Kembangkan agrowisata, Sleman tawarkan delapan titik investasi ke pengusaha Jatim

Senin, 19 Desember 2016 | 16:27 WIB ET
Wakil Ketua Umum Bidang UMKM Kadin Jatim, M. Rizal
Wakil Ketua Umum Bidang UMKM Kadin Jatim, M. Rizal

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pemerintah Kabupaten Sleman berkomitmen mengembangkan potensi wisata alam di 2017. Untuk itu, kabupaten yang yeng terkenal dengan produksi salak pondohnya tersebut bertandang ke Jawa Timur dan menawarkam sejumlah titik investasi kepada pengusaha di Jatim. Sedikitnya, ada sekitar delapan titik investasi yang ditawarkan kepada pengusaha Jatim yang tergabung dalam organisasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim di Graha Kadin Jatim Surabaya, Senin (19/12/2016).

Ke delapan titik tersebut adalah wisata berbasis agro petualangan alam di Karang Wetan Berbah Sleman, wisata berbasis agro petualangan alam di dusun Kandangan Desa Margodadi Seyegan Sleman, Amenitas wisata restoran alam dan kolam ikan di dusun Guyangan, Desa Nogotirto Gamping Sleman dan di dusun Kanoman Desa Banyuraden Gamping Sleman serta pembenihan dan kolam ikan di dusun Kadirejo Purwomartani Kalasan Sleman.

Selain itu, ada juga investasi Pergudangan dan pengolahan Salak Pondoh di Dusun Jlegongan Desa Margorejo Tempel Sleman, wisata perbasis agro petualangan alam di desa Sumber Arum Mayudan Sleman dan pembenihan bunga Krisan di desa Hargobinangun Pakem Sleman.

"Kami memang tengah serius meningkatkan investasi di sektor agroturism atau wisata agro. Ini harus kami lakukan karena sejauh ini investasi yang mengalami pertumbuhan pesat di Sleman adalah sektor properti, hotel, perdagangan dan jasa. Dampak negatifnya, Sleman tidak lagi seperti dulu. Kota Sleman telah dipenuhi dengan gedung-gedung tinggi dan hotel. Padahal sebagai daerah di lerang Merapi, Sleman menjadi daerah resapan air yang harus mempertahankan ruang terbuka hijau yang ada," terang Kepala Bidang Penanaman Modal Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perijinan Terpadu Kabupaten Slema, Indriana Puji Lestari.

Dalam paparannya, Indriana juga mengjelaskan tentang potensi pengembangan ke delapan titik investasi tersebut beserta pasar dan nilai investasi yabg dibutuhkan. Untuk investasi ameritas wisata restoran dan kolam ikan di Guyangan Sleman misalnya, lahan yang telah disiapkan mencapai sekitar 1,5 hektar dengan nilai investasi yang dibutuhkan sekitar Rp 4,7 miliar. Sementara investasi untuk pembenihan bunga krisan investasinya mencapai sekitar Rp 30 juta selama tiga bulan dengan luas lahan sekitar seribu meter persegi.

"Pasar bunga krisan ini sangat besar. Saat ini, produksi disana hanya bisa mencukupi sekitar 10% dari kebutuhan di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Sementara kekurangan biasanya kami mengambil dari Ambarawa dan Bandung. Begitu juga dengan pengembangan pengolahan salak pondoh. Produksi salak pondoh di Sleman sangat besar, 30% untuk kebutuhan lokal Yogyakarya, 60% untuk kebutuhan nasional dan sisanya untuk diekspor dan lainnya. Saat musim panen raya, produksi melimpah dan harganya anjlok hingga Rp 3 ribu per kilogram. Makanya kami ingin ada investor yang mau berinvestasi pengolahan salak pondoh agar nantinya harga salak pondoh saat musim pamen tak lagi anjlok," katanya panjang lebar.

Pada kesempatan yang sama Wakil Ketua Umum Bidang UMKM Kadin Jatim, M. Rizal mengatakan bahwa pengusaha Jatim menyambut baik tawaran tersebut. Apalagi pihak Sleman dalam memaparkan program mereka sangat detail. Bahkan untuk lahan dan perijinan juga sudah dijamin kelancarannya. Karena seluruh lahan yang disediakan adalah lahan kas desa yang bisa disewa dengan harga yang relatif murah, hanya sekitar Rp 20 juta per hektar.

"Perijinan dan dukungan masyarakat sekitar juga dijamin tidak ada persoalan. Intinya ini sudah clear, sudah sangat jelas. Saya berharap, pengusaha Jatim meresponnya dengan baik, dan segera menjalin kerjasama dengan mereka," kata Rizal.

Sementara itu, salah satu pengusaha asal Malang, Owner Rodeo Fresh, Muhammad Maulud menyatakan sangat tertarik dengan tawaran tersebut dan akan segera menindaklanjutinya. Ia mengatakan sangat tertarik di sektor pengolahan salak karena kegiatan tersebut sejalan dengan bisnis yang sedang digelutinya, produsen sayur dan buah-buahan. Dan sekarang juga tengah mengembangkan ke bisnis olahan kripik seperti kripik nangka dan kripik salak.

"Saya mendapatkan permintaan kripik salak dari Korea dan luar pulau dan belum bisa memenuhinya. Makanya saya ingin segera ke Sleman untuk memastikan. Saya juga ingin mendiirikan plasma disana untuk mengembangkan salak pondoh organik untuk masuk pasar Jepang dan Amerika. Kalau Korea, Singapura dan Australia masih salak pondoh non organik," katanya.kbc6

 

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: