Kisah Tonton, anak muda Banyuwangi lulusan Al-Azhar Mesir yang terjun di bisnis olahan susu sapi

Rabu, 28 September 2016 | 11:41 WIB ET

BERPELUH dengan produk olahan hasil ternak mungkin sama sekali tak dilirik oleh anak muda zaman sekarang. Namun, berbeda dengan Tonton Fathoni. Pemuda asal Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, Banyuwangi ini memilih "hidup rukun" dengan sapi-sapinya. Dia mengembangkan beragam olahan susu sapi, dari permen sampai produk kecamatan.

Tonton adalah lulusan Universitas Al-Azhar, Mesir, salah satu universitas top di dunia. Meski menyandang status sebagai lulusan kampus bergengsi, tak membuat Tonton minder untuk menuruskan usaha sapi perah yang digeluti oleh orang tuanya sejak 16 tahun silam. Ia bertekad untuk mengembangkan peternakan Sumber Lumintu yang dimiliki bapaknya di Dusun Wadungdolah, Desa Kaligondo, Genteng.

 

“Sepulangnya ke Banyuwangi pada tahun 2015 lalu, saya melihat Banyuwangi mulai tumbuh pesat perekonomiannya. Termasuk Kecamatan Genteng yang juga ikut tumbuh. Dari situ saya berpikir apa yang harus saya lakukan. Tak butuh waktu lama, saya memutuskan untuk mengembangkan peternakan sapi perah milik orang tua,” ungkap Tonton.

Sebagai anak muda, tentu ia tidak ingin hanya menjual susu sapi begitu saja, sebagaimana para peternak pada umumnya. Ia melakukan berbagai inovasi olahan produk susu murni menjadi berbagai macam produk. Mulai dari kosmetik, produk kesehatan, makanan dan minuman siap saji.

“Saat di Mesir saya sering berkunjung ke peternakan sapi perah dan melihat berbagai produk olahannya. Lalu, saya ikut pelatihan di Malang dan dari situ saya mulai tertantang lantas mencoba dan membuatnya pula,” ujarnya seperti dikutip dari Antara.

Dari usahanya untuk belajar itulah, Tonton membuat produk kefir, whey, lulur, sabun dan berbagai makanan dan minuman hasil olahan susu sapi. Beragam produk olahan susu segar tersebut, ia bisa mendulang keuntungan berlipat. “Jika dijual per liternya, susu segar hanya seharga Rp. 4.000 hingga Rp. 10.000, tapi jika diolah lagi bisa lebih mahal,” papar pria yang masa SMA-nya dihabiskan di pesantren tersebut.

Satu liter susu, Tonton bisa mengolah 60 persen menjadi whey, dan sisanya 40 persen menjadi lulur kecantikan. Whey semacam minuman kesehatan yang merupakan hasil fermentasi susu segar dalam waktu tertentu. Khasiat whey  tersebut amat beragam. Mulai dari mencegah kanker, mengurangi tekanan darah tinggi, asma hingga menambah vitalitas.

 “Kalau kadar airnya tinggi, satu liter susu segar bisa menghasilkan whey sebanyak 600 mililiter. Sedangkan sisa endapannya bisa dijadikan lulur kecantikan,” ungkapnya

Untuk 600 mililiter whey dijual seharga Rp 50.000. Lulur juga dijual seharga Rp 50.000 per 400 mililiternya. Selain whey dan lulur, Toton juga mengolahnya menjadi masker atau bahan mandi sabun. "Bila saya jual susu segar, mentok per liter dapatnya Rp 10 ribu. Beda bila sudah diolah, bisa dapat Rp 100 ribu dari satu liter susu,” terang cowok kelahiran 5 Maret 1992 itu.

Tonton juga mengolah susu sapi menjadi kefir. Kefir sendiri merupakan produk fermentasi susu. Selain bisa dikonsumsi, kefir juga bisa digunakan untuk kecantikan terutama masker wajah.

Manfaat dari kefir masker ini bisa mengeluarkan tumpukan racun kimia di dalam kulit akibat penggunaan berbagai macam krim yang mengandung bahan kimia yang berdampak panjang pada kesehatan.

Selain itu juga bisa melawan tanda tanda penuaan, mencerahkan dan membuat kulit semakin glowing, meremajakan kulit dan meningkatkan kadar air dan collagen pada kulit, membantu mengurangi iritasi, mengatasi masalah jerawat dan lainnya.

Per paket kefir masker 200 gram dijual seharga Rp 220.000. Biasanya konsumen dari masker kefir milik Toton ini adalah salon-salon kecantikan. Toton mengatakan, mengolah susu menjadi kefir lebih menguntungkan. Karena kefir akan terus berkembang biak. "Jadi bisa disebut merawat bakteri," kata Toton.

Menariknya, Tonton untuk mengolah semua produk tersebut, hanya memanfaatkan perangkat sederhana yang ada di dapurnya. Bersama ibunya ia memproduksi berbagai olahan susu tersebut tanpa peralatan khusus yang canggih. 

Tonton juga membuka kafe susu, Omah Ngedots di Setail, Genteng Banyuwangi.  Di kafe tersebut, Toton menjual berbagai macam varian susu murni. Tiap hari, Toton mampu menghabiskan 20 liter susu murni.

Saat ini Toton memiliki 6 sapi di peternekan Sumber Luminto milik orang tuanya. "Dengan mengolah susu murni menjadi produk-produk lainnya, selain memberikan keuntungan lebih juga bermanfaat untuk mendistribusikan susu peternak," kata Toton.

Ke depan, seiring semakin meningkatnya minat masyarakat dalam berbagai produk olahan susu segar, Tonton akan terus mengembangkannya, baik secara kualitas maupun berbagai perizinannya.

“Untuk produk kosmetik dan kesehatan itu harus mendapat izin BPOM, jadi perlu adanya uji laboratorium. Untuk itu, saya sedang mengurus hal ini dengan didampingi Dinas Koperasi dan UMKM Banyuwangi. Semoga berjalan lancar,” pinta lelaki yang masih lajang tersebut.

Sementara itu, Tonton juga masih memiliki keinginan terpendam. Usahanya untuk menggeluti susu segar tersebut tidak ingin ia nikmati sendiri. Ia merasa prihatin dengan para anak peternak yang justru memilih menjadi buruh serabutan di tanah rantau, ketimbang menggeluti peternakan.

“Saya sedang berusaha mendekati dan mengajak anak-anak peternak itu, untuk ikut beternak. Menjadi peternak di Banyuwangi itu, prospektif loh,” aku lelaki yang memiliki enam ekor sapi perah tersebut.

Bahkan Toton mengatakan, pernah mendapat permintaan dari Bali untuk mengirimkan 600 liter susu murni. Ini dikarenakan, banyak kafe yang membutuhkan pasokan susu. "Di sana banyak turis yang mencari susu murni di kafe-kafe," kata anak pasangan Nurfathoni dan Istiqomah tersebut. Sedangkan pasar lokal membutuhkan 1200 liter per 2 hari. Pabrik membutuhkan sekitar 3000 liter per dua hari. Ini menunjukkan susu sapi perah memiliki peluang pasar yang sangat besar. 

Keinginan tersebut, menurutnya, tidak hanya bertujuan untuk mengembangkan dunia peternakan di Banyuwangi. Akan tetapi juga akan menjadi “jalan dakwah” yang akan ia geluti. “Berdakwah itu tidak melulu pengajian, tapi memajukan ekonomi masyarakat dan menjadi orang yang bermanfaat itu juga berdakwah,” tegas penyandang sarjana Aqidah Filsafat Al-Azhar tersebut. kbc3

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: