Di Jatim, pedesaan masih menjadi kantong kemiskinan

Selasa, 19 Juli 2016 | 08:12 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com:  Upaya pemerintah provinsi Jawa Timur untuk menekan angka kemiskinan kiranya terus membuahkan hasil, khususnya di perkotaan. Hingga Maret 2016, tercatat angka kemiskinan di Jatim telah mengalami penurunan menjadi  4,703 juta jiwa dari sebelumnya pada September 2015 yang masih 4,775 juta.

Penurunan tersebut menurut data Badan Pusat Statistik Jawa Timur disebabkan karena turunnya jumlah masyarakat miskin perkotaan sebesar 0,47 poin persen, tetapi di pedesaan jumlah penduduk miskin justru mengalami kenaikan sebesar 0,17 poin persen. Kesenjangan ini terjadi karena kenaikan harga komoditas yang harus dibayar tidak sebanding dengan kenaikan pendapatan masyarakat pedesaan.

“Turunnya harga komoditas pangan seperti beras, telur ayam ras dan tempe menjadi salah satu pemicu naiknya angka kemiskinan di pedesaan,” ujar Kepala BPS Jatim, Teguh Pramono di Surabaya, Senin (18/7/2016).

Namun secara umum,  ada beberapa faktor  yang terkait dengan penurunan presentasi penduduk miskin di Jatim selama periode September 2015 hingga Maret 2016, yaitu stabilnya laju inflasi yang berada di level 1,31%, penurunan harga beras 0,10% dari Rp 9.702 per kilogram menjadi Rp 9.690 per kilogram.

“Selain itu pada periode tersebut, beberapa komoditas bahan pokok juga mengalami penurunan, seperti telur ayam ras dan tempe yang masing-masing turun sebesar 3,54% dan 0,17%,” terangnya.

Sementara itu, berdasarkan hasil Susenas pada periode September 2015 hingga Maret 2016, tercatat garis kemiskinan mengalami peningkatan sebesar  1,67% atau Rp 5.297 per kapita per bulan, yaitu dari Rp 316.464 perkapita per bulan menjadi Rp 321.761 per kapita per bulan.

“Peranan komoditas makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar disbandingkan komoditas bukan makananan seperti sandang dan papan, pendidikan dan kesehatan,” katanya.kbc6

Bagikan artikel ini: