Pengusaha minta jamu masuk daftar obat BPJS Kesehatan

Rabu, 19 Oktober 2016 | 09:14 WIB ET

SEMARANG, kabarbisnis.com: Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu) Jawa Tengah mengusulkan produk jamu bisa masuk dalam daftar obat dalam program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, sehingga masyarakat secara luas bisa menikmati jamu yang menjadi unggulan produk Indonesia.

Ketua GP Jamu Jateng Nyoto Wardoyo mengatakan, usulan produk jamu yang masuk list penerima manfaat program BPJS Kesehatan yakni kategori sakit ringan, seperti masuk angin, flu, batuk dan penyakit ringan lainnya.

Usulan itu, katanya, sudah dikomunikasikan dengan Kementerian Kesehatan dan Dewan Perwakilan Rakyat khususnya Komisi IX untuk dimasukkan dalam regulasi tentang jaminan sosial.

“Untuk masuk ke BPJS sudah diupayakan, tapi tidak mudah. Harus masuk dalam undang undang dulu dan daftar obat yang masuk BPJS. Kalau belum masuk, klaimnya tidak bisa keluar,” paparnya disela Musyawarah Daerah di Semarang, Selasa (18/10/2016).

Dia mengatakan, persyaratan untuk masuk dalam daftar obat BPJS Kesehatan harus memenuhi standar kualitas produk, keamanan dan pengetahuan masyarakat mengenai manfaat dari produk jamu.

Menurutnya, ada beberapa produk jamu yang sudah diajukan dan menjadi sampel untuk pengobatan penyakit ringan. Pasalnya, manfaat jamu bisa dirasakan dalam tempo yang lebih lama daripada obat.

“Jamu itu produk unggulan Indonesia. Kalau obat itu bahan bakunya kan mayoritas impor. Inilah yang harus didorong bagaimana jamu menjadi alternatif baru selain obat,” terangnya.

Selain itu, lanjut Nyoto, diversifikasi bahan baku jamu tersebut penting dilakukan. Pasalnya, ada banyak bahan baku dan manfaatnya, seperti misalnya temu lawak untuk detok tubuh dan jahe untuk antibodi.

Untuk mengeksplorasi bahan baku lain, perlu ada kerja sama dengan akademisi seperti perwakilan dari perguruan tinggi untuk pengembangan produk dari bahan baku yang tersedia.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berharap industri jamu setempat mampu menguasai pasar dalam maupun luar negeri.

Dia mengatakan para pelaku industri jamu harus berpikir bahwa Indonesia dapat menguasai pangsa pasar dunia. “Dari sisi bahan baku, kita unggul. Apalagi Jawa Tengah harus menjadi nomor satu produk jamu di Indonesia bahkan dunia,” terangnya.

Ganjar menyarankan untuk dapat menguasai pasar tersebut para pelaku industri jamu harus menjaga kualitas produksi. Menurutnya, selama ini kualitas masih menjadi masalah untuk industri jamu di wilayahnya.

Kelemahan industri jamu, katanya, produk jamu yang laris dipasaran malah dicampur dengan bahan baku lainnya, sehingga konsumen tidak menyakini akan kualitas produk tersebut.  Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman dari para pelaku agar industri jamu ini dapat berjalan dengan baik.

"Jamu ya jamu jangan yang lain. Konsumen harus diberikan pemahaman, minum jamu langsung sehat itu tidak mungkin. Jamu ini untuk investasi kesehatan jangka panjang, seketika sembuh inilah yang harus dihilangkan, jangan berekspektasi tinggi," katanya.

Sementara itu, pelatihan dan pendampingan juga harus diberikan. Tujuan dari pendampingan ini penting untuk memastikan kualitas produksi. Selain itu, harus ada riset pengembangan yang dilakukan. “Banyak perusahaan jamu besar yang dapat dilibatkan," katanya.

Sedangkan untuk diversifikasi dan ketersediaan bahan baku, pelaku industri jamu dapat menjalin kemitraan dengan para petani. Selanjutnya, mereka dapat langsung memesan bahan-bahan tertentu yang dibutuhkan seperti jahe dan kencur. kbc10

Bagikan artikel ini: