Industri informasi telekomunikasi diprediksi tumbuh pesat di 2017

Selasa, 06 Desember 2016 | 14:51 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri, memperkirakan sektor industri teknologi informasi dan telekomunikasi (ICT) akan tumbuh pesat pada 2017.

"Industri telekomunikasi dan teknologi informasi perannya relatif kecil terhadap PDB hanya 3,4%, tetapi pertumbuhannya double digit," ujar Faisal usai "Paparan Ekonomi 2017: Menanti Fajar dalam Keseimbangan Baru Ekonomi Global" yang diselenggarakan Sampoerna University di Jakarta, Senin (5/12/2016).

Sejak 2010, sektor ICT selalu mencapai pertumbuhan tertinggi dibandingkan sektor lain. Bahkan sejak triwulan I-2016, pertumbuhannya tertinggi kedua setelah sektor jasa dan keuangan.

Pada triwulan II-2016, pertumbuhan sektor ICT sebesar 8,47% dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 3,56%. Sementara sektor jasa keuangan dan asuransi tumbuh 3,51%, dengan kontribusi sebesar 4,15%.

Menurut Faisal, industri ICT akan terus berkembang karena sangat dibutuhkan di hampir seluruh sektor lain, terutama teknologi finansial (fintech), UMKM, e-commerce, dan transportasi. "Tanpa ICT, ekonomi akan mandek karena itulah syarat membuat ekonomi tumbuh di era digital seperti sekarang," jelasnya.

Namun, rendahnya Indeks Perkembangan ICT Indonesia pada 2016 berada di urutan 115 dari 175 negara, menunjukkan pemerintah harus lebih saksama menyusun kebijakan untuk mendorong pertumbuhan di sektor ini.

"Sekarang revisi PP (Peraturan Pemerintah Nomor 52 dan 53 Tahun 2000) sedang digodok, karena multiplier effect pertumbuhan sektor ICT besar sekali untuk meningkatkan produktivitas," kata Faisal.

Sementara itu, Ketua Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis Sampoerna University, Wahyoe Soedarmono, berpendapat industri ICT harus dikombinasikan dengan industri jasa keuangan dan asuransi untuk mendorong akses masyarakat terhadap jasa keuangan.

"Di sisi deposit market peran ICT sangat penting untuk mendukung akses pendanaan dan keuangan formal bagi masyarakat di pedalaman," kata Wahyoe.

Namun di sisi lending market, peran ICT harus diintegrasikan dengan institusi finansial yang dapat memediasi kepentingan debitur dan kreditur, sehingga meminimalkan risiko atau moral hazard. kbc10

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: