Ikhtiar ketahanan pangan lewat urban farming

Selasa, 25 Oktober 2016 | 10:57 WIB ET

BERTANI tak harus di sawah yang luas. Di perkotaan pun, dengan keterbatasan lahan,  kita bisa bercocok tanam. Ya, siapa pun dan di mana pun bisa menjadi seorang petani. Gerakan urban farming yang kini sedang nge-tren diharapkan tak cuma buat gaya semata.

Solusi bertani di tengah keterbatasan itu adalah dengan menggunakan teknik hidroponik.  Metode ini memang cukup praktis. Dengan menggunakan media paralon atau bekas talang rumah atau wadah bekas apapun, bertani bisa dilakukan.

Sepetak kebun hidroponik milik Venta Agustri , Kebun Sayur Surabaya yang berlokasi di Ketintang Surabaya ini menjadi bukti bahwa orang-orang di perkotaan bisa berkebun dengan cara yang cerdas dan potensial menjadi lahan bisnis.  Bahkan saat ini, Kebun Sayur Surabaya, menjadi salah satu alternatif warga Surabaya dan sekitarnya untuk berbelanja sayuran organik sekaligus berwisata dan belajar soal pertanian. Ya, inilah wujud dari konsep “urban farming” yang sedang berkecambah di banyak kalangan masyarakat.

Awalnya Venta bukan pegiat dunia pertanian. Alumnus Teknik Sipil ITS ini sebelumnya bekerja di perusahaan pertambangan. Karena ingin selalu dekat dengan keluarga, akhirnya ia memilih untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Dia hendak memulai bisnis kuliner.

Karena sering kesulitan mendapatkan pasokan sayuran untuk restorannya, akhirnya ia mengembangkan usahanya di dunia pertanian. Apalagi kebutuhan sayuran di Surabaya juga cukup tinggi. Selama ini, persediaan sayur di Surabaya banyak dipasok dari kota-kota di sekitarnya seperti Mojokerto, Pasuruan, dan Malang. Tapi bukan berarti berkebun sama sekali tak bisa dijalankan di Surabaya

“Saya merasa lebih nyaman dengan dunia baru saya. Lebih banyak yang bisa dieksplorasi. Hingga suatu saat saya berpikir, kenapa saya tidak menyediakan bahan-bahan untuk kafe saya sendiri? Akhirnya saya mencoba menanam sendiri dengan menggunakan teknik hidroponik pada tahun 2014. Saya bealjar teknik hidroponik dari seorang teman di Jakarta selama lima hari,” terang Venta.

Ia belajar dari nol, mulai teknik persemaian, persiapan tanam, penyiapan nutrisi, mengontrol produksi, hingga cara menanam, memanen, sampai mengemas hasil panen.  Menurut Venta, hal utama yang harus dimiliki oleh seseorang yang ingin menggeluti bisnis pertanian adalah menguasai teknik produksi.

Sistem hidroponik yang dia praktikkan disebut “nutrient film technieque” alias NFT. Sistem ini adalah cara yang paling populer dalam hidroponik. Pada dasarnya air yang telah dicampur nutrisi tanaman terus menerus dialirkan melewati media talang. Air bernutrisi ini mengalir melintasi akar-akar tanaman kemudian kembali lagi ke penampungan air. Dari penampungan, air dialirkan kembali ke tanaman. Begitu seterusnya.

Selain karena penyakit tanaman, fokus pemasaran juga membuat Venta memutuskan untuk lebih berkonsentrasi kepada sayur selada. Maka kebunnya ditanami aneka macam selada seperti endive, arugula, butterhead, green oak lettuce, red oak lettuce, green leaf lettuce, red leaf lettuce, romaine, iceberg, dan selada batavia. Panen pertamanya cukup menggembirakan. Masalahnya, hendak dijual ke mana sayuran yang cukup banyak itu? Tidak mudah menjual sayur mayur organik yang kadung dikenal sebagai komoditas mahal. Kalau tak dijual, tentu dia merugi.

“Ini juga masalah bagi banyak orang yang mejalankan hidroponik. Banyak yang semangat menjalankannya, tapi setelah panen, tidak tahu mau dipasarkan ke mana,” ujarnya.

Hotel dan restoran di Surabaya menjadi sasaran pemasaran paling potensial. Venta mendatangi mereka dan membujuk untuk menerima sayur mayur produksi Kebun Sayur Surabaya. Sebuah hotel ternama di Surabaya sukses diajak menandatangani kerjasama. Venta menjadi pemasok utama sayur untuk restoran  di hotel tersebut. “Hotel itu jadi klien premium kami. Setelah banyak yang mendengar kami memasok sayuran untuk mereka, lainnya menyusul,” katanya.

Dan saat ini, ada puluan vendor yang menerima sayur mayur hasil Kebun Sayur Surabaya. Ada hotel, restoran, juga gerai-gerai pasar swalayan. Banyak pula warga yang langsung datang ke kebun dan memetik sendiri sayur yang hendak mereka beli.

“Tentu saya senang kalau banyak orang di Surabaya makin tertarik berkebun. Saya memang punya cita-cita Surabaya jadi kota sayur.”

Ia mengatakan sejumlah komunitas seperti kelompok berkebun dan penyuka makanan sehat, cukup mendukung makin berkembangnya kebun hidroponik. Mereka yang kerap berkumpul di ruang maya maupun kopi darat ikut memperkenalkan nama Kebun Sayur Surabaya.

“Kebun kami belum lama. Tapi banyak yang sudah mengenal kami. Tiap hari banyak kunjungan dari berbagai kota, buat kunjungan atau memang untuk belajar,” katanya.

Makin meningkatnya kesadaran pola konsumsi makanan sehat membuat Venta optimis hidroponik bisa menjadi ladang bisnis yang cerah. Kebun Sayur Surabaya bukan saja menjadi tempat menjual sayur, tapi juga menjual aneka macam kebutuhan berkebun hidroponik seperti bibit, media tanam (rockwool), sampai nutrisi.

Sejumlah orang yang berkunjung ke Kebun Sayur Surabaya kerap menawarkan sejumlah lahan dan dana. Mereka mengajak Venta bekerjasama atau minta dibuatkan kebun  hidroponik.

Untuk berbagi ilmu berkebun, dia akan senang hati. Tapi untuk bekerjasama dia mengaku selektif. Sebab banyak orang menganggap berkebun sebagai kegiatan sampingan yang potensi ekonominya menggiurkan, tapi mengerjakannya tidak serius. kbc6

Bagikan artikel ini: