Pangkas rantai distribusi, pebisnis kafe dan restoran gandeng Patani

Jum'at, 29 Januari 2016 | 22:14 WIB ET
Ketua Apkrindo Jatim Tjahjono Haryono (dua dari kanan) menjabat tangan Dirut Patani Sarjan Tahir.
Ketua Apkrindo Jatim Tjahjono Haryono (dua dari kanan) menjabat tangan Dirut Patani Sarjan Tahir.

SURABAYA, kabarbisnis.com: Panjangnya rantai distribusi produk pertanian di Tanah Air masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Pasalnya, kondisi itu membuat harga produk pangan di dalam negeri kian mahal, sementara nasib petani justru memprihatinkan.

Sadar akan hal ini, sebuah terobosan dilakukan para pelaku bisnis yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Jawa Timur. Mereka berani melakukan kerja sama secara langsung dengan para petani yang tergabung di Pandu Tani Indonesia (Patani).

Kerja sama ini diharapkan terjadi saling menguntungkan, dimana pebisnis kafe dan restoran bisa mendapatkan bahan baku berkualitas langsung dari petani, sementara para petani juga bisa terjamin pasar produknya.

Ketua Apkrindo Jatim Tjahjono Haryono menuturkan, selama ini para pengusaha kafe dan restoran hanya mengandalkan pasokan bahan baku produknya dari pasar tradisional maupun pasar modern dengan harga sesuai pasar dan dalam kondisi apa adanya.

"Nah, dengan kerja sama ini, diharapkan para pengusaha kafe dan restoran bisa membeli bahan baku secara langsung ke petani, namun dengan kualitas dan tingkat higienis sesuai standar, sementara para petani juga kan terjamin pasar dari produknya," katanya di sela penandatanganan nota kesepahaman Apkrindo Jatim dengan Patani, di Black Canyon Coffee Sutos, Jumat (29/1/2016).

Diakuinya, dengan digandengnya para petani tersebut, otomatis para pengusaha kafe dan restoran akan mendapat banyak pilihan bahan baku, dan tentunya harga yang lebih murah dibanding ketika membeli di pasar.

"Agar kualitas bahan baku yang dipasok petani sesuai dengan standar kita, mereka juga akan kita bina dan beri pendampingan terkait grading, teknologi, pengemasan, dan sebagainya. Dengan begitu tentu produk petani akan memiliki nilai lebih," tukasnya.

Dipaparkan Tjahjono, selama ini kebutuhan bahan baku kafe dan restoran di Jatim sangat besar. Dia mencontohkan di restoran WOK Group yang dikelolanya, rata-rata membutuhkan sekitar 5-6 ton sayuran setiap bulan. Belum lagi bahan baku lain, seperti beras, ayam, telor, daging, hingga bumbu-bumbuan.

"Selama ini para pengusaha kesulitan mendapatkan bahan baku yang secara kualitas atau grade-nya konsisten. Nah, dengan kerja sama ini tentu kita akan mendapat jaminan produk yang kita inginkan," ujarnya didampingi Mufid Wahyudi, Sekjen Apkrindo Jatim.

Sekadar diketahui, saat ini Apkrindo Jatim beranggotakan sebanyak 160 pengusaha kafe dan restoran di Surabaya dan sekitarnya, ditambah sekitar 60 pengusaha di Malang, dengan 600 outlet skala menengah hingga besar.

Di tempat yang sama, Direktur Utama Patani Sarjan Tahir menyambut gembira kerja sama yang dilakukan dengan Apkrindo Jatim tersebut. "Kerja sama ini merupakan langkah efektif untuk mendekatkan komoditas petani yang sehat dan berkualitas dengan para pelaku usaha, sehingga terjamin pemasarannya dengan cepat dengan harga yang baik," jelasnya.

Terkait jaminan kualitas, pihaknya menyebut, organisasi yang terbentuk pada 17 Agustus 2008 tersebut sudah memiliki divisi-divisi yang ahli di bidangnya, seperti quality control, pemasaran, survei, pengembangan bisnis, hingga teknologi.

Sebagai proyek perdana, lanjut Sarjan, Patani akan memasok sejumlah bahan baku dari kampung-kampung Patani berbasis komoditas di desa dan pesisir, seperti daging ayam, daging sapi, ikan, dan sayuran kepada dua restoran anggota Apkrindo Jatim. Namun, Apkrindo dan Patani belum menentukan volume pasokan dan mulai kapan suplai akan direalisasikan.

"Ini kami sedang bicarakan lebih detil lagi," ujarnya.

Saat ini, Patani telah memiliki kelompok binaan di beberapa provinsi, seperti Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, dan Jawa Timur. Di Jatim, Patani mendampingi kelompok petani sayur organik dan pembudidaya lele di Desa Greol, Mojokerto; kelompok pembudidaya lele di Desa Ngoro, Jombang; serta kelompok peternak ayam di Desa Dawar Blandong di Mojokerto. kbc7

Bagikan artikel ini: