loading...
Kategori
Aneka BisnisTop Figure
Mode Baca

Hikayat krisis, hikayat Maryono

Online: Jum'at, 30 Oktober 2009 | 09:59 wib ET

DI TENGAH beban berat menyehatkan PT Bank Century Tbk yang kini berubah nama menjadi Bank Mutiara, sang direktur utama, Maryono, tetap tampil luwes, dingin, dan murah senyum. Nyaris tak ada guratan ketegangan di wajah pria kelahiran Rembang, Jawa Tengah, ini.

”Kami memang harus kerja keras. Tapi, tetap harus berkepala dingin,” ujar bankir senior asal PT Bank Mandiri Tbk ini di Surabaya, Kamis malam (29/10/09). Jabatan terakhir Maryono di Bank Mandiri adalah Group Head Network Jakarta. Ia akhirnya diberi mandat untuk memimpin manajemen Bank Century ketika diambil alih Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) akhir tahun lalu.

Pria berusia 53 tahun ini memang ”akrab” dengan krisis. Maryono pertama kali berkarir sebagai bankir di Bank Bapindo pada 1982. Karirnya terus meroket hingga menduduki kursi kepala cabang Bapindo Pontianak pada 1997. Saat itulah dia menghadapi krisis terkait masalah golden key yang digerakkan Edy Tansil, buron kelas kakap kepolisian yang hingga kini bahkan belum tertangkap.

Bapindo kemudian merger dengan beberapa bank menjadi Bank Mandiri. Dia menjadi kepala wilayah untuk kawasan Banjarmasin. Di Bank Mandiri, ia juga menghadapi krisis, terutama saat masalah krusisl pergantian posisi direktur utama yang mengguncang kondisi internal bank pelat merah itu.

”Saya harus mengonsolidasikan cabang-cabang Bank Mandiri di seluruh Indonesia,” tuturnya.

Maryono pulalah yang mengonsolidasikan cabang-cabang Bank Mandiri di wilayah yang terkena bencana. Ketika tsunami menghancurleburkan Aceh, dengan segala keterbatasan dan kondisi medan yang luar biasa berat, Maryono turun ke Aceh dan segera membangun kembali jaringan Bank Mandiri yang rusak berat.

Karena itulah, Maryono tetap optimistis bisa membawa Bank Mutiara ke arah yang lebih baik. Berbagai pemberitaan miring di media massa dan aksi demonstrasi yang nyaris tiada henti dari para nasabah dihadapinya dengan tenang.

”Kami hanya bekerja dan bekerja. Kami akan membuktikan bahwa bank ini bisa menjadi lebih baik dengan kinerja yang memuaskan,” ujar alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro ini.

Terbukti, kepercayaan masyarakat terhadap Bank Mutiara kian pulih. Secara keseluruhan, DPK yang berhasil dihimpun Bank Mutiara per September 2009 menjadi Rp5,2 triliun dari Rp5,1 triliun pada Desember 2008. sementara total asset Bank Mutiara tercatat Rp7,1 triliun pada akhir September 2009 dari sebelumnya sebesar Rp5,6 triliun pada Desember 2008.

Sementara pada periode Juni hingga September 2009, kredit yang telah dikucurkan oleh Bank Mutiara mencapai Rp700 miliar dan telah meraup laba bersih sebesar Rp237,3 miliar.

”Yang paling sulit adalah memulihkan kepercayaan publik, apalagi di tengah banyak pemberitaan miring. Tapi, kami yakin bisa melalui ini seperti halnya kami pernah melalui berbagai krisis yang lainnya,” ujarnya. kbc3/kbc5

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda
Kurs USD-IDR
9/19/2014
11.970
IHSG
9/19/2014
5.227,58
19,44 (0,37%)