Awas! Software bajakan rentan terkena malware

Rabu, 05 Oktober 2016 | 08:53 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kasus kerusakan file, pencurian data pribadi, dan penyusupan privasi merupakan contoh nyata bahaya penggunaan software bajakan saat ini.

Penelitian yang dilakukan oleh Microsoft dan Internasional Data Corporation (IDC) pada 2014 lalu, menunjukkan bahwa konsumen individu bisa menghabiskan USD 25 miliar dan membuang waktu sebanyak 1.1 milyar jam untuk mengidentifikasi, memperbaiki, dan memastikan perangkat mereka sepenuhnya terbebas dari malware.

"Banyaknya waktu dan materi yang terbuang untuk memulihkan perangkat yang terinfeksi malware tentunya akan merugikan pengguna. Padahal, dengan menggunakan genuine software, Anda dan keluarga dapat fokus memanfaatkan perangkat tersebut dengan lebih maksimal," ujar Sudimin Mina, Software Asset Management and Compliance Director, Microsoft Indonesia saat acara konferensi pers di Jakarta, baru-baru ini.

Sementara itu, menurut data yang diterbitkan oleh Microsoft Malware Infection Index 2016, tingkat pemalsuan PC di Indonesia tergolong masih sangat tinggi. Indonesia menduduki posisi kedua di belakang Pakistan dengan tingkat infeksi virus malware tertinggi di Asia Pasifik. Hal senada juga diutarakan oleh Sekretaris Jenderal Masyarakat Indonesia Anti-Pemalsuan (MIAP), Justisiari P. Kusumah. Kata dia, tingkat pemalsuan produk di Indonesia telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan.

"Ini berdampak terhadap angka kerugian yang besar bagi negara dan juga pemilik hak cipta," ujarnya.kbc10

Bagikan artikel ini: