Menyambut kejayaan sektor pariwisata

Selasa, 27 September 2016 | 14:55 WIB ET

SEKTOR pariwisata berpeluang menjadi penyumbang devisa utama bagi Indonesia. Di tengah turunnya kinerja sektor usaha lainnya, sektor pariwisata tetap tumbuh meyakinkan. Tak heran, pemerintah terus gencar menggenjot sektor tersebut.

"Di tahun 2019, sektor pariwisata diprediksikan menjadi penghasil devisa terbesar di negara ini," kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Arif Yahya.

Menurut Arief, target itu bukan tanpa alasan, karena saat ini semua mengetahui bahwa harga di sektor sumber daya alam seperti minyak, gas, batu bara, sawit, semuanya mengalami penurunan. "Sehingga sektor pariwisata bisa menjadi sumber penerimaan devisa terbesar," ujarnya.

Dia menegaskan, pariwisata selain dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan devisa, juga merupakan sektor penyerap tenaga kerja yang paling mutakhir. "Sektor pariwisata merupakan penghasil devisa termurah dan termudah," ungkapnya.

Menurut menteri, ada tiga hal penghasil devisa negara yakni perdagangan, penanaman modal dan pariwisata. "Kalau untuk perdagangan dan penanaman modal, kita tidak bisa mengalahkan Hongkong dan Singapura. Tetapi Singapura tidak akan bisa mengalahkan kita di dalam bidang pariwisata," ujarnya.

Menteri mengatakan, kalau berharap Pemerintah Kota Palu atau Sulawesi Tengah ingin bersaing, maka hal yang paling depan diutamakan adalah sektor pariwisata karena ketika pariwisata di suatu daerah maju, maka perdagangan dan penanaman modalnya juga akan maju.

"Karena saya percaya di sini, semua jajaran pemerintahannya bagus dan berkomitmen untuk membangun. Saya berharap, Palu akan kita proyeksikan menjadi destinasi utama wisata di Indoensia," katanya.

Menteri mencontohkan, jika ada satu juta wisatawan mancanegara yang datang ke Palu, artinya ada pendapatan daerah sekitar 1,2 miliar dolar atau sekitar Rp15 triliun uang yang beredar di masyarakat.

"Kalau sekarang masih di bawah 100 ribu, kita usahakan tahap pertama sekitar 100 ribu atau sekitar US$1 juta atau sekitar Rp1,3 triliun," harapnya. kbc12

Bagikan artikel ini: