Impor China melesat, harga batu bara menyengat

Jum'at, 09 Desember 2016 | 03:52 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Harga batu bara berpeluang memanas seiring dengan meningkatnya impor China ke level tertinggi sejak Desember 2014 pada musim dingin. Namun, sentimen negatif dari proyeksi tumbuhnya produksi Negeri Panda masih membayangi.

Pada penutupan perdagangan Rabu (7/12/2016), harga batu bara kontrak Desember 2016 di bursa ICE Rotterdam meningkat 1,77% atau 1,4 poin menjadi US$80,65 per ton. Sebelumnya, harga terkoreksi dalam empat perdagangan terakhir.

Data Administrasi Umum Bea Cukai China menyebutkan impor China sebagai konsumen batu bara terbesar di dunia pada periode November meningkat 25% (month on month/ mom) menjadi 26,97 juta ton. Sepanjang 11 bulan pertama 2016, pengiriman ke dalam negeri naik 22,7% (year on year/yoy) menjadi 229 juta ton.

Analis Success Futures, Deng Shun mengatakan, lonjakan impor terjadi untuk menambah stok bahan bakar pembangkit listrik menjelang puncak musim dingin. Secara tertahap nantinya tingkat impor bakal melambat setelah persediaan dalam negeri meningkat tajam.

Harga batu bara telah melonjak pada paruh kedua 2016 setelah Presiden China Xi Jinping memerintahkan industri tambang dalam negeri memangkas produksi. Kebijakan tersebut bertujuan mengangkat industri batu bara dalam negeri keluar dari krisis sekaligus meringankan suprlus suplai.

"Pembangkit listrik membutuhkan cukup banyak batu bara, solusinya ialah impor untuk mengantisipasi kekurangan stok pada musim dingin. Namun, impor secara bertahap akan melambat seiring dengan persediaan yang sudah meningkat," tuturnya seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (8/12/2016).

Sementara menurut Tian Miao, analyst sekaligus policy researcher North Square Blue Oak Ltd., peningkatan impor batu bara diperlukan untuk mengisi kesenjangan suplai dalam negeri. Pasalnya, pemulihan produksi dalam negeri membutuhkan waktu sekitar tiga bulan.

Kini, harga batu bara mendapatkan sentimen negatif seiring dengan proyeksi menurunnya impor China pada tahun depan ke level 200 juta akibat sesaknya stok di dalam negeri. Sentimen ini membuat harga menurun sejak akhir November.

China Coal Transport and Distribution (CCTD) Association, menyebutkan produksi batu bara dalam negeri pada 2017 diperkirakan meningkat 5% yoy karena pemerintah melonggarkan pengetatan terhadap operasi penambangan.

Tingkat produksi sudah anjlok 10,7% yoy selama 10 bulan pertama 2016 karena pemerintah membatasi hari kerja penambangan dari 330 hari per tahun menjadi 276 hari per tahun untuk memangkas surplus pasokan.

Zhang Yeqing, commodity researcher ICIS, saat ini pemerintah cenderung melonggarkan kontrol terhadap produksi batu bara. Langkah tersebut diambil karena pengambil kebijakan tidak ingin melihat harga naik terlalu tinggi atau sebaliknya mengalami anjlok.

Sebelumnya, pemerintah China berencana mengurangi stok batu bara antara 60%-64% sampai 2020 dan beralih ke tenaga nuklir, gas alam, serta energi terbarukan. Produksi batu hitam nasional juga dipangkas sebesar 500 juta ton dalam 3-5 tahun ke depan.

"Nampaknya keputusan ini akan dikonsolidasikan kembali, apakah produksi benar dipangkas 500 juta ton sampai 2020," ujarnya. kbc10

Bagikan artikel ini: