Mochtar Riady: Perusahan harus sensitif terhadap perubahan

Jum'at, 18 November 2016 | 14:12 WIB ET

FOUNDER Lippo Group Mochtar Riady mengatakan perusahan harus sensitif terhadap perubahan teknologi. Jika tidak, masa kejayaan sebuah perusahan tidak dapat bertahan hingga tiga generasi. Tak hanya perubahan teknologi, perubahan politik juga berimbas pada kondisi ekonomi dan sosial. Oleh karena itu, perusahan harus sensitif terhadap setiap perubahan yang terjadi.

"Ada yang bertanya, apakah perusahaan (bisa bertahan, Red) lebih dari tiga generasi? Dalam hal ini saya menjawab tidak. Seperti yang terjadi lima tahun yang lalu, ada empat perusahan raksasa eletronik Jepang yang di-take over oleh Tiongkok, dan tiga tahun lalu, perusahan mobil Nissan Jepang juga telah di-take over oleh perusahan Prancis dan kemudian mengambil keuntungan dengan Mitsubishi. Ini menunjukkan perusahan mengalami kemunduran karena tidak sensitif terhadap perubahan teknologi,” kata Mochtar dalam acara "Business Leaders Speaker Series" yang diselenggarakan oleh Universitas Pelita Harapan (UPH) Business School bertema "Membangun Usaha dengan Modal Dengkul, Otak Unggul, Ide Sebakul, dan Niat Luhur" di Grand Chapel UPH, Karawaci, Tangerang, Banten, Kamis (17/11/2016).

Tak hanya perusahaan, negara juga akan mengalami kesulitan jika tidak sensitif terhadap perubahan. Hal itu terjadi pada negara-negara di Eropa dan Amarika Latin. Mereka pernah mencapai kejayaan dan saat ini rontok karena mengalami middle-income trap.

Pendapatan setiap orang telah mencapai US$ 5.000. Nilai tersebut sangat tinggi dan negara tidak bisa mempertahankan karena tidak sensitif terhadap perubahan.

Lebih jauh Mochtar mengatakan, jika tidak dapat mengantisipai perubahan, pasti akan muncul masalah baru. Untuk itu, ia mengimbau agar semua pihak harus sensitif terhadap perubahan. Upaya untuk mengasah sensitivitas terhadap perubahan harus dimulai dari dunia pendidikan.

"Pendidikan memiliki peranan sangat penting. Tanpa pendidikan tidak mungkin memiliki suatu kemampuan untuk mengikuti kemajuan. Saya sangat perhatian dengan pendidikan. Saya merasa pendidikan sangat penting bagi suatu bangsa,” ujarnya.

Mochtar mengaku bangga dan gembira karena keinginannya untuk ikut membangun dunia pendidikan dan kesehatan mendapat respons positif dari anak dan menantunya. Mereka memiliki perhatian yang lebih pada dunia pendidikan dan kesehatan.

Selain itu, Lippo Group juga fokus membangun pendidikan dan kesehatan sebagai bentuk tanggung jawab sebagai anak bangsa. Harapannya, generasi muda juga memiliki rasa tanggung jawab pada setiap situasi.

"Manusia itu selalu menuntut posisi. Maka harus responsibility dengan statusnya. Kita harus ada respons untuk memuliakan bangsa karena akan berdampak positif bagi negara,” ucapnya.

Mochtar juga mengharapkan mahasiswa UPH dapat memiliki rasa tanggung jawab untuk memuliakan UPH dan bangsa. Sebab, UPH bukan milik Lippo, tetapi milik bangsa untuk menghasilkan lulusan yang berguna bagi bangsa. Hal yang sama juga disampaikan kepada anak, cucu, dan cicitnya, agar mereka sensitif terhadap perubahan serta memiliki tanggung jawab.

Pada usia 88 tahun, Mochtar mengaku tetap mengikuti perubahan teknologi. Hal itu dilakukan untuk menjaga keseimbangan Lippo Group yang terus berkembang. Saat ini, Lippo Group memiliki 120.000 karyawan tetap dan puluhan ribu karyawan tidak tetap. kbc10

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: