Menggoreng strategi naikkan pamor kopi negeri

Kamis, 19 Mei 2016 | 17:43 WIB ET
Kontes Kopi di Kabupaten Banyuwangi beberapa waktu lalu
Kontes Kopi di Kabupaten Banyuwangi beberapa waktu lalu

INDONESIA tidak berpuas diri sebagai negara produsen kopi keempat terbesar dunia. Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian mempunyai strategi menaikkan pamor kopi di pasar global. Salah satunya dengan mendorong ekspor kopi luwak probiotik dalam waktu tiga tahun ke depan.

Sekitar 85% kopi Indonesia merupakan varietas robusta, sementara 15 % merupakan jenis arabika. Kopi Gayo, kopi Toraja dan kopi Mandailing beberapa diantaranya. Sementara dari biji kopi arabika pula, Indonesia juga menghasilkan "kopi luwak" yang merupakan kopi termahal di dunia.

Produksi kopi Indonesia tahun 2015 yang mengutip Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) mencapai 550.000 ton atau menempati empat besar dunia setelah Brazil, Vietnam dan Kolumbia. Sementara devisa dari ekspor kopi mencapai US $ 1,9 miliar – mencatatkan Indonesia sebagai penghasil devisa terbesar keempat setelah minyak sawit, karet dan kakao.

 “Bahkan, baru baru ini, Indonesia meraih penghargaan Specialty Coffee Association (SCAA) d pameran kopi terbesar di Amerika dengan total nilai transaksi US$ 35 juta,” ujar Kepala Badan Litbang Kementan M.Syakir di Jakarta, Kamis (19/5/2016).

Produktivitas kopi robusta Indonesia sebesar 741 kilogram (kg)/hektare (ha) dan biji arabika sebesar 808 kg/ha. Bandingkan dengan Vietnam, angka produksi per ha sudah mencapai 1,5 ton. Adapun Brazil sudah mencapai 2 ton.

Padahal luas tanam perkebunan dua negara itu,mengutip data Ditjenbun masing masing ‎420. 000 ha dan 650.000 ha. Sementara luas tanam di Indonesia mencapai 1,24 juta ha.

Syakir menuturkan mayoritas kondisi tanaman kopi yang sudah tua sehingga membutuhkan peremajaan, faktor el nino dan perubahan iklim ekstrem dan belum seluruhnya petani yang mempratekan prinsip Good Agriculture Practises (GAP) menjadi penyebab turunnya provitas kopi nasional.Tadinya, Indonesia menempati rangking kedua, namun posisinya sekarang disalip Vietnam.

“Namun,beberapa varietas unggul baru dari temuan Balitbang Kementan dan Puslit Kopi dan Kakao telah menghasilkan varietas kopi unggul yang berpotensi produksi hingga 2 kilogram per hektare. Varietas kopi itu diantaranya BP 358, BP42 dan BP 308,” terangnya.

Menurut Syakir pengembangan kopi luwak probiotik merupakan langkah inovasi menghasilkan biji kopi fermentasi yang sesuai orientasi pasar melalui adopsi teknologi.Dengan mikroba biotik  yang diisolasi dari saluran pencernaan binatang luwak untuk memfermentasi biji kopi.Jadi tanpa perlu melalui proses pencernaan dan keluar sebagai kotoran luwak.

Nantinya volume produksi dapat didesain .Tidak lagi bergantung dari proses pencernaan binatang kopi luwak. Syakir meyakini menjadi bagian strategi keunggulan komparatif kopi nasional dalam kancah pasar global.Pasalnya, melalui rekayasa teknologi fermentasi untuk menghasilkan mirip atau mendekati rasa kopi luwak ini juga  dapat diaplikasikan pada biji kopi robusta.

Peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali Suprio Guntoro mengatakan teknologi proses fermentasi mikroba probiotik luwak ini berhasil mengantongi paten pada tahun ini. Saat ini sudah tiga pelaku usaha yang berminat  melakukan kerjasama lisensi untuk memproduksi dan memasarkan kopi luwak probiotik. Salah satunya yang menyatakan keseriusannya adalah Taman Ayu Wisata Agro Techno Park, Kabupaten Gianyar Bali.

Guntoro mengatakan Bali merupakan salah satu destinasi berkumpulnya para penikmat kopi dunia. Alasan itu menjadi mitra kerjasama berkomitmen mengembangkan produksi kopi luwak probiotik maksimal 2 ton. Sementara tahun berikutnya, volume produksinya akan dilipatgandakan.Adapun di tahun 2018, menjadi target ekspor kopi luwak probiotik.

“Selama ini, kopi luwak probiotik kita promosikan di pameran-pameran.Kita perkenalkan bahwa kopi luwak ini diproduksi secara berbeda yakni di luar perut luwak,”kata Guntoro yang mengaku menjual Rp 100.000 per ons.

Respon dari konsumen pun bersambut. Respon dari para penikmat kopi tidak menemukan perbedaan antara rasa kopi luwak yang dihasilkan dari perut luwak maupun diluar perut luwak. kbc11

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: