Susahnya membesarkan porsi kredit ke sektor pertanian

Rabu, 19 Oktober 2016 | 12:10 WIB ET

SEBAGAI salah satu sentra pertanian di Indonesia, Jawa Timur diharapkan menjadi pusat penyaluran kredit perbankan ke sektor pertanian. Nyatanya, penyaluran kredit ke sektor ini masih loyo. Butuh inovasi dan kemauan pelaku industri perbankan serta dukungan regulasi yang bisa mempercepat terwujudnya pertumbuhan penyaluran kredit pertanian.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur mencatat penyaluran kredit pertanian di wilayah Jatim hingga Juli 2016 sebesar Rp 9,75 triliun. Jika dibandingkan dengan total penyaluran kredit pada periode tersebut yang mencapai Rp 360 triliun, jumlah penyaluran keedit pertanian ini sangat minim, hanya menyumbang 2,71% dari total penyaluran kredit.

Bandingkan saja dengan kredit kredit untuk industri pengolahan yang berkontribusi 29,3% (Rp105,48 triliun), atau kredit untuk sektor perdagangan yang berkontribusi 26,8% (Rp96,48 triliun) atau bahkan kredit konsumtif yang kontribusinya mencapai 26,9%. 

“Ini menunjukkan, perbankan lebih suka menyalurkan kredit ke sektor konsumtif daripada pertanian. Selain lebih mudah, resikonya juga kecil. Sedangkan menyalurkan kredit ke sektor pertanian dianggap beresiko tinggi juga lebih ribet. Padahal kredit ke sektor pertanian sangat potensial apabila dikelola dengan baik dan benar,” kata Kepala Divisi Advisory Ekonomi dan Keuangan Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Taufik Saleh.

Ia menambahkan, penyaluran kredit ke sektor pertanian dianggap lebih sulit karena kurangnya pemahaman SDM perbankan terhadap sektor ini. Tidak banyak bank yang menyediakan SDM yang khusus menangani kredit pertanian.

Di banyak bank, penanganan kredit pertanian masih disamaratakan dengan penyaluran kredit untuk sektor lainnya. Akibatnya NPL di sektor ini cukup tinggi dan akhirnya penyaluran kredit ke pertanian dihindari.

“Kredit pertanian memang kompleks, ada banyak faktor yang harus dianalisa untuk memastikan satu debitur dianggap feasible dan bankable. Belum lagi tiap-tiap komoditas mempunyai karakteristik tersendiri yang mana tidak semua analis kredit memahami,” ujarnya.

Karenanya, Taufik mendorong agar perbankan lebih jeli dalam menangani kredit di sektor ini. Perbankan harusnya menyediakan SDM khusus untuk menangani kredit pertanian serta menyusun best practices khusus untuk sektor ini. Dengan demikian diharapkan resiko bisa bisa ditekan dan penyaluran kreditnya bisa ditingkatkan.

Sementara itu, Pemimpin Divisi Kredit Agribisnis dan Ritel Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur (Bank Jatim), Basuki Budi Wuryanto, mengatakan penyaluran kredit ke sektor pertanian saat ini lebih banyak dilakukan melalui koperasi atau kelompok tani dengan melihat avalis atau off-taker sebagai penjamin. Sistem penyaluran kredit seperti ini banyak dilakukan untuk komoditas tebu dimana Bank Jatim sudah bekerjasama dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X dan XI yang bertindak sebagai avalis atau off-taker dari hasil pertanian.

Bank Jatim juga telah bekerjasama dengan Lembaga Pengelola Dana Bergulir - Kementerian Koperasi dan UMKM (LPDB-KUMKM) untuk pembiayaan kredit kepada Koperasi Tebu. Selain itu Bank Jatim bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam hal pembiayaan kepada Industri Primer, artinya, Bank Jatim akan menyalurkan kredit untuk industri yang mampu mengolah hasil pertanian hingga mempunyai nilai tambah. Jadi, kredit pertanian tidak hanya mendukung petani, tetapi juga industri mikro dan kecil yang bisa meningkatkan hasil tani tersebut.

 “Dengan menyalurkan melalui avalis atau off-taker sebagai penjamin maka kualitas kredit akan terjaga,’ katanya. 

Penyaluran kredit Bank Jatim pada sektor Pertanian hingga Agustus 2016 tercatat sebesar Rp 1,1 Triliun dengan outstanding sebesar Rp 695 Miliar atau 2,41% dari total Penyaluran kredit Bank Jatim secara keseluruhan. Skim Kredit Bank Jatim yang dapat menyalurkan kredit di sektor Pertanian antara lain, Kredit Pundi Kencana dan Bankit KKPA khusus Tebu.

Di sisi lain, kepala Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, Wibowo Eo Putro, mengatakan potensi pembiayaan di sektor pertanian sebenarnya sangat besar. Hasil produksi pertanian, khususnya komoditas pangan seperti padi dan jagung, di Jatim tercatat merupakan yang paling besar secara nasional.

“Namun kenyataannya, penyaluran kredit pertanian khususnya ke komoditas pangan masih sangat minim. Penyaluran kredit di sektor pertanian saat ini masih didominasi tebu,” ujarnya.

Perbankan menurutnya, harusnya lebih fokus menyalurkan kredit ke komoditas pangan untuk meringankan beban petani serta sebagai bentuk keberpihakan sektor finansial terhadap kemajuan sektor pertanian, utamanya pertanian pangan. Karena selama ini, dengan besarnya biaya usaha tani, akhirnya petani cenderung  menjual hasil panen langsung ke tengkulak dengan harga murah.

Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa produksi padi Jatim pada tahun ini cukup bagus. Dari target yang ditetapkan pemerintah pusat sebesar 2.282.304 hektar luas tanam lahan padi, per 1 Agustus sudah surplus sebesar 23.000 hektar atau mencapai  2.306.000 hektar luas tanam padi di Jatim. Sementara di September, tanam padi masih akan berlangsung di lahan seluas 63.000 hektar.

"Artinya, target produksi padi Jatim yang ditetapkan oleh pusat sebesar 13,5 juta ton Gabah Kering Giling pada tahun ini akan terlampaui. Karena per 1 Agustus 2016 sudah surplus sebesar 23.000 hektar dan di September masih ada tanam seluas 63.000 hektar," ujarnya. kbc8

Bagikan artikel ini: