Ingin hasil maksimal? Lirik investasi gaya tidur ini

Senin, 21 Desember 2015 | 18:20 WIB ET

Di tengah melemahnya ekonomi global, banyak yang memilih-milih investasi yang bisa memberi hasil maksimal. Banyak cara memang dilakukan, demikian pula jenis investasi. Salah satunya adalah investasi gaya tidur.

Adalah Rip Van Winkle, tokoh fiktif di cerpen legendaris Washington Irving, pengarang "The Legend of Sleepy Hollow" yang dipublikasikan pada 1819.

Alkisah, Rip Van Winkle tinggal di desa di kaki Catskill Mountains. Suatu hari ia pergi dari desanya, dan duduk di bawah pohon rindang. Ia akhirnya tertidur pulas. Saat terjaga dan kembali ke desanya, ia menemukan dunia yang sudah berubah drastis. Istrinya dan sebagian besar temannya telah meninggal. Anak-anaknya telah dewasa, dan beruntung masih mengenalinya.

Rupanya Rip Van Winkle telah tertidur selama 20 tahun! Desanya menjadi semakin luas. Rumah lawas menjadi baru. Gaya hidup penduduk desa berubah lebih modern. Berinvestasi ala Rip Van Winkle (RVW)? Mengapa tidak? Ingat bahwa investasi adalah tindakan membeli aset, dengan harapan aset tersebut bisa memberikan penghasilan, dan/atau naik nilainya di masa mendatang.

Misalnya, investasi pada rumah kos-kosan. Pemiliknya menikmati penghasilan bulanan dari uang sewa, sekaligus kenaikan harga tanah. Investasi pada emas tidak memberikan penghasilan, namun harga emas bisa naik. Untuk menumbuhkan nilai, dibutuhkan waktu yang panjang. Maka, investasi pada umumnya identik dengan jangka waktu yang panjang. Bagaimana dengan investasi pada saham? Seperti menanam pohon mangga, kita butuh waktu untuk memetik hasilnya.

Namun sayangnya godaan untuk segera menjual saham yang telah dibeli teramat kuat. Jika beruntung, saham yang baru kita beli minggu lalu sudah naik harganya 10%. Rencana memegang saham tersebut puluhan tahun berakhir dengan menikmati keuntungan jangka pendek. Jika sial, saham yang masih fresh from the oven sudah mengalami penurunan harga 10%. Hati mulai galau, makan kurang selera, dan tidur pun susah.

Datang godaan untuk melakukan jual rugi (cut loss) untuk menghindari kerugian lebih besar. Richard Thaler, pakar Ekonom Keuangan University of Chicago bilang, ”Rip Van Winkle would be the ideal stock market investor. Rip could invest in the market before his nap and when he woke up 20 years later, heRip Van Winkle would be the ideal stock market investor. Rip could invest in the market before his nap and when he woke up 20 years later, hed be happy. He would have been asleep through all the ups and downs in between.”

Belilah saham dan kemudian tidur. Bangun pada saat kita membutuhkan dana. Sebagai investor ala Rip Van Winkle, kita membeli saham pada awal 1995, ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ada pada level 470, kemudian ”tidur” selama 20 tahun. Maka kita tidak perlu mengalami panasnya suhu politik 1997, pahitnya hidup selama krisis moneter 1998, dan ketakutan akibat krisis finansial global 2008.

Kriiing! Saat kita terbangun pada awal 2015, IHSG sudah duduk manis di level 5.233. Artinya, investasi saham di Indonesia menawarkan keuntungan rata-rata 15% per tahun (sudah termasuk penghasilan dari dividen). Lumayan, bukan? Bandingkan dengan bunga deposito yang hanya sekitar 8%.

Keuntungan menjadi lebih besar jika kita beruntung membeli saham perusahaan berfundamental kuat dan tahan terhadap perubahan lingkungan bisnis. Misalnya, saham PT United Tractor, Tbk yang dihargai Rp168 pada 2002 telah meroket menjadi Rp20.600 pada 2012. Rata-rata keuntungannya adalah 62% per tahun. Atau, saham PT Kalbe Farma Tbk yang bisa dibeli pada harga Rp25 pada 2002, telah melonjak menjadi Rp970 pada 2012 (rata-rata keuntungan 45% per tahun).

Anda tertarik berinvestasi secara damai ala Rip Van Winkle? Ada empat langkah praktis. Pertama , tentukan berapa lama kita akan ”tidur”. Misalnya, 3, 5, 10, 15 atau 20 tahun. Sesuaikan durasi tidur ini dengan tujuan investasi kita. Misalnya, lima tahun lagi membutuhkan uang untuk menyekolahkan anak di program studi kedokteran. Atau, 15 tahun lagi butuh dana untuk memasuki masa pensiun. Kedua, pilih saham perusahaan yang bagus secara fundamental.

Misalnya, memiliki keunggulan bersaing, brand yang kuat dan inovatif. Sebaiknya produknya tidak lekang dimakan waktu. Misalnya, masih dibutuhkan hingga setidaknya 20 tahun mendatang. Aspek lain adalah perusahaan konsisten membagi dividen, dikelola secara profesional dan etis, serta adaptif terhadap perubahan lingkungan bisnis. Sebaiknya kita menghindari bisnis yang rentan terhadap perubahan teknologi dan regulasi.

Berinvestasi pada saham perusahaan yang bisnisnya tahan banting lebih bijak. Misalnya, saham barang konsumsi, jasa keuangan, hiburan dan farmasi. Ketiga, sebaiknya kita diversifikasi dana pada beberapa saham dan berbagaimacamaset. Selaluada kemungkinan bahwa kita salah pilih saham. Investasikan sebagian dana kita pada 10 hingga 30 saham pilihan di berbagai sektor.

Sisanya bisa diinvestasikan pada properti dan/ atau obligasi pemerintah untuk berjaga-jaga. Siapa tahu saat kita ”bangun”: alias butuh duit, pasar saham sedang terpuruk (bearish). Langkah terakhir, danyangpaling sulit, tetaplah ”tidur” sesuai rencana, tanpa terganggu hiruk pikuk dunia yang cerewet ini. (ciputraentrepreneurship)

Bagikan artikel ini: