Harga komoditas dan suku bunga gobal bikin rupiah rentan bergejolak

Rabu, 14 Desember 2016 | 14:44 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkapkan harga komoditas dunia serta tingkat suku bunga global menjadi penyebab nilai tukar rupiah dan tekanan inflasi ke depan masih rentan bergejolak.

Ekonom dari Pusat Pembangunan Ekonomi (P2E) LIPI Maxensius Tri Sambodo dalam acara Economic Outlook 2017 bertajuk Menuju Pertumbuhan Ekonomi Inklusif yang Berdaya Saing: Strategi Penguatan Sektor Maritim Nasional, di Gedung LIPI, Jakarta, Rabu (14/12/2016), mengatakan perekonomian nasional memang tidak dapat dilepaskan dari dinamika ekonomi global yang faktanya belum bersahabat.

Mengingat berbagai tantangan dan kepentingan nasional dewasa ini tidak dapat dihindarkan dan harus dihadapi. Sehingga kondisi tersebut juga menjadi tantangan tersendiri terhadap perekonomian dalam negeri yang banyak dipengaruhi oleh kondisi pelamahan ekonomi dunia.

"Kondisi ketidakpastian Eropa setelah Brexit, ketidakpastian arah kebijakan ekonomi AS dengan presiden terpilih, perlambatan Tiongkok, serta dinamika harga komoditas akan menjadi tantangan eksternal yang perlu diperhitungkan juga oleh para pengambil kebijakan dalam menggerakkan roda perekonomian," kata Maxensius.

Hanya saja menurut Maxensius Indonesia masih dapat mendorong perekonomian domestik di tengah perlambatan ekonomi global dengan memaksimalkan potensi dalam negeri seperti optimalkan sektor maritim, sumber daya manusia, infrastruktur, dan tata kelola pemerintahan serta lembaga keuangan.

"Jadi pertumbuhan ekonomi tahun depan masih akan lebih bagus karena dukungan domestik. Sedangkan kondisi indikator makro ekonomi lainnya, seperti nilai tukar dan inflasi, masih rentan terhadap gejolak perubahan harga komoditas dunia khususnya energi dan pangan," ujarnya.

Maxensius menyatakan guna mengantisipasi gejolak perubahan harga komoditas internasional tersebut maka pemerintah harus terus komitmen malakukan konversi bahan bakar yang selama ini masih didominasi oleh minyak menjadi gas. Selain itu juga terus meningkatkan potensi ketahanan pangan.kbc11

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: