Ini 5 pelajaran Indonesia hadapi krisis ekonomi menurut Boediono

Selasa, 02 Agustus 2016 | 08:37 WIB ET
Boediono
Boediono

NUSA DUA, kabarbisnis.com: Mantan Wakil Presiden Boediono menyatakan, Indonesia memiliki pengalaman dalam menghadapi krisis ekonomi. Diakuinya, pengalamannya sebagai Gubernur Bank Indonesia, Menteri Koordinator Perekonomian, Menteri Keuangan maupun Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, telah memberi pelajaran berharga.

Boediono mengungkapkan, ada lima pelajaran yang dia ambil dari krisis-krisis yang pernah menerpa Indonesia.

Pertama, setiap krisis dari dua krisis yang dia hadapi selalu datang dengan mengejutkan. Elemen kejutan tersebut juga akan terjadi pada krisis-krisis selanjutnya.

"Pemahaman saya, sampai saat ini ilmu pengetahuan tentang krisis tidak lebih banyak berkembang dibandingkan ilmu pengetahuan tentang prediksi bencana gempa bumi," kata Boediono pada acara BI-Federal Reserve Bank of New York Joint International Seminar di Hotel Sofitel Nusa Dua, Bali, Senin (1/8/2016).

Oleh sebab itu, strategi optimal yang bisa dilakukan para bankir bank sentral adalah selalu memeriksa kesehatan ekonomi tiap negara seperti menjaga kesehatan tubuh sendiri.

Dalam krisis pertama, kesiapan Indonesia hampir nol dalam menghadapi krisis. Konsekuensinya, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling terpukul dan membutuhkan waktu paling lama untuk pulih.

Sementara pada krisis kedua, Indonesia telah memiliki persiapan lebih baik dalam menghadapi krisis sehingga dampaknya minimal.

Pelajaran kedua dari pengalamannya adalah respon awal dalam penanganan krisis merupakan yang paling penting dan krusial.

Boediono menyebut, dalam krisis pertama yang dihadapinya, Indonesia tidak memiliki informasi yang cukup dan akurat sehingga respon awal dalam penanganan krisis pun salah langkah. Sementara di krisis kedua, respons awal telah cukup dan sesuai sehingga dampaknya pun minimal.

"Indonesia adalah salah satu megara yang paling kecil terdampak krisis dan salah satu yang tercepat pulih," ujar Boediono.

Pelajaran ketiga adalah, di tengah krisis para pengambil kebijakan tidak boleh berasumsi koordinasi antar institusi akan semulus ketika kondisi normal.

Faktanya, ketika terjadi tendensi ekonomi tidak sehat, lembaga justru ada yang tetap di zona nyaman mereka.

"Mereka meminimalkan peranannya untuk mengambil alih situasi dan mengambil keputusan kemungkinan untuk meminimalkan risiko politik karena takut menjadi sasaran kesalahan di masa mendatang," tutur Boediono.

Pelajaran keempat adalah memori institusional yang penting dalam mendukung keputusan yang bagus saat krisis seringkali sangat tipis atau bahkan tidak ada.

Masalah tersebut makin akut ketika pengambil keputusan saat terjadi krisis tidak memiliki orang dengan pengalaman langsung yang pernah berurusan dengan krisis.

"Tapi itu seharusnya tidak menjadi masalah ketika kumpulan memori institusional dan pengetahuan sudah siap diakses oleh pengambil keputusan," jelas Boediono.

Pelajaran terakhir, menurutnya sangat umum dan sudah diketahui luas oleh bankir yaitu kondisi politik yang mendukung menentukan efektifitas kebijakan ekonomi. "Ekonomi yang bagus hanya bisa berdiri di atas politik yang bagus," kata dia. kbc10

Bagikan artikel ini: