Bukit Darmo Property ekspansi pasar ke Singapura

Sabtu, 25 Juni 2016 | 06:12 WIB ET
(KB/Purna Budi)
(KB/Purna Budi)

SURABAYA, kabarbisnis.com: Dibukanya aturan kepemilikan properti oleh asing oleh pemerintah menjad peluang tersendiri bagi pengembang di Tanah Air untuk memperluas jangkauan pasarnya. PT Bukit Darmo Property Tbk (BKDP) salah satunya.

Emiten pengembang properti di Surabaya ini tengah membidik pasar di Singapura khususnya untuk memasarkan proyek perkantoran Nine Boulevard (9blv) serta apartemen yang tengah dikembangkan.

Direktur PT Bukit Darmo Property Tbk, Brasada Chandra mengatakan, dibidiknya pasar Singapura tersebut bukan berarti perseroan menafikan pasar dalam negeri. Dia melihat, minat pembeli asing, baik untuk sewa maupun memiliki properti di Indonesia cukup tinggi.

"Pasar lokal masih bagus, tapi kita menangkap peluang adanya demand yang potensial di luar negeri, dalam hal ini Singapura. Apalagi dengan sudah adanya aturan kepemilikan asing oleh pemerintah, kita kian semangat untuk ekspansi pasar ke sana," kata dia saat paparan publik hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) perseroan di Surabaya, Jumat (24/6/2016).

Saat ini, lanjut Brasada, pihaknya terus mematangkan rencana tersebut, khususnya yang terkait dengan legalitas."Kita memiliki corporate lawyer di sana untuk mengurus segala legalitas itu. Sementara untuk teknisnya, kebetulan perseroan juga telah ada broker afiliasi di Singapura. Jadi tinggal actionnya saja," bebernya.

Perseroan, lanjut dia, berharap ekspansi pasar ke Singapura tersebut bisa menggenjot penjualan proyek perkantoran 9bld yang saat ini tinggal sekitar 35% yang belum terjual dari total 100 unit.

"Agustus 2016 nanti kita akan launching proyek prime office ini. Selama ini, dari pembeli yang ada, sebagian juga merupakan perusahaan-perusahaan asing yang memiliki jaringan operasi di Surabaya dan Indonesia," tukasnya.

Selain ekspansi pasar ke Singapura, Brasada menyebut, perseroan juga akan melakukan penarikan kembali saham sebanyak 6,6% atau setara 450 juta lembar yang telah dilakukan buyback atau pembelian kembali sebelumnya. Langkah ini dilakukan sebagai strategi untuk memperkuat modal perseroan.

"Ini bertujuan agar supply and demand seimbang dan aksi ini legal. Karena dasar dari buyback saham sendiri ada tiga, yakni bisa untuk dilepas kembali ke pasar, back sale, atau ditarik kembali. Nah, kita memilih opsi ketiga ini. Sehingga dengan aksi ini otomatis komposisi saham publik di perseroan berkurang," tandasnya.

Dalam RUPST perseroan tersebut juga disepakati penunjukan direktur utama yang baru, yakni Joky Wahyoedi Hidayat yang menggantikan Philip Tonggoredjo yang telah mengundurkan diri.

Sementara itu terkait kinerja perseroan, sepanjang tahun 2015 lalu kurang memberikan hasil yang menggembirakan, dimana penjualan bersih tercatat sebesar Rp 60,1 miliar atau turun drastis dibanding penjualan pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp 107,3 miliar. Kondisi ini membuat perseroan harus menanggung rugi yang sebesar Rp 27,6 miliar di tahun 2015. Padahal pada 2014 lalu perseroan berhasil membukukan laba sebesar Rp 5,8 miliar.

Namun demikian, pada kuartal I tahun 2016 perseroan mulai memperbaiki kinerja, dimana penjualan selama tuga bulan pertama telah mencapai Rp 22 miliar dengan laba bersih sebesar Rp 2,2 miliar.

"Dengan hasil positif di awal tahun, kita optimis hingga akhir tahun 2016 nanti bisa membukukan penjualan sebesar Rp 200 miliar yang didapat dari penjualan office dan apartemen, serta sewa," ujar Brasada. kbc7

Bagikan artikel ini: