Tingkatkan daya saing produk dalam negeri melalui perbaikan sislognas

Kamis, 29 Oktober 2015 | 20:31 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Tim ahli sistem logistik nasional (sislognas) Kementerian Koordinator Perekonomian, Hoetomo Lembito dalam acara Konferenvi Nasional Bisnis Maritim 2015 menyatakan bahwa daya saing produk dalam negeri masih cukup rendah.

Lebih lanjut ia mengatakan, pada tahun 2014-2015, Global Competitiv Indexs (GCI) Indonesia masih sangat jauh dengan beberapa negara dan hanya menempati rangking ke 34 dari 144 negara. Pencapaian itu jauh lebih rendah dibanding Singapura, Brunai Darussalam dan Thailand serta Laos.

Kondisi ini menurut Lembito salah satunya dipicu oleh mahalnya biaya logistik di Indonesia. Untuk itu, upaya pemerintah dalam memperbaiki sislognas, antara lain dengan pembenahan pelabuhan lama maupun pembangunan pelabuhan baru sangat mendesak untuk dilakukan.

"Inti sislognas ada tiga. Ada barangnya, ada kapalnya, ada pelabuhannya. Jadi, saya setuju, tidak bisa hanya mendatangkan kapal tol laut, serta membenahi pelabuhan, tapi juga membangun industri di timur, sehingga logistik dari Barat ke Timur, dan sebaliknya, seimbang," katanya.

Direktur Utama Pelindo III Djarwo Surjanto, saat ditemui di tengah acara, mengungkapkan pentingnya dukungan pemerintah untuk terus mengembangkan infrastruktur pelabuhan agar program Tol Laut bisa berjalan baik.

"Terutama peningkatan pelabuhan di wilayah timur (Indonesia), jangan hanya mengandalkan BUMN untuk pelabuhan di kawasan ekonomi yang masih kurang. Tol Laut tidak akan efisien jika pelabuhan di (Indonesia) barat dan timur tidak seimbang," ujarnya.

Lebih lanjut Djarwo Surjanto mengungkapkan, setidaknya harus sudah ada rencana yang jelas untuk 24 pelabuhan strategis yang telah ditentukan oleh Presiden Joko Widodo. "Minimal 24 pelabuhan itu sudah bagus di tahun 2018 atau 2019. Karena sekali lagi, level of service pelabuhan di kawasan barat dan timur harus berimbang dan 24 pelabuhan tersebut memegang peranan penting untuk menekan biaya logistik," tambahnya lagi.

Direktur Utama PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera Bambang Soetiono bahwa logistic cost antara pabrik dengan pelabuhan harus ditekan, maka JIIPE sebagai kawasan terpadu menjadi solusi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Sementara itu, Wali Kota Balikpapan Rizal Effendy menekankan pentingnya percepatan pembangunan industri di wilayah Indonesia Timur agar kesenjangan bisa segera diatasi.

"Orang bilang (Pulau) Kalimantan adalah tanah masa depan, namun hingga kini pembangunan infratruktur masih tertinggal. Ini jadi tantangan pengembangan kawasan industri," ungkap Rizal Effendy.kbc6

Bagikan artikel ini: