Ultah ke-43, ini harapan Bupati Banyuwangi Azwar Anas

Senin, 08 Agustus 2016 | 09:28 WIB ET
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas

MEMASUKI usia 43 tahun, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengutarakan sejumlah harapannya untuk kemajuan daerah yang dipimpinnya selama dua periode itu. Mantan anggota DPR RI ini berharap bisa terus menyelesaikan sejumlah problem yang diakuinya masih ada di Banyuwangi, misalnya pemerataan akses pendidikan.

"Saya ingin semakin banyak anak yang bisa dibiayai pemerintah daerah untuk kuliah di perguruan tinggi. Saat ini baru 700 anak. Tahun ini kami juga menargetkan bisa membawa kembali anak-anak yang sempat putus sekolah untuk kembali bersekolah,” kata Anas saat mendapatkan kejutan kue ulang tahun di pembukaan Konferensi Indonesia Berkebun di Banyuwangi, Sabtu (6/8), seperti dikutip Antara.

Pria kelahiran Banyuwangi, 6 Agustus 1973 itu juga mengutarakan keinginannya memperkecil kesenjangan antarwarga. Meski rata-rata pendapatan per kapita warga sudah meningkat dari Rp20,8 juta (2010) menjadi Rp37,5 juta (2015), masih ada sebagian warga yang belum terakomodasi dalam geliat ekonomi itu. Hal itu, kata Anas, yang dinamakan kesenjangan, sehingga menjadi pekerjaan rumah terberat.

"Indeks ketimpangan kami atau gini ratio sudah turun dari menjadi 0,29 pada 2015 dari sebelumnya 0,32. Tahun ini kami targetkan jadi 0,28. Ini PR berat karena banyak faktor saling berimpitan, baik aspek ekonomi, kultur, maupun pendidikan," ujar lulusan Universitas Indonesia ini.

Harapan lainnya adalah soal peningkatan kualitas layanan kesehatan. Anas menyadari di tengah keterbatasan kemampuan fiskal pemerintah daerah, peningkatan kualitas layanan kesehatan menjadi tantangan berat. Pasalnya, kata dia, kesehatan adalah dunia yang sarat teknologi yang pasti berkonsekuensi pada biaya untuk pembelian alat tersebut. Hal ini yang menyebabkan ada beberapa penyakit warga di daerah yang harus dirujuk ke RSUD dr Soetomo milik Pemprov Jatim di Surabaya.

"Kami ingin ini bertahap diselesaikan. Sudah ada penyakit yang bisa ditangani di Banyuwangi saja, padahal sebelumnya harus dirujuk ke Surabaya,” ujarnya.

Untuk penyakit lain yang harus dirujuk ke Surabaya, kata dia, termyata juga ada problem. Warga miskin sudah punya BPJS, semua biaya pengobatan ditanggung, tapi biaya hidup selama berada di Surabaya tidak ditanggung.

"Kami mencarikan solusi akan membuat rumah singgah di dekat RSUD dr Soetomo. Semester dua tahun ini juga terealisasi, masih harus menunggu perhitungan penilai independen untuk harga sewanya. Selama ini untuk membantu semacam itu kita saweran, ada juga dana dari Badan Zakat,” katanya.

Di usianya yang sudah 43 tahun ini, ia berharap semua pihak semakin kompak dalam membangun Banyuwangi. Kepedulian juga tumbuh dengan baik. “Hal yang kecil saja, misalnya kita lihat ada sampah tercecer di trotoar, ya langsung diambil dan dimasukkan tempat sampah. Jangan menunggu petugas kebersihan datang sesuai giliran tugasnya,” katanya.

Sementara itu ketika mendapatkan kejutan hadiah kue ulang tahun, ia berkomentar singkat, “Tidak terasa sudah semakin tua.” Alumni sejumlah pondok pesantren itu didampingi sang istri, Ipuk Fiestiandani, dan putranya Ahmad Danial Azka, kemudian membagikan kue berupa jajanan pasar kepada para peserta Konferensi Indonesia Berkebun yang datang dari 24 kabupaten/kota dan tiga perguruan tinggi dari berbagai daerah. kbc4

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: