Yuk saksikan! Banyuwangi Ethno Carnival kembali digelar akhir pekan ini

Selasa, 08 November 2016 | 08:11 WIB ET

BANYUWANGI, kabarbisnis.com: Parade fashion termegah di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang dikemas dalam "Banyuwangi Ethno Carnival" (BEC)  akan digelar pada Sabtu, 12 November 2016 dengan mengangkat tema "The Legend of Sritanjung Sidopekso".

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menjelaskan, karnaval megah itu akan menghadirkan ratusan talent yang  memeragakan ragam busana tokoh legenda Banyuwangi yang disuguhkan dalam balutan desain kontemporer. 

Anas menjelaskan BEC merupakan salah satu dari 53 kegiatan dalam rangkaian Banyuwangi Festival 2016. Kegiatan ini menjadi salah satu peristiwa budaya besar yang telah menjadi ikon pariwisata daerah dan paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat. BEC kali ini juga akan dimeriahkan oleh kehadiran Puteri Pariwisata 2016 Dhika Faradhiba.

"Kami terus konsisten mengeksplorasi budaya kami. Banyuwangi Ethno Carnival pun kami gelar secara tematik setiap tahunnya dengan berpijak pada budaya lokal. Setelah tahun-tahun sebelumnya sempat mengangkat gandrung, barong Using, seblang, adat Kemanten Using, tahun ini yang kami persembahkan adalah kisah legenda asal mula Kabupaten Banyuwangi," katanya seperti dikutip Antara.

Anas menambahkan parade ini sengaja digelar dalam bentuk karnaval kontemporer untuk menjembatani tradisi dan budaya moderen. Karnaval, lanjut dia, diyakini banyak pihak sebagai cara mengemas acara yang paling disukai oleh masyarakat.

"Bedanya, tema karnaval yang kami angkat adalah tradisi lokal masyarakat Banywuangi. Contohnya tahun ini yang sengaja mengangkat legenda asal mula Kabupaten Banyuwangi. Di awal acara nantinya, akan disuguhkan fragmen yang mengisahkan legenda mengenai Putri Sritanjung," ujar Anas.

Sementara Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Banyuwangi MY Bramuda mengatakan tema BEC 2016 ini mengambil inspirasi dari tokoh-tokoh pada legenda asal mula nama Banyuwangi, yakni Putri Sritanjung, Patih Sidopekso dan Raja Blambangan Prabu Sulah Hadikromo.

Bramuda mengatakan, legenda ini merupakan kisah tentang kesetiaan seorang Sritanjung, istri patih Sidopekso. Namun kesetiaan itu berubah menjadi bencana karena sang suami Patih Sidopekso mendapatkan cerita bohong dari Sang Raja Sula Hadikromo yang rupanya jatuh cinta pada Putri Sritanjung.

Dikisahkan Raja itu mengatakan bahwa Sri Tanjung jatuh cinta kepada sang Raja. Patih Sidopekso pun langsung murka sampai membunuhnya. Sebelum dibunuh, Sritanjung sempat mengatakan bahwa apa yang didengar suaminya adalah fitnah. Bila tidak terjadi apa yang dituduhkan, Sritanjung bersumpah bahwa jasadnya akan mengeluarkan bau harum.

     

"Untuk membuktikan kesetiannya, Putri Sritanjung pun rela dibunuh yang sebelumnya juga meminta jasadnya dibuang ke sungai. Dan ternyata, setelah dibuang ke sungai, keluar bau wangi dari sungai tersebut. Itu lah asal mula nama Banyuwangi muncul, Banyuwangi  (air harum),” ujar Bramuda.

     

Bramuda melanjutkan, perhelatan BEC ini akan diselenggarakan di Jalan Veteran, Banyuwangi, area seputar Taman Blambangan. Sebanyak 160 talent akan memeragakan busana modifikasi tiga tokoh sentral dalam legenda itu, yakni Putri Sritanjung, Patih Sidopekso dan Raja Blambangan Prabu Sulah Hadikromo.

     

Dalam legenda, Putri Sritanjung digambarkan sebagai seorang wanita berparas cantik yang halus tutur kata dan sikapnya. Pada perhelatan BEC nanti, sosok Sritanjung akan ditampilkan dalam balutan busana seorang putri lengkap dengan selendang dan mahkota yang dihiasi untaian bunga melati.

     

"Meskipun semua busana para tokoh legenda didesain dengan modifikasi dan penambahan ornamen, namun ada pakem yang tidak boleh berubah sebagai ciri khas dari masing-masing tokoh. Misalnya kostum Putri Sritanjung akan tetap menggambarkan sosok seorang putri yang elegan dengan untaian bunga," ujar Bramuda.

     

Selanjutnya, Patih Sidopekso dalam BEC akan ditampilkan sebagai seorang patih kerajaan yang kuat dan tangguh. Dalam balutan dominasi warna merah dan hitam, kostum akan menampilkan kekuatan karakternya. Selain itu, kostum juga akan dilengkapi dengan aksesoris senjata sebagai simbol seorang pemimpin prajurit.

     

Sementara itu Raja Sulah Hadikromo akan ditampilkan dalam balutan busana yang menampilkan sosok seorang raja yang gagah. Dalam BEC, kostum raja didesain dalam busana kebesaran berupa jubah kerajaan yang dilengkapi dengan mahkota dengan dominasi warna biru.

     

Pada hari pelaksanaan, lanjut Bramuda, parade BEC akan diawali dengan tarian Gandrung Kolosal. Selanjutnya disambung dengan fragmen cerita Legenda Banyuwangi. Sebelum fragmen, di barisan awal BEC 2016 dibuka barisan 150 BEC Cilik dengan kostum yang menggambarkan keberagaman flora dan fauna di zaman Kerajaan Blambangan. Dilanjutkan parade talent utama BEC. Mereka akan berlenggak-lenggok memamerkan busananya dengan iringan musik secara live oleh para pemusik tradisional Banyuwangi dan musisi modern.

     

"Akan ada juga penampilan BEC dari warga asing. Selain kostum tokoh utama, BEC 2016 akan diisi parade kostum bamboo handycraf khas Gintangan. Di parade ini, mereka akan tampil dengan kostum dari anyaman bambu yang dikreasikan menjadi fashion yang unik. Tentunya akan menambah semarak acara," kata Bramuda.

     

Sebagai penutup parade, Putri Pariwisata Indonesia 2016 Dhika Faradiba dan runer up I dan II Putri Indonesia 2016 juga turut berparade dengan membawakan kostum barong dan gandrung. kbc3

Bagikan artikel ini: