Rangkaian festival sukses angkat pamor batik Banyuwangi

Senin, 10 Oktober 2016 | 18:02 WIB ET

BANYUWANGI, kabarbisnis.com: Pergelaran Banyuwangi Batik Festival (BBF) yang berlangsung Minggu malam (9/10), berhasil mengangkot pamor batik di daerah yang terletak di ujung timur Pulau Jawa tersebut sekaligus menggerakkan perekonomian para perajin batik lokal. BBF dihadiri oleh Ketua DPR Ade Komarudin, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, batik kini tumbuh pesat di daerahnya seiring dengan tumbuhnya sektor pariwisata. Banyak wisatawan yang menjadikan batik sebagai buah tangan alias oleh-oleh. ”Para perajin batik tumbuh dan berkembang. Sebanyak 53 event wisata yang kami gelar dalam Banyuwangi Festival sepanjang tahun ini ikut mengangkat pamor batik. Semoga ke depan semakin tumbuh karena kini juga sudah mulai berjalan jurusan batik di salah satu SMK yang ada di Banyuwangi,” ujar suami Ipuk Fiestiandani tersebut.

Pada Banyuwangi Batik Festival (BBF) ditampilkan batik karya para perancang lokal dan desainer nasional. Desain-desain busana batik yang tampil di atas panggung menunjukkan perkembangan kreativitas yang luar biasa dari para perajin dan desainer lokal. Sejak digelar pertama kali pada 2013, hingga kini BBF  telah mampu menjadi media bagi peningkatan kualitas batik daerah. Puluhan karya batik Banyuwangi yang bertema Sekar Jagat Blambangan tampil memukau dan elegan. Motif Sekar Jagad Blambangan merupakan penggambaran tentang apa-apa yang indah dari daerah yang dulunya merupakan wilayah Kerajaan Blambangan ini.

Desainer lokal yang terlibat dalam fasyen malam berlomba mendesain dengan apik. Keserasian warna yang dikolaborasikan dalam desainnya melahirkan desain nuansa lokal Banyuwangi namun mampu berbicara dalam konteks global. Memasuki tahun keempat, BBF  telah mampu menjadi pengungkit kunjungan wisatawan sekaligus menjadikan batik Banyuwangi sebagai identitas daerah. ”Kita semua patut bersyukur karena batik ini terkait langsung dengan ekonomi perajin lokal. Semakin laris, tentu semakin bagus. Kami juga sudah bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk ikut melatih para perajin batik lokal,” kata Anas.

Berdasarkan data BPS, nilai tambah industri pakaian (fesyen) dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Banyuwangi pada 2014 mencapai Rp92,09 miliar, tumbuh 11 persen dibanding 2013 yang mencapai Rp83 miliar. Angka 2015 masih dalam perhitungan BPS. "Batik menjadi salah satu penggeraknya," ujar Anas.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf yang berkesempatan menyaksikan langsung event BBF mengatakan, UNESCO mengakui batik sebagai warisan budaya tak benda, sehingga kita harus melindungi keaslian dan terus mengembangkannya. 

BBF, kata Triawan, merupakan ajang untuk menujukkan kecintaan terhadap batik serta melestarikan budaya untuk anak cucu. ”Pelaksanaan BBF wujud kecintaan budaya lokal dalam menggugah generasi pembatik untuk meningkatkan daya saing di bidang fesyen,” ujarnya.

Desainer nasional yang selama ini ikut mendampingi para perajin lokal, Priscila Saputro, kali ini mendesain khusus batik dengan nama koleksi Flora Universa. "Flora Universa merupakan sebuah persembahan estetika busana berbasis tradisi sebagai respon positif kepada Banyuwangi,"ujarnya.

Priscilla mengatakan, usai BBF, Presiden Indobesia Fashion Chamber (IFC) Ali Charisma akan membawa batik Banyuwangi dalam ajang peragaan busana prestisius Who’s Next di Paris, Perancis. ”Pada Februari 2017, kita akan bawa batik Banyuwangi ke event industri fesyen dunia tersebut," ujarnya.

BBF 2016 juga menampilkan putri Indonesia 2016 Kezia Roslin Cikita sebagai ikon batik Banyuwangi. Kezia tampil elegan dengan gaun malam karya Priscila Saputro. Busana yang dikenakan Putri Indonesia ini, batik sekar jagad blambangan warna merah yang dipadu padankan dengan aplikasi kristal swarovsky yang menonjolkan kesan mewah nan elegan. kbc3

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: