beras, gula pasir, minyak goreng, tepung terigu, telur, bawang merah dan cabe. "Penyerapannya cukup besar," katanya.

Untuk beras, ujar Witono, sudah terjual sebanyak 698,970 ton, gula pasir mencapai 110,060 ton, terigu 90,674 ton dan minyak goreng sebanyak 684.973 liter. Sedangkan bawang merah terjual sebanyak 28,218 ton, telur ayam ras mencapai 134,2 ton dan cabe mencapai 5,025 ton.

"OP  bisa saja diperpanjang setelah lebaran jika masih terjadi lonjakan harga. Tetapi kalau melihat tren harga bahan kebutuhan pokok yang sudah relatif stabil saya kira tidak akan diperpanjang," katanya.kbc6

Bagikan artikel ini: