Kembang-kempis, majalah Time dikabarkan cari investor baru

Selasa, 13 Desember 2016 | 15:04 WIB ET

NEW YORK, kabarbisnis.com: Peta pasar bisnis media di Amerika Serikat (AS) berpotensi berubah. Kabar paling anyar Time Inc sudah menunjuk bank untuk mengkaji opsi strategi bisnis di tengah tawaran dari sejumlah investor baru.

"Time telah menunjuk Morgan Stanley dan Bank of America Corp sebagai penasihat investasi," bisik sumber Wall Street Journal. Rumor beredar, sejumlah konglomerasi media telah menyatakan minat untuk membeli saham penerbit majalah bergengsi Time itu.

Miliarder Edgar Bronfman Jr disebut menjadi salah satu calon investor Time. Bronfman bersama miliarder Rusia Leonard Blavatnik dan pebisnis Israel Ynon Kreiz sempat menawar Time seharga US$ 18 per saham, bulan lalu. "Konsorsium Bronfman masih berminat membeli Time," jelas sumber itu.

Calon investor lain adalah Meredith Corp yang memiliki 17 stasiun televisi dan majalah, di antaranya Shape, Family Circle and Better Homes dan Gardens.

Pada Juli 2016, Time hampir menjual seluruh lini bisnis majalah. Namun, rencana ini batal lantaran sang induk usaha Time Warner Inc memutuskan untuk memisahkan bisnis (spin off) Time Inc.

Di awal tahun ini, Meredith sempat memproses merger dengan Media General Inc. Namun, kesepakatan tersebut kandas dan membuahkan uang batal merger senilai US$ 60 juta pada Juli 2016 bagi Meredith.

Penurunan pendapatan memaksa Time melakukan aksi korporasi penjualan aset. Pemilik Sports Illustrated, Time Magazine, dan InStyle ini membukukan pendapatan US$ 750 juta di akhir kuartal III, turun 3% secara tahunan.

Alhasil, Time merevisi proyeksi pendapatan tahun ini menjadi stagnan atau susut 1%. Padahal, semua mereka memproyeksikan pertumbuhan sebesar 1,5%.

Penurunan pendapatan iklan di bisnis media cetak jadi biang keladi penurunan kinerja. Tahun lalu, pendapatan iklan di media cetak turun 6,6% menjadi US$ 382 juta.

Nasib News Corp tak jauh beda. Mengutip Fortune, pemilik Wall Street Journal, Dow Jones Newswires dan penerbit buku HarperCollins ini membukukan penurunan pendapatan 2,4% jadi US$ 1,97 miliar per September 2016.

Konglomerasi media di Jerman Axel Springer pun melakukan aksi anorganik untuk mendongkrak kinerja di tengah penurunan iklan media cetak.

Pemilik suratkabar, majalah, televisi dan situs ini mengakuisisi 88% saham Business Insider. Axel Springer merogoh US$ 343 juta untuk meningkatkan kepemilikan saham di Business Insider menjadi 97 persen. kbc10

Bagikan artikel ini: